Sabtu, 24 September 2011

Cerber Empal Gentong (4): Kaleng di Gubug Kumuh


Oleh Sri Endang Susetiawati
Fia melihat dan mendengar langsung rangkaian gerbong kereta bergerak cepat dari jarak yang sangat dekat. Ia biarkan telinganya tertusuk-tusuk kuat oleh suara bising kereta yang amat sangat. Ia mulai terbiasa dengan ketidakbiasaannya yang baru. Meskipun, harus dengan sangat terpaksa. Langsung saja, ia merekam kembali kehidupan penghuni liar di pinggir lintasan rel kereta api.
Si ibu terlihat hendak masuk ke dalam gubugnya, yang terbuat dari kayu bekas, dengan atap seng yang telah berkarat dan bermotif warna rupa pakaian-pakaian tua yang sedang dijemur. Dindingnya berbalut karton dus bekas serta kain bekas spanduk yang turut menghiasi.
Fia minta ijin untuk ikut memasuki gubug. Si ibu tidak keberatan.
“Masuk saja” katanya.
Maka, masuklah Fia ke dalam gubug kumuh yang baru pertama kali ia masuki. Ia merekam kamar yang sangat sempit, pengap, sesak dan terlihat barang-barang yang berserak berantakan.

Fia sempat menyaksikan saat si ibu menidurkan si kecil di sebuah tempat yang hanya beralaskan kertas kardus tebal dan berlapis dengan kain kusam. Selanjutnya, ia membuka bungkusan sisa-sisa makanan buruh yang telah ia bawa.
Setelah dipilah-pilah lagi, jatah makan mereka untuk nanti malam dan esok pagi itu, ia masukkan ke dalam sebuah wadah panci yang ditutupi, kemudian ditempatkan di salah satu pojok ruangan. Sebuah cadangan makanan yang telah membuat dirinya merasa aman untuk dapat bertahan hidup seharian ke depan. 
Mata Fia sempat tertuju pada benda kaleng yang terletak di salah satu sudut di dalam gubug. Nalurinya sebagai wartawan mulai mencium setitik harapan. Lalu, ia sempatkan untuk mengambil gambarnya.
Namun, pandangannya segera teralihkan saat si ibu tampak sedang mengambil sesuatu. Sebuah stiker kecil  berwarna merah telah ada ditangannya. Lalu, ia berikan kepada Fia.
“Ini, orang yang pernah memberiku empal gentong”.
Fia menerimanya, lalu ia amati sebentar sebuah foto yang terdapat pada stiker itu.
“Jhonny Subangun, Caleg DPRD DKI, nomor urut 8” ucap Fia membaca tulisan yang tertera di samping foto.
“Pak Jhonny ini yang langsung memberi empal gentong kepada ibu ?” tanya Fia.
“Tidak. Pak Asep yang datang ke sini bawa empal gentong dan stiker” jawabnya.
“Pak Asep yang mana ?” tanya Fia.
“Itu, dia yang suka jadi tukang parkir di depan warung si Gendut”.
“Oh.... Memang, ibu terdaftar sebagai pemilih di daerah ini ?”.
“Tidak” ucap si ibu sembari menggelengkan kepala.
“KTP saja tidak punya. Aku cuma diajak ikut kampanye di lapangan, terus dikasih makan dan uang dua puluh ribu” ucapnya lagi.
Fia menatap ke arah benda kaleng yang berada di pojok gubug.
“Kalau kaleng itu, dapat dari mana ?” ucap Fia seraya menunjuk ke arah yang dimaksud.
“Sama, dari Pak Asep juga”.
Kereta api lewat lagi. Si ibu terlihat hendak membereskan sesuatu. Fia merasa sudah tidak tahan lagi untuk terus berada di dalam gubug, maka segera saja ia putuskan untuk keluar. Ia tarik nafas dalam-dalam untuk segera mengganti udara pengap yang mungkin masih tersisa di dalam rongga paru-parunya.
Tubuhnya, ia istirahatkan dengan duduk di atas batu yang ada di depan gubug. Beruntung, ada dua pohon angsana yang sedikit membantu untuk menghalangi teriknya panas matahari. Botol minuman yang ada dalam tasnya, ia keluarkan, untuk kemudian ia tumpahkan sampai habis tak bersisa melalui lubang mulutnya. 
Fia mendatangi si ibu, yang terlihat sedang mengangkat jemuran pakaian di atas atap seng gubugnya.
“Maaf, bu. Saya pergi sebentar. Nanti saya akan ke sini lagi”.
Si ibu hanya menoleh sebentar ke arah Fia. Mulutnya serasa masih terkunci rapat-rapat untuk sekedar mengatakan satu kata saja, “Iya...”. Sepertinya, si ibu telah merasa cukup hanya dengan menganggukkan kepala.
Setelah menengokkan wajah ke kanan dan ke kiri, Fia berjalan memotong lintasan rel, sebelum kereta api lewat lagi. Ia datangi tempat cetak foto yang berada dekat seberang Stasiun. Kemudian ia hampiri pedagang buah-buahan, untuk sekedar membeli buah jeruk seberat dua kilo.
Terakhir, ia masuki restoran cepat saji, berlabel “Bundo Kanduang”, masakan khas Padang. Meski selera makannya sempat menghilang, Fia tetap paksakan untuk mengisi perutnya dengan nasi putih dan daging rendang agar tidak kena masuk angin.
“Semoga, tidak ada racun tikus yang bercampur dengan makanan ini” harapnya dalam hati, sesaat sebelum ia mulai makan. 
Sekitar setengah jam kemudian, Fia telah kembali menemui si ibu dengan membawa  sebungkus buah jeruk di tangan kanannya. Oleh Fia, bungkusan itu diserahkan kepada si ibu.
“Ini bu, ada buah jeruk buat anak-anak” ucap Fia.
“Terima kasih” balas si ibu, sambil duduk di atas batu di depan gubugnya.
Fia pun mulai ikutan duduk di samping si ibu. 
“Anak-anak, dimana, bu ?” tanya Fia.
“Lagi ke pengepul barang bekas”.
“Oh.....” ucap Fia, yang kemudian terdiam sebentar.
Matanya melihat bungkusan buah jeruk yang tetap saja dibiarkan oleh si ibu tergeletak di dekat pintu gubug.
“Dimakan bu, jeruknya” ucap Fia.
“Nanti saja, buat anak-anak” katanya.
Jawaban yang cukup singkat, namun cukup berarti bagi Fia, bagaimana seorang ibu yang selalu mendahulukan bagian makanan buat anak-anaknya. Telepon genggam Fia bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Ia berdiri, lalu menerima panggilan telepon dari Seno, rekan kerjanya. Seno meminta Fia untuk segera datang ke Polsek.
“Ada perkembangan yang menarik ? Oke, aku akan segera ke sana” ucap Fia.
Fia merasa sudah tidak perlu memperpanjang waktu lagi untuk bertahan lebih lama di tempat si ibu.
“Saya mau pamit, bu. Terima kasih atas waktunya” ucap Fia.
Si ibu ikut berdiri, sembari menganggukkan kepala. Fia terlihat sedang membuka tasnya, lalu tangannya merogoh sesuatu. Selanjutnya, barang yang telah ada ditangannya diserahkan kepada si ibu.
Ini ada amplop” ucap Fia.
“Oh, iya ... ? Terima kasih !” balas si ibu sambil bersalaman tangan dengan sedikit membungkukkan badannya.
Segera saja, Fia meninggalkan si ibu yang kini menampakkan wajah yang ceria. Setelah Fia pergi dan sudah tidak terlihat lagi, si ibu masuk kembali ke dalam gubugnya.  Lalu amplop itu ia buka dengan gembira.
“Sialan ! Aku tidak butuh barang ini !” teriaknya.
Ia menyobek-nyobek amplop yang dianggapnya ternyata cuma berisi sejumlah foto tentang dirinya, lalu membuangnya begitu saja.
Dasar keterlaluan !” umpatnya, disertai dengan hentakan kaki.
Si ibu terus saja menumpahkan kekesalannya, sembari agak menyumpahi Fia dengan kata-kata yang kotor.
Brengsek ! Sama saja dengan si gendut yang mengaku haji itu. Tidak punya perasaan. Kalau dia tewas juga, baru tahu rasa !” ucapnya keras dan kasar, yang terlontar dengan rasa kemarahan, sehingga si kecil sempat terbangun dari lelap tidurnya.
Rupanya, si ibu belum melihat ada dua lembar uang lima puluh ribuan disela-sela lembaran fotonya. Beruntung, foto-foto itu tidak ikut tersobek, namun hanya sempat dibanting di atas lantai yang cuma beralaskan karpet plastik bekas. Suara kereta api lewat kembali terdengar, menambah polusi udara yang kian panas membakar.*** By Srie.

(Bersambung.....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar