Kamis, 04 Agustus 2011

Refleksi Puasa : Tentang Harapan

Oleh Srie
Mengapa kita mau melaksanakan puasa ? Salah satu alasannya, adalah karena kita punya harapan. Dengan berpuasa kita berharap Tuhan mau menerima amal kebaikan kita dengan memberikan ganjaran yang berlipat ganda. Dengan berpuasa kita berharap agar Tuhan bersedia mengampuni segala dosa kita. Dengan berpuasa kita berharap dapat terbebas dari siksa api neraka. Artinya, pun kita berharap kelak akan masuk surga.

Harapan, memang salah satu kata kunci penting dalam hidup kaum beragama. Ajaran agama hadir di tengah umat manusia dengan membawa harapan (bashiro) dan peringatan (nadhiro). Harapan memang amat terkait dengan peringatan. Mengapa ? Karena harapan akan tetap terjaga manakala peringatan itu diindahkan oleh umat manusia.
Berkendara di atas jalan yang ramai, kita berharap dapat sampai ke tujuan dengan selamat. Akan tetapi, harapan selamat sampai tujuan hampir mustahil dapat diraih manakala kita mengabaikan sejumlah peringatan tentang bagaimana berkendara yang baik. Anggaplah kita berkendara di atas kendaraan yang remnya tidak berfungsi, atau berjalan tidak di sebelah kiri, menerobos lampu merah, hingga berkendara secara ugal-ugalan.
Harapan, memang amat terkait dengan bagaimana kita mematuhi segala apa yang diperingatkan. Jika harapan itu berdimensi hak bagi kita, maka peringatan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh kita. Kita punya hak untuk berharap, manakala kita pun mampu menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya agar harapan itu amat mungkin untuk dapat diraih.
Keselarasan antara hak dan kewajiban menjadi amat penting agar harapan menjadi masuk akal, dan bukan sebuah angan-angan. Karena, hampir tidak mungkin kita akan memperoleh hak atau harapan yang lebih baik manakala kita sama sekali tidak bersedia melaksanakan kewajiban. Tentu saja, kewajiban bisa berarti segala sesuatu yang harus dipenuhi atas hak diri sendiri, atas hak orang lain dan atas hak Tuhan. Harapan hampir tidak ada artinya manakala kita tidak berusaha untuk memenuhi hak-hak tersebut.
Harapan, juga terkait dengan batas waktu. Hampir mustahil kita berharap dengan tanpa batas waktu. Itulah, mengapa puasa dibatasi waktunya, yaitu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Harapan akan ada pada batas waktu yang berada di depan, bukan batas waktu di belakang. Terbenamnya matahari atau biasa disebut saat maghrib, merupakan harapan bagi mereka yang berpuasa.
Setelah sekian lama, kita berpuasa dengan menahan lapar dan haus, maka akan ada saatnya kita berharap dapat kembali makan dan minum saat maghrib. Harapan itu kian membuncah, saat waktu kian mendekati azan maghrib. Hingga, tepat saat yang ditunggu-tunggu itu datang, kegembiraan akan segera terluapkan. Mengapa ? Karena harapan itu telah dianggap berhasil untuk diraih. Ya, setidaknya harapan untuk dapat makan minum kembali telah dapat terwujud.
Kaum beriman, memang dilatih untuk selalu memiliki harapan. Mengapa ? Karena, hampir tak terbayangkan apa jadinya apabila hidup tidak memiliki harapan. Hidup akan menjadi muram, tidak bergairah dan jauh dari makna kebahagiaan. Itulah, mengapa agama mengajarkan tentang larangan kaum beriman berputus harapan (putus asa). Bahkan, sikap berputus harapan hanya layak dimiliki oleh kaum kafir, kaum yang menutup atas segala rahmat yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Sangat benar, bahwa harapan juga terkait dengan sikap beriman (percaya). Tanpa sikap percaya, maka hampir mustahil akan dapat timbul harapan pada diri seseorang. Sikap percaya, bisa berupa percaya pada diri sendiri, pada kemampuan diri sendiri dalam meujudkan harapannya. Itulah, maka amat penting adanya sikap percaya diri terkait dengan harapan yang akan diraih.
Sikap percaya, juga bisa berupa percaya pada orang atau pihak lain yang akan mampu untuk membantu dalam mewujudkan harapan bagi dirinya. Mereka, bisa saja adalah teman, saudara, atau pemerintah yang akan membantu menerbitkan harapan. Saling percaya antar sesama, dan percaya pada institusi pemerintahan amat berpengaruh atas harapan yang akan tergambarkan.
Lantas, bagaimana dengan mereka yang hidupnya hampir tidak memiliki harapan ? Itulah ladang bagi kaum beriman untuk beramal baik (amal shalih). Itulah, saat puasa Tuhan menganjurkan kaum beriman agar lebih banyak berbuat baik, seperti berinfak, bersedekah, hingga berzakat fitrah. Agar mereka yang hampir tuna harapan (hopeless) kembali memiliki harapan dan semangat dalam hidupnya. 
Tentu saja, akan lebih baik lagi bila upaya memulihkan harapan mereka dilakukan secara permanen. Artinya, kita memberikan harapan, tidak hanya dalam jangka waktu yang sesaat atau temporer. Diperlukan upaya-upaya yang lebih cerdas dan sungguh-sungguh agar harapan yang lebih permanen, menjadi miliki kaum yang selama ini belum beruntung.
Adalah tugas dan kewajiban kita bersama, untuk dapat berbagi harapan pada mereka. Tentu saja, terlebih lagi merupakan tugas dan kewajiban bagi mereka yang saat ini memegang amanah, mereka para pemimpin negeri ini. Hanya dengan hidup yang penuh harapan, maka hidup ini amat mungkin berbahagia. Sebaliknya, hidup yang tanpa harapan hanya akan mengarahkan pada beban kesengsaraan.
Harapan, memang perlu terus dipelihara. Agar tidak berbuah kecewa. Mengapa ? Karena, bagaimanapun harapan tetaplah memiliki batasnya. Tugas dan kewajiban kita bersama agar harapan itu tetap tumbuh subur dan berkembang. Terlebih lagi, adalah tugas dan kewajiban para pemimpin di negeri ini, agar harapan masyarakat tidak berubah menjadi kecewa.
Semoga, puasa akan makin memberi keinsyafan bersama mengenai pentingnya memelihara harapan bersama. Harapan, akan selalu memiliki batas waktu dan ada batas percaya. Kapankah batas antara harapan dan kekecewaan itu akan terlampaui di negeri ini ? Saat waktunya dianggap telah habis, saat sikap percaya berubah menjadi ketidakpercayaan yang bersifat masal. Wallahu a’lam bishowwab.*** By Srie.
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar