Selasa, 16 Agustus 2011

Puasa Ya, Korupsi Jalan Terus..... Umroh Lagi!

Oleh Srie
Masih ingatkah saat M. Nazarudin, tersangka KORUPSI dan buronan KPK, ditangkap di Cartagena, Kolombia? Katanya, ia dalam keadaan sedang berPUASA. Tentu saja, amat mungkin ia masih melakukan SHOLAT  lima waktu setiap hari.

Suatu hal yang biasa, tatkala seorang pemeluk agama mengamalkan ajaran agamanya. Seorang muslim melaksanakan sholat atau puasa adalah hal yang wajar, dan biasa-biasa saja. Akan tetapi, ketika praktek ritual ajaran agama dikonfrontir dengan prilaku korupsi yang dilakukannya masih amat mungkin membuat kita geleng-geleng kepala. Amat mungkin, kebiasaan melaksanakan sholat atau puasa telah dilakukan jauh-jauh hari sebelum korupsi dilakukan, atau bahkan hampir secara bersamaan dilakukan.
Pertanyaannya, “Kok, bisa ya?”. Sholat dan puasa rajin dilaksanakan, tapi perilaku korupsi tetap jalan terus. Apanya yang salah? Lantas, dimana fungsi sholat sebagai pencegah berbuat keji dan munkar? Bukankah, korupsi adalah jelas-jelas perbuatan yang sangat keji dan munkar? Lalu, dimana dampak dari puasa? Bukankah, puasa berlatih untuk menahan diri dari hal-hal yang terlarang, termasuk korupsi?
Sejumlah rangkaian pertanyaan di atas, seolah kian menegaskan sebuah slogan sembarangan : “Islam Yes, Korupsi Yes!”. Beragama, tapi kurang memiliki dampak signifikan atas pencegahan praktek perilaku keji, seperti KORUPSI. Perhatikanlah, bagaimana mereka yang tersangkut perkara korupsi, akhir-akhir ini seringkali akrab dengan kegiatan umroh ke tanah suci. Apapun alasannya, tentu saja telah memberikan persepsi yang cukup negatif. Setidaknya, meski agak terbatas, telah menimbulkan adanya sinisme pada istilah “UMROH” sendiri.
“Kok, tiba-tiba dia berangkat umroh ya? Pantesan, dia sedang tersangkut perkara korupsi. Eh, dia tuh lagi menghadapi kasus korupsi, sebentar lagi mau umroh deh...” demikian, sindiran ringan di antara para kawan.
Tampaknya, diperlukan lebih dari sekedar pemahaman atas ajaran agama. Karena, amat mungkin, mereka yang melakukan praktek korupsi sudah sangat hapal dan paham di luar kepala. Bahwa korupsi adalah sesuatu yang sangat terlarang dalam ajaran agama manapun. Lantas, mengapa korupsi masih tetap saja dilakukan dengan perasaan yang ringan, bahkan hampir tidak merasa berdosa sama sekali?
Ada masalah budaya. Kemuliaan seseorang masih diukur dengan kemampuannya berbagi harta, sumbangan atau sedekah, tanpa peduli dari mana harta itu diperoleh. Masyarakat seakan sangat permisif, tak peduli lagi apakah seseorang yang telah berbagi harta dilakukan secara wajar ataukah tidak wajar. Penghormatan pada seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa besar derma yng diberikan, tak peduli derma itu berasal dari uang haram.
Praktek korupsi, dengan demikian, akan masih tumbuh subur di tengah budaya masyarakat yang longgar dan serba boleh terkait asal usul harta yang wajar. Celakanya, fungsi ritual keagamaan kemudian digunakan sebagai pelengkap simbolik atas kemuliaan seseorang yang berperilaku korup tersebut. Termasuk, saat bulan puasa, di mana ada ruang yang sangat terbuka dalam pemanfaatan momen puasa sebagai “pameran amal kebaikan”. Masyarakat pun menerimanya dengan bangga. Asas manfaat, tampaknya menjadi di atas segala-galanya.
Sebuah kondisi budaya yang kian melengkapi, ketika upaya penegakkan hukum kurang memberi efek jera bagi pelaku korupsi. Upaya pemiskinan pelaku korupsi, memperberat hukuman hingga hukuman mati, dan pemberian sangsi sosial atas mereka, tampaknya masih amat jauh dari yang diharapkan. Sebuah keadaan bak lingkaran setan, ketika praktek korupsi telah menjerat struktur kekuasaan, hukum, sosial dan budaya, yang kian tak jelas ujung pangkalnya.
Kita hanya bisa berharap. Semoga, optimisme dalam memerangi korupsi masih ada di negeri ini. *** [by Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar