Minggu, 04 September 2011

Mudik Lebaran Usai, Lalu Apa?

Oleh Sri Endang Susetiawati
Bulan Ramadhan sudah lewat. Idul Fitri telah dijalani. Dan, tradisi mudik pun telah usai sudah.  Pertanyaannya, lalu apa lagi?
Secara fisik, amat mungkin kita akan kembali pada rutinitas kegiatan sehari-hari. Bagi mereka yang menjadi pegawai negeri atau swasta, mereka akan kembali melaksanakan kegiatan sehari-harinya sebagai pegawai. Mereka yang berdagang atau berbisnis, akan kembali menekuni kegiatan bisnisnya sehari-hari. Mereka yang kebetulan hanya berlaku sebagai ibu rumah tangga, tentu akan kembali pada rutinitas kerumahtanggaannya. Mahasiswa dan pelajar akan kembali pada tugas-tugas belajarnya, dan seterusnya.

Akan tetapi, secara ruhaniah seharusnya Ramadhan, Idul Fitri dan mudik lebaran akan memberikan dampak perubahan yang cukup signifikan bagi siapapun yang telah melewatinya. Jika rangkaian kegiatan sosioritual itu dianggap sebagai siklus tahunan, maka sudah sewajarnya ada peningkatan dalam taraf kehidupan dari tahun ke tahun. Ya, sudah seharusnya mereka menuai dampak positif selama perjalanan satu bulan lebih ke belakang.
Bulan Ramadhan, sejatinya memang bulan pembelajaran diri. Agar, usai puasa dapat lebih mampu menahan dan mengendalikan diri. Suatu kemampuan yang wajib dimiliki oleh tiap orang agar dapat hidup sukses. Momen Idul Fitri adalah momen kemenangan. Sudah sepantasnya mentalitas sang pemenang akan lebih mampu dalam mengatasi berbagai ujian dan pertarungan hidup pada waktu-waktu berikutnya.   
Bekal pembelajaran selama satu bulan penuh, kemudian merayakannya dalam semangat Idul Fitri diharapkan akan mampu memperoleh energi baru yang positif untuk menatap masa depan. Sudah saatnya, usai mudik lebaran merupakan saat yang paling tepat untuk memulai perencanaan hidup yang lebih baik. Hidup yang lebih bermanfaat, bagi diri, keluarga, dan sesama umat (manusia). Pendeknya, jadilah diri sendiri sebagai bagian dari tanda-tanda kemuliaan universal ajaran Islam.  
Tentu saja tidak akan mudah, laksana membalikkan kedua belah telapak tangan. Namun demikian, itulah esensi dari perjuangan hidup. Kesulitan yang menghadang perlu dilewati, agar diri mempunyai nilai lebih yang berarti.
Kuncinya adalah ada niat, dan ada kemauan untuk senantiasa berikhtiar sebaik mungkin. Fokus dalam mengatasi masalah, dan konsisten dalam menekuni sesuatu yang dianggap memiliki makna hidup yang positif merupakan bagian dari rahasia keberhasilan dalam berusaha. Agar mudik benar-benar memiliki makna yang positif bagi para pelakunya.
Benar. Agar usai mudik dapat berdampak positif. Bukan sebaliknya, usai mudik sekedar untuk mempersiapkan mudik kembali pada tahun depan. Bukan sekedar perjalanan hidup dari mudik ke mudik berikutnya, dari tahun ke tahun. Sebuah siklus hidup yang hampir mubazir, tenggelam dalam jebakan kehidupan serba duniawi yang hanya akan berakhir saat kematian menjemput. Wallahu a’lam bishowwab.*** By Srie.
Salam Persaudaraan
Srie


Tidak ada komentar:

Posting Komentar