Minggu, 28 Agustus 2011

Mudik Idul Fitri: Alasan Silaturahmi, Lalu Apa Lagi?

Oleh Sri Endang Susetiawati
Ada apa dengan lebaran Idul Fitri? Belasan juta orang bergerak pada saat yang hampir bersamaan menuju kampung halaman. Selama beberapa hari, kemacetan mewarnai jalanan di sepanjang jalan lintasan arus mudik.
Ribuan bis-bis besar, kendaraan pribadi, dan sepeda motor yang menyemut terlihat mengangkut ratusan ribu orang pemudik setiap hari. Keramaian banyak orang yang hendak mudik di sejumlah terminal, stasiun, pelabuhan atau bandara, kian memperjelas bahwa arus mudik itu memang ada.  

Sungguh, sebuah pemandangan yang hampir jarang dapat ditemui. Kecuali, amat mungkin hanya terjadi di negeri ini. Mudik lebaran Idul Fitri, memang telah sangat lama menjadi tradisi.
Jelang hari lebaran pada tanggal 1 Syawal. Mereka seolah terfokus. Tidak ada lagi hal yang paling penting, kecuali dapat mudik lebaran di kampung halaman. Berbagai upaya pun mereka usahakan, walau harus ditempuh dengan segala “perjuangan”.  
Tidak peduli lagi harus ditebus dengan rasa capek, keringat keluar, atau biaya mahal. Banyak peristiswa kecelakaan sepanjang perjalanan yang tidak sedikit menelan korban, seolah hampir begitu saja diabaikan. Suka atau tidak suka, lebaran Idul Fitri memang memiliki daya magnetik yang sangat kuat, dan luar biasa.
Hampir seluruh pihak menaruh perhatian, dan dibuat sibuk untuk terlibat di dalamnya. Mulai dari aparatur kepolisian, jajaran perhubungan, pemerintah daerah, hingga presiden dan para pengamen ikut terlibat dalam tradisi tahunan ini. Berbagai media pun dengan penuh semangat ikut memberitakannya. Para pedagang asongan, termasuk penjaja dagangan di warung dadakan, juga ikut ambil bagian.
Lantas, ada apa dengan tradisi Idul Fitri? Katanya, agar dapat bersilaturahmi. Agar dapat menyempatkan diri untuk saling bertemu orang tua, saudara terdekat, para tetangga, dan handai tolan. Agar dapat menyengajakan diri untuk saling memohon maaf dan memaafkan, jika ada kesalahan.
Pertanyaannya, sungguhkah hanya karena faktor silaturahmi? Merekalah yang dapat menjawabnya. Sadar atau tidak sadar, tampaknya masih banyak lagi motivasi berlebaran, selain untuk bersilaturahmi. Entah, untuk beraktualisasi diri ingin menunjukkan siapa diri ini, atau sekedar ingin relaksasi, untuk sementara melupakan diri dari kepenatan dan beban hidup sehari-hari. Bahkan, bisa jadi ada politisasi, untuk kepentingan kelompok dan diri sendiri.
Tanyakan pada mereka yang ikut bermudik ria. Atas alasan apakah mereka mudik lebaran, selain bersilaturahmi? Amat mungkin, banyak di antara mereka yang akan tergagap untuk menjawabnya. Sangat mungkin, lebih banyak lagi di antara mereka yang sekedar terbawa arus tradisi semata.
Benarkah, itu semua? Entahlah. Apapun itu alasannya, semoga tradisi mudik akan tetap membawa kebaikan bagi mereka, menumbuhkan sikap saling peduli, dan mampu mendorong kemajuan bagi segenap bangsa.*** By Srie
Salam Mudik Lebaran
Srie
 

1 komentar: