Minggu, 18 September 2011

Klaim Feminin, dan Jebakan Mitos Perempuan

Oleh Sri Endang Susetiawati

Hati-hati saat menjelaskan mengenai masalah feminitas (keperempuanan) di ruang publik. Apalagi, bila kategorisasi feminin, lawan maskulin, kemudian diklaim sebagai sesuatu yang sangat benar, hampir tanpa kesediaan diri untuk dikritik. Atas nama label penelitian ilmiah, feminitas kemudian hendak diperjuangkan dalam bentuk tuntutan dalam sebuah gerakan yang masif.
Mengapa perlu hati-hati? Karena, setidaknya untuk dapat lebih menghindari keterjebakan feminisme dalam mitos-mitos yang dibangunnya sendiri. Termasuk, bagi mereka para psikolog perempuan dan para pegiat perempuan, yang boleh jadi tidak terlepas pula dari keterjebakan yang mengenainya.
Sudah sejak awal abad ke-20, krtitik atas psikologi androsentris telah dilakukan. Namun, upaya besar-besaran dalam membongkar mitos-mitos psikologi feminin terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Sejarah psikologi perempuan adalah sejarah perjuangan panjang dari psikologi androsentris (berpusat pada laki-laki) ke psikologi ginosentris (berpusat pada perempuan).

Adalah Naomi Weisstein (1968), seorang psikolog di Universitas California, Amerika Serikat, yang melakukan kritik keras atas keadaan psikologi saat itu, yang dinilainya sangat berpusat pada laki-laki. Dalam sebuah makalahnya yang berjudul “Kinder, Kuche, Kirche as Scientific Law: Psychology Construct the Female, Weisstein menggugat penggambaran stereotipe atas diri perempuan saat itu, yang kecenderungan psikisnya hanyalah untuk memelihara anak (Kinder), memasak (Kushe) dan beribadah (Kirche). Triple “K” ini dianggap stereotipe perempuan saat itu yang dibangun di atas klaim ilmiah, yang sebenarnya demi mempertahankan keistimewaan laki-laki. 
Sejak awal tahun 1970-an, upaya membongkar mitos-mitos tentang perempuan lebih gencar dilakukan melalui sejumlah penelitian. Berikut ini adalah beberapa mitos yang berusaha dibongkar terkait dengan masalah perempuan.
Pertama, penelitian psikologi jarang sekali menempatkan perempuan sebagai subyek studi.  Masalah perempuan dianggap kurang penting, bila dibandingkan dengan masalah yang dihadapi oleh laki-laki. Sampel yang diambil, pun sangat sedikit diambil dari kaum perempuan, dibandingkan dengan jumlah sampel laki-laki. Sebuah keadaan yang turut andil dalam memberikan bias yang cukup signifikan atas hasil sebuah penelitian.
Bahkan, Sigmund Freud (1856-1939), tokoh pendiri mazhab psikoanalisis, pun mengakui bahwa subyek perempuan amat kurang dalam penelitian yang dilakukannya. Freud, dianggap hanya memiliki hubungan dekat dengan anak perempuannya, Anna. Sedangkan dengan istrinya sendiri, Marthe, hubungannya sangat renggang. Freud pun dikenal sebagai sosok yang sangat terbatas dalam pergaulannya dengan perempuan.
Kedua, teori-teori psikologi dibangun dengan menggunakan laki-laki sebagai norma, dan perilaku perempuan dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Banyak teori psikologi, seperti teori tahap krisis Erikson, teori motivasi berprstasi Mc Celland, teori kategori sosial, dan teori perkembangan moral, berasal dari penelitian yang menggunakan subyek laki-laki saja.
Ketiga, stereotipe perempuan dianggap gambaran tentang perempuan yang sebenarnya. Padahal, gambaran itu diperoleh dari sebuah penelitian yang dirancang dan ditafsirkan dari pandangan laki-laki. Dalam pandangan ini, perempuan digambarkan secara stereotipe sebagai sosok yang cenderung pasif, masokis (perasaan yang menggabungkan rasa sakit dan bahagia menyatu), emosional, penurut, dan penyayang. Gambaran tersebut dianggap sebagai sifat-sifat perempuan yang normal, dan jika terjadi sebaliknya, maka perempuan dianggap tidak normal.
Keempat, perbedaan perilaku perempuan dianggap sebagai akibat dari perbedaan antomi dan fisiologi. Padahal, sejatinya lebih banyak juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan kultural, dimana seorang perempuan itu berada. Klaim bahwa laki-laki lebih pintar (intelektual) dibandingkan dengan perempuan, hanyalah akibat lain dari situasi dan kondisi sosial yang kurang memberi kesempatan yang sama pada perempuan.  
Ambillah contoh, jika dalam sebuah keluarga dimana terdapat anak laki-laki dan perempuan dalam keadaan ekonomi yang terbatas, maka akan didahulukan anak laki-laki untuk melanjutkan sekolah. Klaim bahwa pemenang hadiah Nobel didominasi oleh kaum laki-laki dapat dijelaskan pula dalam perspektif tersebut. Bahwa secara sosio-kultural, masyarakat masih lebih mendahulukan laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
Kelima, psikologi perempuan melupakan konteks sosial yang membentuk perilaku. Benar, bahwa ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam jenis kelamin (sex) dan gender. Jika masalah jenis kelamin dalam konteks biologis, maka masalah gender dalam konteks sosial. Jenis kelamin ditentukan oleh perbedaan biologis, komposisi genetis, fungsi dan anatomi reproduktif, sehingga dikenal adanya laki-laki atau perempuan (pada manusia), serta jantan atau betina (pada binatang). Sejak lahir, bahkan masih dalam kandungan, jenis kelamin dapat diketahui dan dibedakan dengan melihat alat kelamin.
Berdasarkan perbedaan jenis kelamin itulah, kemudian masyarakat membedakan perlakuan atas laki-laki dan perempuan. Inilah masalah gender, yang bisa disebut juga semacam software yang diprogram oleh masyarakat untuk jenis hardware yang berbeda, antara laki-laki dan perempuan. Seorang ibu akan memberikan pakaian yang berbeda pada dua anak yang berbeda jenis kelamin. Ia pun memperlakukan secara berbeda dalam hal mendandani sang anak, hingga memberikan barang mainan.
Jenis kelamin, entah itu laki-laki atau perempuan akan dianggap berlaku secara sama di manapun dan kapanpun. Akan tetapi, jenis yang sama itu diberi gender yang berbeda pada ruang dan waktu yang berbeda. Hingga akhir tahun 1960-an, celana panjang diangap identik dengan jenis kelamin laki-laki, namun kemudian secara perlahan berubah dan berlaku pula bagi perempuan. Pakaian sarung, dianggap biasa digunakan oleh laki-laki di Indonesia, terutama saat melaksanakan sholat, namun dianggap sebagai pakaian jenis rok yang berkonotasi perempuan di negara lain, seperti Iran, misalnya.
Jenis kelamin, memang sudah kodrati. Sementara, masalah gender, termasuk didalamnya soal persepsi dan gambaran tentang sosok perempuan akan terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan waktu.  Gambaran akan perempuan pun akan ditentukan pula oleh hasil interaksi kaum perempuan sendiri di tengah struktur sosio-kultural yang memang masih didominasi oleh kaum laki-laki.
Perubahan gambaran tentang sosok perempuan akan terus berlangsung secara dinamis. Sehingga, klaim tentang keperempuanan (feminitas) dan sikap yang memaksakan diri tentang gambaran perempuan, apalagi hingga gambaran yang sedetil-detilnya, amat kurang bijak dilakukan. Mengapa? Karena, bila klaim itu dipaksakan,  maka gambaran tentang perempuan, akan terjatuh kembali pada jebakan mitos-mitos lama yang amat mungkin bisa menyesatkan. *** By Srie.
Salam Persahabatan

Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar