Minggu, 11 September 2011

Dalam Pertemanan, Kita Menjadi Murid dan Guru Sekaligus!

Oleh Sri Endang Susetiawati
Mengapa sering kali kita bermasalah? Sebagiannya, amat mungkin disebabkan oleh cara kita sendiri dalam memandang masalah. Lihatlah, bagaimana seorang ibu yang hatinya panas tatkala melihat tetangganya, baru saja membeli sebuah mobil baru. Ingatlah, bagaimana ketika seseorang seolah merasa tidak rela ketika temannya dihargai oleh orang lain.
Ya. Semuanya lebih dikarenakan oleh cara pandang atau perspektif kita sendiri terhadap masalah. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu menjadi masalah, justru berubah menjadi masalah bagi dirinya sendiri. Betapapun, seringkali tidak disadari oleh diri sendiri sebagai sebuah masalah.
Mulailah, untuk terbiasa berpikir positif. Bahwa masing-masing orang memiliki bagiannya sendiri. Bahwa limpahan rizki yang diterima, adalah bagian dari hasil ikhtiar dan karunia kebahagiaan dari yang di Atas. Bahwa, kita pun pernah, sedang atau akan memperoleh hal yang sama meski tidak harus dalam bentuk yang hampir persis sama.

Biasakan, agar kita bisa ikut senang saat orang lain merasa senang. Belajarlah, agar kita terbiasa ikut bahagia ketika orang lain memperoleh kebahagiaan. Maka, pikiran ini tidak lantas menjadi sempit, dan hati ini justru akan menjadi lapang. Maka, masalah yang tidak perlu ada dengan sendirinya akan menghilang.
Itulah cara kita memandang suatu masalah. Itulah perspektif berpikir positif yang sebaiknya digunakan. Masalah, seringkali muncul berawal dari perspektif yang kita gunakan. Amat mungkin, sesungguhnya masalah itu tidak perlu ada, jika kita bersedia untuk meninggalkan perspektif berpikir negatif.
Seorang teman melakukan protes, ketika teman yang lain membuat daftar sekian nama orang yang dianggap sebagai gurunya yang cerdas. Bukan hanya sampai di situ, sekian alasan pun dikemukakan dengan bla bla bla. Atas nama objektifitas, lalu ia kritik pedas seseorang yang dianggap tidak pantas.
Benarkah demikian? Tunggu dulu. Seringkali, apa yang dilakukan oleh kita justru tak lebih dari sebuah rasionalisasi semata atas sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Apa yang terjadi, justru lebih menunjukkan sikap dan cara berfikir yang negatif atas apa yang dilakukan dan diperoleh seseorang.
Gunakan perspektif berpikir positif.  Bahwa, sebatas tidak mengganggu hak-hak orang lain, apapun yang dilakukan oleh seorang teman, itu adalah haknya semata. Bahwa, kesemuanya itu hanyalah bagian dari dinamika dan keragaman dari perilaku tiap orang yang masih dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Mengapa seringkali kita susah untuk menerima keragaman yang terjadi di dunia ini? Sekali lagi, karena perspektif yang digunakan oleh kita sendiri. Bahwa tanpa sadar, seringkali kita bersikap memaksakan diri, dengan menggunakan ukuran baju sendiri untuk mengukur baju orang lain.
Mengapa kita seringkali suka mencari-cari masalah pada orang lain, meski tanpa sadar? Sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan, bukan? Janganlah suka mencari masalah yang tidak perlu. Karena masalah yang sesungguhnya pun boleh jadi telah banyak dimiliki, dan akan selalu bertambah untuk menghampiri.
Apakah diri ini harus merasa yang paling hebat dan benar? Tidak juga! Kembali, gunakan perspektif berpikir positif. Bahwa siapapun orangnya, tanpa terkecuali, pada hakekatnya adalah masih akan selalu dalam proses belajar. Bahwa kita akan selalu saling belajar. Bahwa pada setiap waktu, sesungguhnya kita akan selalu menjadi seorang murid dan seorang guru sekaligus, dalam sebuah ruang pertemanan di manapun juga.
Kecuali, tidak berlaku bagi mereka yang tidak bersedia untuk saling belajar, dan tidak mau bersikap toleran.*** By Srie
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar