Sabtu, 27 Agustus 2011

Ketika Balita Ikut Mudik Di Atas Roda Dua...

sial
Oleh Sri Endang Susetiawati
Andai, anak balita itu sudah mengerti dan berani menyatakan pendapatnya. Amat mungkin mereka keberatan untuk ikut naik motor bersama orang tuanya saat mudik lebaran.
Betapa tidak, mereka berlama-lama diterpa oleh angin, debu dan panas terik matahari dalam perjalanan yang cukup jauh dan sangat melelahkan. Mudik lebaran dengan membawa balita di atas kendaraan sepeda motor, kembali banyak dijumpai saat kemarin dan hari ini.

Kemarin, saya sengaja berangkat ke Jakarta untuk memenuhi sebuah undangan acara para sahabat buka puasa bersama, dengan menyusuri jalan pantura. Hari ini, saya pun menggunakan jalan yang sama untuk  pulang.
Saya ikut merasakan denyut arus mudik, terutama saat terjebak kemacetan jelang memasuki simpang Jomin, atau jelang pintu keluar Cibitung hingga  Jatibening. Pulangnya lebih parah lagi, kemacetan terjadi hampir selama perjalanan sejak keluar tol Cikampek hingga di daerah Ciasem, Subang dan macet lagi di daerah sekitar Eretan, Indramayu.
Kendaraan hanya bisa melaju dengan merayap, sangat perlahan, hingga pemandangan para pemudik bermotor itu tampak semakin jelas. Ya, sebuah pemandangan biasa yang terjadi hampir setiap tahun itu kembali banyak terlihat di sepanjang jalan. Akan tetapi, menurut saya pemandangan itu tetaplah bukan hal yang  biasa.
Meletakkan balita di depan sang ayah yang mengemudikan motor, atau menempatkannya di tengah-tengah antara ayah dan ibu yang dibonceng, tetaplah merupakan pemandangan yang masih cukup memiriskan hati, khususnya saya sendiri.
Pertanyaannya, haruskah orang tua masih terus memaksakan diri untuk mudik lebaran dengan mengorbankan kesehatan anaknya yang masih balita? Meski di sepanjang jalan mereka sering berhenti untuk beristirahat, terutama di tempat teduh, saat mengisi bensin atau sekedar membeli makanan atau minuman di sebuah warung dadakan, menurut saya tetap saja si kecil dalam posisi yang sangat rentan bagi keselamatan dan kesehatannya.
Sudah maklum bersama, bahwa ada balita yang pingsan saat di tengah perjalanan. Bahkan ada balita yang meninggal dunia saat dalam pelukan, karena tidak tahan terpaan angin, panas dan debu saat dalam perjalanan.
Sang orang tua baru tahu anaknya meninggal saat berhenti untuk beristirahat, atau jelang sampai di tujuan, di kampung halamannya.  Kecelakaan yang merenggut nyawa sekeluarga yang berkendaraan roda dua pun tidak bisa dianggap sedikit terjadi pada mudik lebaran tahun-tahun sebelumnya.
Artinya, mudik lebaran dengan kendaraan roda dua saja, sudah sangat beresiko dari segi keselamatan. Apalagi dengan membawa balita. Setidaknya, ada dua kejadian yang sempat saya saksikan hari ini. Motor mereka terjatuh di jalan karena saling bersenggolan. Mungkin, masih beruntung, kecelakaan itu dianggap tidak terlalu parah, sehingga tidak menimbulkan korban yang cukup serius.
Dalam kaitan inilah, masalah mudik lebaran sudah saatnya untuk dipikirkan kembali oleh para orang tua. Adakah cara lain mudik lebaran, namun tetap lebih mengedepankan keselamatan, khususnya bagi anak-anak mereka yang masih balita?
Jika, pertimbangannya karena faktor ekonomi, mungkinkah, mudik lebaran bisa ditunda, menunggu saat usai waktu mudik tiba. Tentu saja, biaya yang akan dikeluarkan dengan menaiki kendaraan lain, seperti bis atau kereta akan jauh lebih terjangkau, karena tidak terkena kenaikan biaya tooslag.
Sekali lagi, saya hanya ingin berpendapat bahwa mudik lebaran, untuk bisa hadir saat hari-H Idul Fitri di kampung halaman, bukanlah segala-galanya. Jika keadaan tidak terlalu memungkinkan, tentu saja tidak harus selalu dipaksakan.
Bisa saja menundanya, untuk beberapa hari usai idul fitri. Bahkan, bisa saja menunda mudik untuk dua atau tiga kali idul fitri, dengan tetap bisa melakukan komunikasi melalui telepon atau bingkisan lebaran melalui jasa ekspedisi. Esensi berlebaran, tak lain adalah mempererat silaturahmi, dan saling memohon maaf,  serta saling memaafkan.
Bagaimana dengan pendapat Anda? *** By Srie
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar