Minggu, 21 Agustus 2011

Lailatul Qodar: Malam Penentuan, Malam Kedamaian...

Oleh Sri Endang Susetiawati
Sudah menjadi tradisi, saat memasuki hari yang ke 21 di bulan Ramadhan banyak umat Islam yang bersengaja untuk menahan tidur saat malam. Mereka, seolah berburu malam Lailatul Qodar dengan berdiam diri (i’tikaf) di sejumlah masjid atau mushola, secara bersama-sama.

Pertanyaannya, haruskah kita berburu, dan dilakukan secara bersama-sama? Tentu saja tidak harus. Malam Lailatul Qodar akan mendatangi mereka yang memang layak didatangi, tanpa harus terkesan “memaksakan diri” untuk berburu dengan beramai-ramai.
Bahkan, menurut hemat saya pribadi akan jauh lebih efektif beri’tikaf secara sendirian, dibandingkan bersama-sama. Di rumah sendiri pun tidak masalah. Mengapa? Karena, dalam kesendirian suasana khusyu’ akan jauh lebih terasa.  Dalam keheningan menyendiri, kejujuran diri akan jauh lebih terbuka.
Sempatkan, minimal untuk beberapa kali saja. Duduk menyendiri di atas sajadah saat malam tiba.  Usai sholat malam. Ucapkan lafadz dzikir. Bacalah ayat-ayat al-Qur-an. Bermohonlah pengampunan pada-Nya. Berdoalah demi kebaikan diri, dan orang-orang yang dikasihi.
Malam Lailatul Qodar adalah malam penentuan. Rasakan. Malam penentuan. Malam, ketika para malaikat, termasuk Jibril, turun ke bumi. Hendak mengurus segala sesuatu yang telah ditentukan.
Malam penentuan. Ketika hati kita dipertanyakan. Apakah hati ini masih terang memancar, ataukah telah redup menuju kegelapan? Hati yang terang penuh cahaya, adalah hati nurani, hati yang memancarkan cahaya imani. Hati yang redup cenderung gelap, adalah hati zhulmani, hati yang jauh dari cahaya imani. Malam penentuan, apakah diri ini masih tergolong sungguh-sungguh beriman?
Malam Lailatul Qodar adalah malam kedamaian. Rasakan. Malam kedamaian. Malam yang jauh lebih baik dari seribu bulan. Malam kedamaian, ketika hati di dada merasa lapang dan lebih ringan. Perasaan damai, tenang... begitu terasa hingga terbit fajar.
Kedamaian hanya ada pada hati yang bersih, jujur dan ikhlas. Ketenangan, akan menjauh dari hati yang kotor, penuh noda,  dan bergelimang dosa. Hati yang kotor akan membuatmu gelisah, begitu terasa berat, sesak di dada, dan merasa tidak nyaman dalam perasaan.
Begitulah, hanya jiwa yang damai, yang saatnya nanti akan dipanggil oleh Tuhan. Hanya jiwa yang tenang yang akan masuk ke dalam surga-Nya, melalui pintu kematian. Hanya kata-kata “salam... salam.... damai... damai..” yang akan sering terdengar saat nanti mereka berada di surga-Nya.
Maka, peliharalah selalu hati yang pasrah, tenang dan damai. Bukan hati yang selalu gelisah, kecewa dan penuh amarah. Buatlah hatimu agar selalu lembut, tenang dan damai. Karena, darinya akan memancarkan segala kebaikan, ketenangan dan kedamaian pula bagi sesama.
Sungguh, demikianlah Islam sejatinya memang berarti damai. Islam mengajarkan kedamaian di hati para pemeluknya. Islam seharusnya menyebarkan kebaikan dan kedamaian untuk sesama umat manusia di seluruh dunia.
Maka, sambutlah malam penentuan bagimu. Jumpai, malam kedamaian bagi kita semua. Semoga, Lailatul Qodar berkenan singgah di hati kita. Amiin... *** By Srie
Salam Perdamaian
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar