Jumat, 19 Agustus 2011

Merdeka, dari Korupsi!

Oleh Srie
Banyak orang yang menganggap sudah eneg, merasa ingin muntah saat mengetahui berita tentang kasus korupsi Nazarudin. Banyak di antara kita yang sudah merasa kebal atau biasa-biasa saja, hampir tanpa reaksi sedikitpun saat praktek korupsi kembali terungkap di negeri ini. Semua, banyak yang sudah merasa muak, ingin membuangnya jauh-jauh hingga menimbulkan sikap apatis, masa bodoh, sinisme hingga ketidakpercayaan sama sekali terhadap para penguasa di negeri ini.


Sangat wajar. Berbagai reaksi yang berkonotasi negatif adalah keniscayaan. Pesimisme yang akut merupakan bagian dari sikap oposan. Sesuatu yang dianggap pilihan terakhir, manakala pilihan lain dianggap hampir mustahil. Kebenaran, menjadi sesuatu yang amat muskil dapat ditegakkan di negeri ini saat kepentingan konspirasi para pemegang kekuasaan tengah bancakan, merampok uang rakyat tanpa harus banyak keluar keringat.
Padahal, korupsi sejatinya tidak semata-mata perampokan uang negara. Lebih dari sekedar itu, korupsi akan melanggengkan sistem politik, hukum dan sosial yang kian rapuh tanpa dasar nilai yang kuat, kecuali nilai curang untuk memperkaya diri sendiri. Dalam jangka panjang, korupsi pada akhirnya akan melahirkan budaya korup yang amat mungkin secara perlahan akan menenggelamkan kapal besar bernama Indonesia.
Masih dalam semangat 17-an, ketika negeri ini memperingati proklamasi kemerdekaan yang ke-66. Untuk apa merdeka? Untuk dijadikan sebagai jembatan emas, menuju pencerdasan bangsa dalam meraih tingkat kehidupan rakyat yang adil, makmur dan sentosa. Untuk itu semua, para pejuang bangsa rela melakukan sumbangan tenaga, harta, derita, tetesan darah dan kehilangan banyak nyawa untuk menebusnya.
Kita yakin, negeri ini punya sumber daya alam yang cukup melimpah. Kita amat mudah menunjukkan bahwa negeri ini memiliki sumber energi yang memadai, lengkap dan beragam. Jelas, kita dapat berbangga diri bahwa negeri ini tercatat sebagai penduduk terbesar ke-empat di dunia, dengan segala potensi yang melekatnya.
Apa yang kita butuhkan? Adalah adanya cara pengelolaan bangsa yang cerdas, efektif dan efisien, sehingga bukan hanya mampu mencapai target-target nasional, namun juga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kita sangat membutuhkan adanya sistem politik, hukum dan sosial budaya yang sangat kondusif untuk meraih kesemuanya itu. Kita sangat membutuhkan sistem pemerintahan yang bersih, efektif, dan dapat dapat dipercaya.  Tentu saja, kita sangat membutuhkan pribadi-pribadi anak negeri yang cakap, berintegritas tinggi, mau mendengar dan benar-benar bersedia untuk memperjuangkan nasib rakyat.
Korupsi adalah racun bangsa yang sangat mematikan. Secara perlahan, korupsi akan melumpuhkan sendi-sendi bangsa, meruntuhkan pilar-pilar kehidupan bernegara, dan akhirnya akan benar-benar merampas masa depan rakyatnya. Upaya pencerdasan hanya tinggal omong kosong. Usaha mengentaskan kemiskinan, hanya sebatas slogan. 
Karena, korupsi akan tumbuh kian subur di atas kehidupan rakyat yang masih banyak yang bodoh dan miskin. Dan, para koruptor akan sangat merasa senang menari-menari dengan kemewahan di atas penderitaan rakyat yang kebanyakan bodoh dan miskin. Sebuah pengingkaran nyata dari cita-cita kemerdekaan bangsa.
Tampaknya, bangsa ini benar-benar perlu merdeka dari korupsi.***[Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar