Minggu, 23 Oktober 2011

Cerber Empal Gentong (10): Fia dan Adit Tertawa (Habis)

Oleh Sri Endang Susetiawati
Langkah kaki yang agak terburu-buru terus dipacu untuk berebut ruang sempit di sela-sela kerumunan massa. Suara teriakan yel-yel yang berasal dari sejumlah speaker salon berukuran besar kian memekakkan telinga. 
Mereka telah sampai di dekat belakang panggung kampanye. Seorang laki-laki terlihat menyambut dan menyalami Adit, kemudian juga Fia. Lalu, ia mengajak mereka melewati batas panggung yang dijaga ketat oleh para anggota Satgas.
Di belakang panggung itu, Fia dan Adit dipertemukan olehnya kepada seseorang yang terlihat sedang duduk di salah satu kursi lipat.

“Pak Hasanudin, ini rekan saya, Adit, wartawan TV” ucapnya.
Setelah saling memperkenalkan diri, Fia langsung saja melontarkan sejumlah pertanyaan.
“Minggu lalu, Anda pernah membatalkan sebuah acara pertemuan kader ?”.
“Betul. Waktu itu, secara mendadak saya dipanggil oleh pimpinan DPD Partai untuk mengikuti rapat”.
“Kabarnya, setelah Anda menjabat sebagai Ketua DPC, telah dilakukan pergantian kepengurusan ?”.
“Betul. Ada pergantian kepengurusan, baik di tingkat DPC, PAC maupun ranting. Terutama terhadap mereka yang dianggap telah melanggar disiplin partai”.
Fia beralih ke topik lain. “Bagaimana prediksi perolehan suara Anda dan partai Anda pada Pemilu bulan depan ?”.
“Saya optimis, suara kami akan meningkat tajam” jawab sang politisi ini.
Tiba-tiba, wawancara terpaksa harus ditunda, karena Pak Hasanudin harus tampil di atas panggung kembali. Fia menganggap sudah cukup mewawancarainya. Maka, ia mengajak Adit untuk kembali ke tempat semula.
Ternyata, Pak Hasanudin harus tampil di panggung untuk kesempatan terakhir sebelum acara kampanye itu berakhir. Tepat, setelah beberapa saat ia mengakhiri teriakan yel-yel-nya, kampanye itupun dinyatakan berakhir. Mereka yang berada di atas panggung terlihat mulai turun. Tak berapa lama, kebisingan suara sound system pun telah berhenti.
Fia dan Adit telah kembali berada di tempatnya semula, di dekat mobilnya yang tengah diparkir. Matanya kembali tertuju ke arah dekat panggung saat mereka melihat ada sedikit keributan. 
Sejumlah polisi terlihat tengah berusaha untuk menangkap seseorang yang berjaket merah. Sementara, sejumlah orang yang diduga pendukungnya terus berusaha untuk menghalanginya. Aksi saling dorong sempat terjadi.
“Kita tidak ke sana, Fia ?” tanya Adit.
“Tidak usah. Biar Seno kebagian tugas” jawab Fia, sembari mengajak Adit segera memasuki mobilnya. 
Mereka sudah berada di dalam mobil yang mulai berjalan perlahan.
“Siapa yang ditangkap, Fia ?” tanya Adit sambil menyetir.
Fia tidak langsung menjawab. Tangannya sedang berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Ini fotonya, orang yang ditangkap itu !” ucapnya sambil menunjukkan kembali stiker caleg yang bergambar Jhonny Subangun.
“Oh....” ucap Adit menoleh sebentar.
“Andai, dia tidak diganti sebagai Ketua DPC, mungkin nomor urut calegnya bukan 8, tapi nomor 2, seperti dimiliki oleh penggantinya sekarang” ucap Fia lagi.
“Politik menghalalkan segala cara” komentar Adit singkat.
Adit terdiam sejenak, cuma mulutnya yang berdecak.
“Kamu, benar-benar jadi pemenang kembali, Fia” ujar Adit seraya mengacungkan jempol kanannya.
Fia hanya tersenyum. Terlihat puas penuh kemenangan.
“Kamu yang bereskan laporan investigasi kasus empal gentong itu. Aku mau konsentrasi menyelesaikan liputan khususku tentang kaum pinggiran” ujarnya.
Adit pun membalas dengan senyuman.
“Oke. Selamat atas semua kemenanganmu, Fia”.
Dan, setelah melewati iring-iringan pawai massa kampanye, mobil yang mereka tumpangi terus berjalan, melaju kencang. 
Beberapa saat kemudian, Fia menerima panggilan telepon dari Seno. Loudspeaker-nya kembali ia aktifkan. Suara Seno yang agak setengah berteriak terus mereka dengar.
 “Kalian kemana saja ? Ini ada berita bagus”.
“Oh, iya ?” ucap Fia berpura-pura.
“Jhonny Subangun, Caleg Provinsi telah ditangkap sebagai otaknya. Sebelumnya, Pak Asep Setiadi, tukang parkir itu juga telah ditahan. Ternyata, dia Ketua Ranting yang telah dipecat. Pak Sanusi, juga ikut ditahan, karena telah ikut menyembunyikan kejahatan. Ia telah menerima uang dari Pak Asep untuk membungkam” ucap Seno.
 Satu lagi, Dani Lesmana, Ketua PAC Pasar Minggu yang sudah dipecat,  juga ditahan. Dia, yang memberikan perintah kepada Asep” ucap Seno lagi, yang terus masih menyerocos seolah ia sendiri yang paling tahu, hingga sambungan telepon itu terputus sendiri. 
Fia dan Adit hanya bisa tertawa, “Ha..ha..ha..ha........”. ***By Srie
Salam Persahabatan

Srie

(Tamat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar