Sabtu, 17 September 2011

Menyoal Keperempuanan di Kompasiana

Oleh Sri Endang Susetiawati
Seringkali, masih saja ada kerisihan saat seorang perempuan hendak berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, dimana hubungan interaksinya tidak sebatas kaum hawa semata. Sebutlah contoh, dalam hal kegiatan menulis di Kompasiana. Benarkah?
Amat tergantung atas konsep diri seorang perempuan. Yakni, bagaimana ia memandang dirinya sendiri, dan menempatkan lingkungan di luar dirinya, terutama terhadap kaum Adam. Risih, salah satunya amat mungkin berawal dari masalah cara pandang kesetaraan gender.
Sungguhkah? Boleh jadi. Seorang perempuan yang masih menganggap gender sebagai sesuatu yang cukup menentukan dalam hubungan interaksi sosial, akan merasa lebih sensitif. Namun demikian, bagi kaum hawa yang mengganggap sudah selesai dalam hal kesetaraan gender, maka tidak akan merasakan banyak masalah lagi dalam membangun interaksi di manapun, sebatas ukuran yang digunakan tidak menempatkannya pada posisi yang inferior.

Menulis dan berinteraksi dalam Kompasiana, menurut saya adalah contoh dari jenis kegiatan yang relatif setara bagi kaum perempuan. Mengapa? Karena, ukuran yang digunakan dalam berinteraksi sangat terbuka bagi perempuan untuk berekspresi dan beraktualisasi diri. Ukuran yang digunakan hampir tidak memasuki wilayah superioritas kodrati kaum adam, terutama dalam hal adu kekuatan fisik.
Di Kompasiana, kemampuan dalam menulis dan menuangkan gagasan, serta sentuhan kreatifitas dan kepandaian dalam berinteraksi jauh lebih dominan dan menentukan, bila dibandingkan faktor lainnya. Tentu saja, hal ini sangat mungkin terbuka bagi peran kaum perempuan. Kebebasan yang amat leluasa dari pihak pengelola Kompasiana hampir dapat dipastikan telah jelas, dan cukup memadai. Bahwa, sebenarnya tidak ada alasan lagi bagi kaum perempuan untuk meminta perlakuan yang lebih atau spesial, sebagai prasyarat untuk membuka ruang yang lebih terbuka untuk dapat beraktualisasi diri.
Lantas di manakah penghargaan atas kaum perempuan itu sendiri dalam berinteraksi? Tentu saja, kaum perempuan harus memperolehnya melalui tulisan yang ditayangkan, dan interaksi yang dikembangkan, khususnya dalam bentuk komentar. Sikap percaya diri dalam hal menulis, berdasakan kemampuan yang telah dimiliki, beserta ketrampilan dalam berinteraksi merupakan kunci suksesnya.
Dengan demikian, ukurannya bukan lagi terletak pada apakah penulis itu seorang perempuan atau laki-laki. Sesuatu yang sudah tidak relevan untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan. Ukuran itu terletak pada kemampuannya menghadirkan sebuah tulisan yang dianggap bermutu, bermanfaat, atau setidaknya bisa menghibur, dan dianggap memenuhi unsur yang diperlukan oleh pembaca.
Nilai dan rasa keperempuanan akan hadir dengan sendirinya, dalam tulisan yang dibaca dan dalam interaksi, terutama melalui komentar dan balasan komentar. Sejauhmanakah ruang keperempuanan itu akan terbuka lebar, amat tergantung atas tulisan yang dihadirkan oleh mereka. Batas-batas keperempuanan itu akan bergerak dinamis, mengikuti hasil interaksi antara nilai dan rasa yang dianggap mewakili perempuan dengan nilai dan rasa yang dianggap mewakili laki-laki.
Dalam pengertian seperti itu, maka keperempuanan merupakan hasil dari sesuatu yang tidak dipaksakan. Akan tetapi, hasil dari interaksi yang dinamis dari segenap potensi dan interaksi atas berbagai komponen yang terkait. Sesuatu yang bersifat lebih alamiah, tentu akan lebih mudah diterima dan dirasakan sebagai sesuatu yang lebih substansial, dan berdampak permanen.
Nilai dan rasa keperempuanan, antara lain seperti kelembutan, keindahan dan sensitifitas dalam perasaan akan mewarnai ruang Kompasiana dalam balutan kecerdasan logika dan keterampilan berhubungan yang lebih bermakna. Bahwa, kehadiran perempuan begitu sangat dirasakan dan sangat dihargai oleh para penghuninya tanpa harus melalui tarik garis batas yang jelas dan adanya kegaduhan atas sejumlah tuntutan terlebih dahulu.  
 Jadi, tunggu apalagi bagi kaum perempuan untuk ikut berpartisipasi? Waktulah yang akan menentukan, sejauhmana Kompasiana itu akan terasa sebagai media sosial yang lebih ramah atas peran-peran meraka. Semuanya, kembali akan ditentukan pula oleh mereka.
Bagaimana dengan pendapat Anda?*** By Srie
Salam Persahabatan

Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar