Minggu, 01 Juli 2012

Kutampar Jihadmu


Oleh Sri Endang Susetiawati
Angin kemarau berhembus di saat malam mulai memasuki dini hari. Laras terbangun.  Kedua matanya terus menatap ke arah Latifah, anaknya yang masih tertidur pulas di atas ranjang yang mulai terlihat kusam.
Bibir Laras tersenyum. Tangan kanannya mengusap-usap wajah dan rambut sang balita dengan lembut. Lalu, ia berdiri. Ia tinggalkan Latifah agar dapat terus menikmati mimpinya yang indah.
Lampu ruangan masih menyala. Langkah demi langkah, ia ayunkan kaki ke arah panggilan suara di bagian depan rumah. Suara berbisik, kembali ia dengar.
“Sayang.... datanglah...”
Laras tertegun. Matanya hampir tak percaya atas apa yang terlihat di depannya. Seseorang yang sangat ia kenal telah berdiri membelakangi pintu. Dari kedua bibir yang melekat di bagian wajahnya yang terlihat pucat, suara itu kembali memanggilnya dengan ramah.

“Sayang....”
“Apa? Kau panggil aku sayang? Heh..!” balas Laras mulai memberikan tanggapan.
“Iya, memang ada apa Umi?” katanya sambil mencoba melangkah lebih dekat lagi ke arah Laras.
“Tetaplah berdiri di situ! Masih juga, mau panggil Umi.....” bentak Laras seraya mengarahkan jari telunjuknya.
“Kamu pergi seenaknya, lalu kamu datang, langsung masuk saja..... tanpa salam!”
Lelaki yang mengenakan baju putih itu terlihat kian terkaget. Tampak ia sedang berusaha menahan emosinya.
“Aku rindu....” ucapnya mulai terdengar memelas.
“Apa? Rindu pada kami?” balas Laras dengan nada suara yang masih pedas.
“Iya, ma...” ucapnya keburu terpotong.
“Rindumu hanya pada wangi surga, mas. Surga khayalanmu sendiri!”
“Laras... Ini, bagian dari jihad....”  
“Jihad..! Jihad..! Kamu keblinger, mas!”
“Kamu telah tertipu oleh ajaran mereka yang tidak bertanggung jawab!”
“Saya mau katakan....”
“Cukup! Tidak perlu lagi lanjutkan kata-katamu!”
Sejenak mereka sama-sama terdiam. Sangat jelas, wajah Laras sedang memendam amarah yang tidak dapat lagi disembunyikan.
“Kamu.... mulai berani berkata kasar dan tidak sopan pada suamimu, Laras?”
“Heh! Apa tidak salah ucap, kamu masih sebut dirimu sebagai suami?”
“Iya Laras, saya hanya mau katakan.... ”
“Cukup! Sekarang saatnya, kamu banyak dengarkan kata-kataku!” ucap Laras kembali memotong.
Sang suami berusaha menuruti kata-kata istrinya. Matanya hanya menatap Laras yang terus mengeluarkan kata-kata keras dan pedas.
“Latifah sedang tertidur pulas. Dia akan menjadi yatim oleh ulahmu, mas...”
“Inikah, makna jihad yang kamu pahami, mas?”
“Kamu lihat perutku. Janin ini akan menjadi yatim pula sebelum ia terlahir, mas”
“Inikah, makna surga yang selalu engkau janjikan pada kami, mas?” ucap Laras lagi yang mulai diiringi isak tangis.
Kesedihan pun mulai terlihat jelas pada wajah suami Laras. Sesekali, kedua telapak tangannya berusaha ia tutupkan pada mulutnya.
“Laras, ma...”
“Cukup! Inikah, makna tanggung jawab seorang suami pada keluarganya, mas?”
“Hidup mulia, atau mati syahid?”
“Hidup kami malah menjadi terhina, mas. Mati syahid, malah kami menjadi terhimpit, mas...”
“Laras, saya...”
“Diamlah! Inikah, jihad yang telah kamu amalkan, dengan menelantarkan keluargamu, mas?”
“Mana, jihad untuk kebahagiaan anak dan istrimu, mas?”
“Laras, ......”
“Jihadmu, hanya akan mengantarku menjadi janda secara sia-sia, mas...”
“Jihadku.....”
“Kutampar jihadmu!” bentak Laras dengan suara yang sangat keras.
Laras benar-benar berusaha menampar wajah suaminya. Namun, usahanya terus saja gagal. Hanya angin yang ia rasakan pada tangannya.
“Mas.....!” suara Laras terkaget.
“Saya menyesal, Laras. Maafkan saya.....” ucapnya berbisik disertai isak tangis.
Secara perlahan, sosok lelaki itu menghilang. Laras hanya bisa memandangi pintu depan rumahnya yang masih terkunci. Tepat di malam ketujuh, saat ia ditinggalkan sang suami. Mati, akibat aksi bom bunuh diri.*** By Srie.
Salam Persahabatan

Srie

2 komentar:

  1. Tolong perbaiki aqidahnya mbak.
    Jangan beri stigma negatif terhadap terminologi "Jihad" seperti yang diprovokasikan media antek2 zionis....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalem sj. Perbedaan pndpt hal biasa, krena brgkat dr persepektif yg berbeda pl. Sama2 perbaiki akidah ya? sama2 jg jgn mudah keluarkan stigma antek2 zionis. Sama2 demi mengagungkan keluhuran ajaran Islam.

      Trims tlh hdir di sini. salam

      Hapus