Rabu, 17 Agustus 2011

Satu Minggu Jelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


Oleh Sri Endang Susetiawati
Tanggal 9 Agustus 1945 tiga pemimpin bangsa Indonesia dikirim ke Dallat, sebuah kota yang terletak 300 km sebelah utara Saigon, Vietnam. Mereka adalah Soekarno, M. Hatta dan Radjiman Wediodiningrat dalam kapasitasnya sebagai Ketua, Wakil Ketua PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan mantan Ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Tujuannya adalah menemui Marsekal Terauchi Hisaichi, seorang Panglima Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara di tempat Markas Besar-nya.
Pertemuan dengan Terauchi yang saat itu sedang menderita sakit lumpuh berlangsung singkat, namun khidmat. Wajahnya yang muram, dikarenakan sakit dan gawatnya keaadaan Perang Asia Pasifik tidak dapat ditutupi. Saat jamuan makan, Terauchi masih sempat berkelakar. Ia menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia pasti akan segera terjadi. Lalu menanyakan kepada Hatta,”Indonesia sudah akan merdeka, kapan akan menikah?”.  Hatta tidak menjawab, mukanya tampak memerah. Karena dalam benaknya tidak sempat terpikir sama sekali, kecuali kemerdekaan Indonesia.
Saat kepulangannya ke Jakarta, mereka menerima berita mengenai serangan tentara Rusia di Mancuria, kemudian Singapura sedang dibom oleh tentara Sekutu, yang menyebabkan pesawat harus mendarat terlebih dahulu di Taipin (Malaya). Baru, pada petang harinya, tanggal 13 Agustus 1945 mereka sampai di Singapura, dan keesokan siangnya (14 Agustus) tiba di Bandara Kemayoran, Jakarta.
Tanpa ada jeda istirahat dulu, mereka langsung diminta menghadap Gunseikan untuk melaporkan hasil pertemuan di Dallat, sambil makan siang. Pada kesempatan itu, pemerintah Balatentara Jepang kembali menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia semata-mata tergantung pada kesiapan PPKI. Sebuah pernyataan yang memberikan harapan, namun sekaligus pula bercampur dengan kecemasan. Mengapa? Karena, hanya beberapa saat kemudian usai Hatta tiba di rumah, Sjahrir memberitahukan bahwa Jepang sudah minta berdamai alias menyerah kepada Sekutu.
Atas dasar informasi itulah, maka Sjahrir mendesak agar kemerdekaan Indonesia segera dinyatakan oleh Soekarno atas nama bangsa Indonesia. Menurut Sjahrir, dengan kemenangan Sekutu, Indonesia yang merdeka hendaknya terbebas dari pengaruh dan rencana Jepang. Jika tidak demikian, maka kemerdekaan Indonesia akan dicap sebagai made in Japan, yang akan dihapuskan oleh Sekutu di kemudian hari. Sebagai gantinya, Indonesia akan diserahkan kembali kepada pihak Belanda sebelum Perang Pasifik pecah.
Bagaimana reaksi Hatta? Ternyata, Hatta kurang setuju atas pendapat Sjahrir. Menurutnya, Soekarno dan dirinya masih terikat sebagai Ketua dan Wakil Ketua PPKI. Benar saja, saat malamnya menemui Soekarno, usulan Sjahrir yang banyak didukung oleh kalangan pemuda dan mahasiswa itupun ditolak oleh Soekarno.  
Lagi pula, keesokan lusanya (16 Agustus), sudah dijadwalkan akan diadakan rapat PPKI. Jika menerima usulan Sjahrir, menurut Sokarno dan Hatta berarti mengabaikan pihak lain yang telah terlibat dengan tulus penuh pengabdian dalam rapat-rapat di PPKI. Di luar itu, ada pertimbangan lainnya. Yakni, pengumuman kemerdekaan tanpa sepengetahuan Jepang, berarti menghadapkan rakyat pada kemungkinan tindak kekerasan dari tentara Jepang yang saat itu masih memegang persenjataan lengkap.
Tuntutan para pemuda agar kemerdekaan segera dinyatakan tanpa keterlibatan Jepang melalui PPKI, kembali disuarakan pada keesokan harinya (15 Agustus) di rumah Soekarno. Sejumlah pemuda yang dipimpin oleh Wikana, pembantu Achmad Subardjo, mendesak keras kepada Soekarno agar segera mengumumkan kemerdekaan. Pembicaraan antar dua kubu berlangsung sangat keras dan tegang. Namun, Soekarno, Hatta dan Soebarjo tetap pada pendiriannya bahwa soal proklamasi kemerdekaan harus dibicarakan terlebih dahulu dengan PPKI. Meskipun, mereka tahu bahwa Jepang telah menunjukkan tanda-tanda menyerah pada Sekutu. Informasi mengenai menyerahnya Jepang ini diperoleh Hatta dan Soebardjo, saat pagi sebelumnya mengunjungi kantor Gunseikanbu yang telah kosong, dan keterangan Laksamana Maeda yang ditemuinya tidak memberikan kejelasan.
Perbedaan pendapat antara kelompok pemuda dan Sokarno-Hatta tidak menemukan titik temu. Tanggal 16 Agustus 1945, saat hari masih pagi buta, Soekarno dan Hatta akhirnya dipaksa oleh para pemuda untuk keluar kota menuju Rengasdengklok (Karawang), sebuah tempat asrama PETA yang terletak 75 Km sebelah timur Jakarta. Alasan yang digunakan oleh para pemuda adalah karena pada hari itu revolusi akan pecah, dimana para pemuda akan menggempur besar-besaran kepada pemerintahan tentara Jepang. Sehingga, Fatmawati bersama anaknya, Guntur, yang baru berusia 9 bulan pun ikut dibawa ke Rengasdengklok.
Namun, apa yang terjadi? Ternyata, rencana para pemuda untuk menggempur Jepang tidak pernah terjadi. Rencana rapat PPKI pada hari itu juga, jam 10 pagi pun gagal dilaksanakan, karena Soekarno Hatta tidak berada di Jakarta. Para pemuda pun kian sadar bahwa tanpa kehadiran Soekarno-Hatta, mereka tidak dapat berbuat banyak. Termasuk, mereka pun tidak dapat menjawab saat Hatta mengusulkan pada mereka agar mencari pemimpin lain di luar Soekarno-Hatta,  yang bersedia untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa melalui PPKI.
Akhirnya, berkat usaha Subardjo yang berusaha menghubungi tokoh-tokoh pemuda dan pihak Angkatan Laut Jepang, maka Soekarno-Hatta dapat kembali ke Jakarta pada saat malam hari itu juga. Saat itu Soebardjo berusaha untuk memberikan pengertian pada para pemuda. Bahwa justru dengan cara yang dilakukan oleh mereka, maka proklamasi kemerdekaan kian menjadi tertunda-tunda.
Sesampainya di Jakarta, Soekarno dan Hatta dihadapkan pada pekerjaan yang menuntut kegesitan untuk segera mempersiapkan proklamasi kemerdekaan. Ada tiga pihak yang harus dipertimbangkan saat hendak melakukan pengumuman kemerdekaan. Yaitu, pihak Sekutu yang pasti akan mengembalikan Indonesia pada Belanda, pihak Jepang yang akan tunduk pada syarat-syarat perdamaian saat penyerahan kekuasaan kepada Sekutu, dan pihak pemuda Indonesia yang telah dijanjikan akan dilaksanakannya proklamasi.
Waktu kian sempit. Jam 8 malam Soebardjo menghubungi para anggota PPKI untuk mengadakan sidang yang bertempat di rumah Laksamana Maeda. Saat malam itu pula, Soekarno dan Hatta didampingi oleh Maeda menemui Somubucho (Kepala Pemerintahan Umum), Mayjen Nishimura, melalui Miyoshi, atas permintaan Nishimura sendiri. Pertemuan berlangsung sangat tegang. Hal ini dikarenakan pendirian pihak Jepang sesuai dengan syarat-syarat kekalahan mereka terhadap Sekutu. Bahwa sejak jam 1 siang, mereka diwajibkan untuk menjaga status quo hingga menunggu kedatangan tentara Sekutu.
Artinya, PPKI tidak dibenarkan untuk berkumpul mengadakan rapat, apalagi sebuah perkumpulan untuk menyelenggarakan proklamasi kemerdekaan.  Singkatnya, sejak saat itu semua pihak tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun, dan segala sesuatunya harus berjalan seperti sebelum jam 1 siang. Sebuah keadaan yang sama sekali tidak dapat diterima oleh para pemimpin Indonesia.
Saat itu, Hatta tidak dapat lagi menahan diri ketika mendengar ucapan Nishimura. Dengan suara keras dan marah, Hatta mengingatkan Nishimura pada semangat samurai (ksatria) Jepang yang selama itu dipompakan kepada bangsa Indonesia. Bahwa, menurut Hatta, tidak seharusnya kekalahan Jepang melemahkan hati para tentaranya, apalagi harus “menjilat” musuh atau bekas musuhnya sendiri. Saat itu juga, Soekarno dan Hatta secara tegas menyampaikan pendiriannya bahwa mereka akan berjalan terus sesuai dengan rencana.
Selanjutnya, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda, untuk mempersiapkan proklamasi bersama anggota PPKI dan sejumlah tokoh pemuda yang hadir saat itu.  Agenda yang dibahas adalah mengenai teks proklamasi, penandatanganan teks, pembacaan teks, waktu dan tempat pembacaan teks. Pembicaraan berlangsung cukup alot, hingga baru pada sekitar jam 3 pagi teks proklamasi disepakati.
Perdebatan sempat muncul lagi saat siapa yang akan menandatangani teks proklamasi. Hatta mengusulkan agar teks ditandatangani oleh semua pihak yang hadir, mencontoh saat proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat. Ternyata, usulan Hatta tersebut ditolak oleh tokoh pemuda, seperti Sukarni. Menurutnya, sudah seharusnya teks proklamasi tidak ditandatangani oleh mereka yang kebetulan hadir, namun dianggap tidak memberikan sumbangan berarti bagi kemerdekaan, termasuk bagi mereka yang saat itu menjadi pegawai pemerintahan Jepang.
Setelah melalui lobbying yang dilakukan oleh Sajuti Melik, akhirnya diperoleh kesepakatan. Yaitu, penandatanganan teks proklamasi hanya dilakukan oleh dua orang saja, Soekarno dan Hatta, sebagai wakil-wakil rakyat Indonesia. Selanjutnya, mengenai tempat pembacaan teks proklamasi, sempat muncul perdebatan mengenai usulan tempat di Lapangan Ikada. Soekarno langsung mengingatkan untuk dilakukan di halaman rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, tepat pada pukul 10 pagi hari  itu juga. Rapat pun berakhir sebelum jam 4 pagi, dimana mereka yang beragama Islam masih sempat untuk melakukan makan sahur puasa.
Hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945, tepat jam 10 pagi, di saat bulan Ramadhan, pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pun akhirnya berlangsung sesuai rencana. Lagu Indonesia Raya berkumandang mengiringi pengibaran bendera merah putih yang dibuat oleh Fatmawati dalam keadaan tergesa-gesa. Indonesia pun menyatakan kemerdekaannya.
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l. diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ‘05
Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/Hatta

DIRGAHAYU KE 66 INDONESIAKU....... ***by Srie
Salam Persahabatan
Srie


Catatan sumber rujukan :
1. Mohammad Hatta, Biografi Politik (Deliar Noer)
2. Denyut Nadi Revolusi (Taufik Abdullah, pengantar, dkk)
3. Sejarah Nasional Indonesia VI (Noegroho Notosoesanto, dkk)
4. Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan (Bernhard Dahm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar