Jumat, 07 Oktober 2011

Cerber Empal Gentong (6): Memutar Rekaman Suara


Oleh Sri Endang Susetiawati
  
Adit mulai memberikan komentar. “Foto kalengnya sih sudah cocok dengan salah satu contoh barang yang pernah diperlihatkan oleh polisi. Tapi, berapa banyak orang yang menyimpan kaleng itu di rumahnya untuk mengusir tikus, lalu mereka akan terkena tuduhan sebagai tersangka penebar racun pada empal gentong ?” katanya.
“Barang bukti tidak akan berbunyi apa-apa, tanpa adanya saksi. Juga perlu ada motif yang memiliki kaitan kuat dengan peristiwanya” ujar Fia.
Seno pun tak mau terus berdiam diri. “Rupanya kamu telah memiliki sejumlah saksi dan motif yang kuat dari pelakunya, Fia ?” ucapnya.

“Belum. Baru berupa indikasi yang terlalu sayang kalau diabaikan, sehingga tidak dikembangkan” kata Fia.
“Di tempat siapa, kamu temukan kaleng berisi racun tikus itu ?” tanya Seno.
“Kalian masih ingat, saat kemarin siang kita duduk-duduk di bangku milik Pak Sanusi ?” tanya Fia.
“Maksudmu, kaleng itu ada di tempat warung Pak Sanusi ?” kejar Seno.
“Bukan. Tapi, ada di tempat seorang perempuan berbaju kumal yang sering lewat di depan warung Pak Sanusi, dan warung Haji Gendut”
Seno menyindir Fia lagi. “Penjelasan yang cerdik untuk sekedar membenarkan tindakan yang diambil oleh seseorang hanya berdasarkan pada feeling dan insting”.
“Kita lihat dan buktikan saja nanti” balas Fia, seakan hendak menantang.
Adit makin penasaran. “Jadi, menurutmu, si ibu berbaju kumal itu yang diduga menaburkan racun tikus pada empal gentong Haji Gendut ?” tanya Adit.
“Aku belum berkesimpulan seperti itu” jawab Fia singkat.
Adit terus berkomentar. “Mengaitkan penghuni gubug liar itu dengan kematian sembilan orang di warung empal gentong, akan panjang sekali ceritanya, Fia” ujarnya.
“Ini, bukan soal panjang atau pendeknya cerita, Adit” sanggah Fia.
“Jadi, apa penjelasanmu ?” tanya dia.
“Kita bisa memulainya dari dia” jawab Fia.
“Apa kamu telah menemukan alasan dan motif yang cukup kuat ?” tanya Adit lagi.
“Setidaknya, mungkin analisaku sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan analisa yang memposisikan Pak Suminto dan Sumiyati sebagai calon tersangka utama” jawab Fia lagi.
Seno kembali ikut mengomentari. “Kamu telah mulai berlebihan Fia, hanya dengan feeling dan instingmu” ucapnya, kembali menyinggung perasaan Fia.
“Berlebihan, untuk orang yang kurang memiliki ketajaman investigatif” balas Fia, mulai membela diri, sekaligus melancarkan serangan balik.
Kali ini, Adit yang bertindak sebagai pendengar yang baik. Kedua matanya silih berganti arah mengamati Fia dan Seno saat berbicara dan saling serang pendapat. Adit mulai menangkap ada sesuatu yang lebih dari sekedar berbeda pandangan dan pendapat di antara kedua rekannya itu. Ia melihat lagi saat Seno menyerang balik Fia.
“Kamu kira, analisa itu sebagai ketajaman investigatif, saat memilih si ibu kumal menjadi sosok dalam liputan khususmu tentang kaum pinggiran ?”.
Fia langsung membalas lagi. “Maaf, Seno. Sekarang kita sedang membahas hasil investigasi soal kasus empal gentong. Bukan soal kaum pinggiran atau soal pribadiku” ucap Fia cukup tegas, kian memperjelas kemana arah dan maksud dari kata-katanya.
Adit mencoba untuk menengahi kedua rekannya.
“Kita harus kembali pada tujuan semula dari pertemuan kali ini” katanya.
“Sepakat. Kita bahas hasil investigasi hingga saat ini. Lalu, rencana apa yang akan kita lakukan untuk hari esok dan selanjutnya ?”  timpal Fia.
“Lalu, apa pendapat dan usulmu, Fia ?” tanya Seno.
Mata Fia sempat menatap ke arah Seno. Tampak masih ada keraguan untuk memberikan tanggapan.
“Terima kasih, Seno. Kau telah beri aku kesempatan” ucap Fia.
“Manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, Fia” bujuk Adit.
Fia menarik nafas dalam-dalam. Selanjutnya, ia mulai menguraikan pendapatnya.
“Menurutku, meski masih ada unsur spekulasi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengamankan barang bukti, berupa kaleng racun tikus merek ENDRIN di gubug si ibu” katanya.
“Kita perlu melibatkan polisi untuk mengamankan barang bukti” kata Fia lagi.
“Kenapa, tidak nanti saja kita libatkan mereka ?” tanya Adit.
“Agar barang bukti itu menjadi absah, sekaligus mengamankan kemungkinan ada sejumlah sidik jari yang masih menempel di kaleng. Aku kira akan banyak berguna” jawab Fia.
Adit menyela penjelasan dari Fia. “Sebentar, Fia. Oke, aku sepakat soal pengamanan barang bukti itu” katanya.
“Lalu, apa masalahnya ?” tanya Fia.
“Apa ada indikasi awal yang kuat soal keterlibatan si ibu kumal itu dalam kasus empal gentong ?” tanya Adit.
“Apa ada keterlibatan si ibu dalam kasus ini atau tidak, mungkin masih perlu informasi tambahan. Namun,  hal yang hampir pasti, si ibu ini punya kaitan dengan almarhum Haji Gendut” jawab Fia.
“Kaitan dalam hal apa ?” tanya Adit terlihat kian penasaran.
Fia terdiam sebentar, lalu menjelaskan lagi. “Si ibu merasa sangat benci dan sakit hati kepada Haji Gendut”. 
“Ah, masa” ucap Adit refleks, setengah heran dan kurang percaya.
Kemudian, Adit melanjutkan rasa kekurangpercayaannya, “Sakit hati di bagian mananya ? Si ibu pernah mengemis, tapi ditolak oleh si Haji, begitu ?”.
Fia menggelengkan kepala. “Tidak” katanya.
Rasa penasaran kian tergambar jelas pada raut wajah Adit, juga Seno. Mereka terus menunggu penjelasan dari Fia tentang sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui.
“Lalu, bagaimana ceritanya si ibu sampai begitu membenci dan sakit hati kepada korban ?” kejar Adit.
Fia kembali menjawab, “masih ingat, seorang anak kecil yang merengek-rengek terus minta empal gentong saat melintas di depan warung Haji Gendut ?”.
“Ya, ingat. Walau cuma sebentar melihat. Itu kan, anak kecil yang digendong oleh si ibu itu ?” jawab Adit.
“Betul” jawab Fia singkat.
“Dari situ, aku mulai penasaran. Ada sesuatu yang menarik yang perlu aku tindak lanjuti” ujar Fia lagi. 
Adit masih penasaran. “Apa yang telah kau dapati ?” tanya dia lagi.
Fia melanjutkan ceritanya. “Ternyata, si anak kecil itu selalu merengek minta empal gentong setiap kali melewati warung itu. Tidak pernah berhenti sejak sebulan lalu hingga sekarang” katanya.
Adit terus mengejar dengan pertanyaan. “Kamu anggap rengekan itu merupakan sesuatu ?”.
“Entahlah. Tapi, menurutku, amat mungkin rengekan itu merupakan bagian dari cara Tuhan dalam memberikan pesan, khususnya yang terkait dengan kasus empal gentong” jawab Fia.
 Fia menghentikan sebentar pembicaraannya. Tangannya terlihat sedang mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah telepon genggam telah diketemukan. Untuk beberapa saat lamanya, jari Fia terlihat memainkan layar sentuh HP. Hingga, selang beberapa detik kemudian, rekaman suara dari seorang perempuan terdengar cukup jelas oleh mereka bertiga.
“Si Gendut itu tidak hanya sok sombong, tapi juga suka menghina”
“Ah, masa. Orang yang bergelar haji masih suka menghina” suara Fia.
“Ngakunya saja haji, tapi kelakuannya seperti SETAN !”
“Bagaimana tanggapan ibu, setelah tahu Haji Gendut telah meninggal karena diracun oleh seseorang ?” suara Fia
“Aku senang saja. Memang, dia harus mati !”
“Peduli amat, apa dia masih hidup atau sudah mati. Aku tak peduli. Aku sangat benci. Aku terlanjur sangat sakit hati”
“Sudah, cukup ! Jangan bicarakan si gendut lagi !”
Telepon genggam Fia terus saja memutar rekaman suara si ibu saat berbincang dengan Fia. Adit dan Seno terlihat begitu serius dan penuh perhatian saat mendengarkan. Hingga, mereka tahu dan mendengar sendiri, mengapa si ibu begitu sangat membenci kepada Haji Gendut.
Keterkaitan antara si ibu gembel dan Haji Gendut yang sempat dipertanyakan oleh Adit, berarti telah terjawab sudah. Motif yang diduga memiliki kaitan yang kuat atas terjadinya suatu peristiwa kasus empal gentong, yang sebelumnya dipertanyakan oleh Seno, telah terpaparkan secara cukup gamblang.
Pemutaran suara rekaman telah usai, Fia mengembalikan HP pada tempatnya semula. Seno dan Adit terlihat sudah tak sabar untuk segera memberikan komentar.
“Kaitan si ibu dengan Haji Gendut sangat jelas. Motifnya sangat kuat, dendam karena sakit hati” ujar Seno.
Adit ikut menimpali. “Aku setuju, motif sakit hati dan dendam si ibu ini, sedikit lebih jelas dan kuat dibandingkan dengan motif persaingan dagang dan perselingkuhan” katanya.
Tiba-tiba Seno berinsiatif untuk melakukan sesuatu. “Saatnya, kita harus menghubungi polisi” ujarnya.
Adit merasa sedikit keberatan. “Apa tidak nanti saja kita menghubunginya ?” tanya Adit. 
Kali ini, Seno mulai sedikit berubah. “Bagaimana, Fia ?” tanya Seno.
Fia sempat terkaget, tak biasanya Seno meminta pendapatnya. “Tidak ada masalah. Telepon saja kenalanmu” jawab Fia.
Tanpa bertanya lagi, Seno segera saja menghubungi kenalannya di Polsek Pasar Minggu. Panggilan teleponnya langsung diterima.
“Halo, Pak Indra. Selamat malam” ucap Seno melalui telepon.
Kata basa basi sebagai pembuka telah Seno ucapkan, yang dibalas dengan kata-kata yang sama dengan nada suara yang cukup terbuka. 
“Ada informasi penting, Pak” ucap Seno
Fia dan Adit turut mendengar percakapan Seno dengan perwira polisi berpangkat Bripka itu. Kesan akrab mewarnai percakapan di antara keduanya. Informasi penting yang disampaikan Seno telah berhasil memancing Bripka Indrajati untuk segera mengetahui. Secara kebetulan, posisinya tidak terlalu jauh, sehingga ia menawarkan diri untuk mendatangi mereka di kantor, malam ini juga. 
“Boleh, Pak. Kami tunggu. Selamat malam” ucap Seno lagi, sekaligus menutup percakapan melalui sambungan teleponnya.
Telepon genggam Seno telah dikembalikan pada tempatnya.  Ada senyum mengembang di bibirnya, dan ada keceriaan di wajah mereka bertiga. Adit terlihat sudah tidak sabar untuk berkomentar,
“Sebuah kebetulan, polisi penyidik itu mau bertemu malam ini juga. Lebih cepat, lebih baik”.
Seno menganggukkan kepala pertanda setuju dengan komentar Adit. “Ia berpacu dengan deadline penetapan nama tersangka, besok atau lusa” tambah Seno.
“Ya” kata Fia, juga dengan anggukkan kepala.
 Hanya butuh waktu dua puluh menit, mereka harus menunggu. Perwira muda berpostur tinggi dan kekar itu telah berada di ruangan mereka, tepat saat jarum jam dinding menunjuk pada angka pukul sembilan malam kurang lima menit. Selang beberapa saat, setelah Pak Indra duduk di kursinya, Seno melontarkan pertanyaan kepadanya.
“Bagaimana perkembangan terakhir, Pak ?”.
Pak Indra langsung menjawab, “Penyelidikan jalan terus. Mungkin, malam ini atau paling lambat besok pagi, Suparman akan memberikan pengakuan”.
Fia terlihat agak terkaget. “Pengakuan mengenai apa ?” sela Fia.
“Pengakuan, bahwa dirinyalah yang menaburkan racun ke dalam gentong” jawab Pak Indra lagi.
Seno dan Adit agak terperanjat, “Hah...!” ucapnya hampir serempak.
Kecuali Fia, yang tidak memperlihatkan perubahan pada mimik wajahnya, tetap seperti biasa saja. Dari mulutnya yang mungil, keluar gumam suaranya yang pelan, namun tidak terlalu jelas terdengar.
“Sebuah kejutan, jika pengakuan itu benar” gumamnya.
Adit sempat melirik ke arah Fia. Sementara Seno terlihat bersemangat untuk mengejar informasi terakhir dari Bripka Indrajati. Ia telah siap untuk melontarkan pertanyaan lagi.
“Kalau Suparman sebagai pelaku penabur racun, berarti, apa ibu Sumiyati sebagai otaknya ?” tanya Seno.
“Belum tentu. Masih tergantung dari pengakuan Suparman berikutnya. Apakah dia disuruh oleh ibu Sumiyati atau Pak Suminto” jawab Pak Indra.
“Wah, ada informasi baru lagi, rupanya...” ucap Seno kian penasaran.
“Suparman baru mengaku pernah pinjam uang kepada Pak Suminto. Hingga sekarang belum mampu ia kembalikan” jelas Pak Indra lagi.
Seno menyela. “Kenapa pinjam uangnya tidak ke Haji Gendut, majikannya ?”.
 “Betul” timpal Adit.    
“Suparman pernah menjadi karyawan Pak Suminto, sebelum kemudian menganggur tiga bulan, dan kembali bekerja di warung milik Haji Gendut, sejak setahun yang lalu” jawab Pal Indra.
Seno tampak termanggut-manggut dengan kepalan tangan kanannya yang dibiarkan menyentuh pada bagian dagunya.  Fia melihat Adit yang tangannya mulai menarik sesuatu di atas meja. Lalu, ia tunjukkan kepada polisi yang juga pernah terlibat dalam pengungkapan kasus sebelumnya, tentang mutilasi.
“Kalau foto yang ini, bagaimana Pak ?” kata Adit.
Pak Indra terlihat berusaha untuk menampakkan sikap seperti biasa. Wajahnya yang agak gelap, terus berusaha menutupi dari rasa keterkejutannya.
“Alat bukti seperti ini, yang masih sedang kami cari” komentarnya singkat.
Fia berhasil menangkap perasaan yang sebenarnya dari sorot mata Pak Indra yang tidak dapat diperintah begitu saja. Seno, seperti baru tersadar, akan informasi yang akan disampaikan kepada penyidik polisi itu.
“Fia, apa bisa langsung diperdengarkan rekaman suara si ibu itu di hadapan Pak Indra ?” katanya, terkesan memberi instruksi.
Fia hanya menjawabnya dengan singkat, “Boleh”. Pak Indra pun setuju, sekaligus mau menunda keinginannya untuk bertanya kepada mereka, tentang dari mana foto itu didapat.
Fia kembali mengambil handphone-nya. Rekaman suara si ibu telah siap untuk diputar. Namun, Fia masih saja menahannya.
“Silakan diputar, Fia” ucap Seno, seolah memerintah.
Fia hanya menoleh sebentar ke arah Seno, kemudian ia alihkan pandangannya menghadap ke tamunya.
“Apa bisa, saya mewawancarai Suparman, untuk esok hari, Pak Indra ?” tanya Fia.
Polisi itu terlihat  menahan kembali dari rasa keterkejutannya.
“Boleh, besok pagi-pagi, dia sudah bisa ditemui di Polsek” jawabnya. 
Sesaat kemudian, rekaman suara itu diputar, dan mereka berempat sama-sama mendengar.
Fia mengamati wajah polisi yang terlihat begitu serius mendengarkan suara rekaman.  Adit juga tak ketinggalan. Hanya Seno yang pandangannya sering berubah arah, dari semula yang tertuju pada wajah Fia, kemudian kepada Pak Indra, dan kembali lagi kepada Fia. Begitu seterusnya ia lakukan, mungkin tanpa ia sadari sendiri. Hingga, rekaman suara itu berakhir.
  Seno menyambungnya dengan memberikan penjelasan kepada Pak Indra mengenai sosok si ibu, dan kaitannya dengan almarhum Haji Gendut.
“Kami ketemu dia, saat kami melakukan investigasi di depan warung Pak Sanusi” kata Seno mulai menjelaskan.
Tentu saja, penjelasannya berdasarkan apa yang ia ketahui yang diperoleh dari penjelasan Fia, sebelumnya. Namun, Seno terlihat begitu lancar dalam memberi penjelasan, seolah dia sendiri yang telah memperoleh informasi.
“Saya kira, terlalu sayang untuk dilewatkan, jika si ibu ini tidak kita kembangkan kemungkinannya menjadi calon tersangka” jelas Seno lagi, yang sepertinya telah mengutip sebagian dari kata-kata yang diucapkan oleh Fia.
Pak Indra tampak begitu memperhatikan kata-kata yang diucapkan oleh Seno. Dari mimiknya, terlihat  kesan yang menyiratkan persetujuan.
“Boleh, kita akan coba kembangkan” ucapnya.
Seno terlihat gembira saat mendengarnya. Sebuah pertanyaan lagi, ia dengar dan ditujukan kepadanya.
“Kalau kaleng racun tikus itu, sekarang ada dimana ?” tanya Pak Indra.
“Masih ada di dalam gubugnya” jawab Seno dengan sigap.
Pak Indra terlihat diam sejenak, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana, kalau kita amankan barang bukti itu malam ini juga ?” katanya lagi.
Tanpa jeda, Seno segera menjawab. “Boleh, Pak. Lebih cepat, akan lebih baik”.
“Sebentar, Pak” ucap Fia memotong pembicaraan.
“Apa tidak dilakukan besok pagi saja, karena sekarang sudah terlalu malam” ucap Fia lagi.
Pak Indra terdiam, tidak langsung menanggapi. Justru, Seno yang terlihat memberikan reaksi.
“Memang kenapa kalau terlalu malam ? Polisi kan berhak melakukan tindakan pengamanan atas barang bukti yang dianggap sangat penting sekali ? Meskipun, ia lakukan pada saat malam hari, atau dini hari sekalipun ?” sanggah Seno bersemangat.
Sejenak, Fia mengambil nafas dalam-dalam. Lalu, matanya diarahkan ke wajah Seno, untuk memberikan jawaban.
“Agar kita tidak cepat-cepat mengganggunya, sehingga dia bisa tetap koperatif”.
Wajah si kecil yang selalu digendong ibunya terbayang oleh Fia saat mengungkapkan alasan tersebut.
“Dia itu calon tersangka Fia !” kata Seno, agak mengeraskan suaranya.
“Belum. Paling tidak hingga malam ini” balas Fia, juga dengan nada suara yang lebih meninggi.
“Dengan sejumlah cerita, dan indikasi bukti yang telah kau tunjukkan sebelumnya, masihkah belum cukup bagimu untuk dapat menyimpulkan dia sebagai calon tersangka ?” kata Seno lagi.
“Belum. Kasusnya masih terbuka. Mungkin, justru ada orang lain yang akan menjadi calon tersangka” jawab Fia, terlihat yakin.
Seno kian dibuat penasaran. “Siapakah orang lain itu, maksudmu ?”.
“Kita tunggu, hingga esok hari” jawab Fia singkat.
 Meski dilanda rasa penasaran, mereka tetap menghormati keputusan Fia. Termasuk Pak Indra, yang terpaksa mau memenuhi permintaannya untuk datang ke gubug si ibu pada keesokan harinya. Beberapa saat kemudian, mereka pun terlihat keluar dari ruangan untuk pulang.*** By Srie
(Bersambung ....)

1 komentar:

  1. Wuihh, banyak juga postingannya yang enak di sini Bu Srie.

    BalasHapus