Selasa, 27 September 2011

Uang MGMP Dipotong, Selamat Berkorupsi Ria!

Oleh Sri Endang Susetiawati
Memperoleh bantuan dana dari pemerintah (pusat) merupakan sebuah kegembiraan. Setidaknya, para guru akan lebih terbantu dalam menyelenggarakan beberapa kegiatan yang pernah dan akan dilakukan bersama. Namun demikian, bagaimana apabila dana itu sudah dipotong 10 % di muka, saat dana hendak dicairkan?
Itulah yang terjadi pada kami, saat guru-guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) memperoleh bantuan dana untuk kegiatan pengembangan guru untuk satu bidang mata pelajaran yang sama. Ini fakta, Rp 2 (dua) juta per kelompok MGMP langsung dipotong oleh pihak Dinas setempat tanpa penjelasan sedikitpun, kecuali kalimat “harap maklum” saja.

Sebuah jumlah uang potongan yang cukup menggiurkan. Cukup dengan ongkang-ongkang kaki, tanpa memerlukan kerja keras lagi.  Sekali potong, Rp 2 juta x jumlah kelompok MGMP akan menghasilkan angka jutaan rupiah yang cukup besar.
Tentu saja, potongan tersebut jelas-jelas merupakan bentuk korupsi. Dana yang dipotong adalah jelas, sama sekali bukan merupakan hak mereka. Pertanyaannya, inikah pelajaran penting tentang praktek korupsi bagi kami, para guru-guru? Sebuah pelajaran yang kian melengkapi praktek-praktek korupsi lain yang selama ini kami alami, seperti saat kenaikan golongan, saat pengambilan SK baru, dan lain-lain.
Rapat pengurus MGMP pun digelar. Pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimanakah mempertanggungjawabkan dana potongan Rp 2 juta itu dalam laporan keuangan? Ada yang mengusulkan untuk menaikkan beberapa komponen biaya pada setiap kegiatan. Ada pula yang mengakali seolah-olah membeli sejumlah alat tulis dan sejenisnya untuk keperluan berbagai kegiatan.
Jelas mengada-ada, maka saya tolak secara mentah-mentah. Praktek korupsi akan ditutupi dengan cara membuat kebohongan demi kebohongan. Celakanya, uang itu jelas dinikmati oleh mereka, namun pengurus MGMP yang harus tandatangan dan mempertanggungjawabkannya. Sebuah praktek korupsi yang diarahkan untuk dilakukan secara berjamaah.
Ini, belum termasuk kegiatan “dadakan” yang diadakan oleh pihak tertentu, dimana MGMP harus membayarnya melalui anggaran dana itu juga, antara lain untuk konsumsi peserta dan honor para pembicara. Jumlah Rp 100.000,- per peserta untuk sebuah kegiatan yang hanya berlangsung beberapa jam saja, dianggap cukup menguntungkan bagi panitia penyelenggara.
Hmm.... sebuah kenyataan yang kian membuat kita tersenyum kecut, sambil terus saja geleng-geleng kepala. Bahwa praktek korupsi itu dilakukan kian telanjang, tanpa malu-malu lagi. Bahwa praktek korupsi itu, benar-benar masih ada di mana-mana, di sekeliling kita. Bahwa, praktek korupsi itu telah benar-benar mengakar, dari tingkat pusat, hingga di daerah-daerah.
Lalu, bagaimana dengan kita? Tampaknya, kita seolah hanya diminta untuk memakluminya saja. Selebihnya, mungkin kita hanya diminta untuk mengucapkan selamat saja. Selamat ya, berkorupsi ria! *** By Srie.
Salam Persahabatan

Srie

1 komentar:

  1. ehm..... silahkan tuhan tidak pernah tidur...ehm..... silahkan tuhan tidak pernah tidur...

    BalasHapus