Minggu, 16 Oktober 2011

Cerber Empal Gentong (8): Telepon dari Ketua Partai


Oleh Sri Endang Susetiawati

Di kedai warung kopi yang terlihat sepi. Fia hanya memesan secangkir kopi susu, sedangkan Adit minta kopi hitam kental.
“Pak Hasanudin, adalah Ketua DPC Jakarta Selatan yang baru.  Ia menggantikan Pak Jhonny Subangun, enam bulan yang lalu” ujar Adit mulai menjelaskan hasil dari percakapannya dengan salah seorang kenalannya di partai tersebut.
“Proses pergantiannya, bagaimana ?” tanya Fia.
“Maksudnya ?” tanya balik Adit.
“Prosesnya melalui mekanisme yang normal atau bagaimana ?”.
“Proses pengantiannya melalui penunjukkan oleh DPP Partai di tingkat pusat” jawab Adit.
“Berarti, sempat terlibat konflik internal ?” tanya Fia lagi.
“Tepat, kata temanku, sempat ada bentrokan massa antar kedua pendukung di depan kantor partai, setelah sebelumnya ada mosi tidak percaya dari sejumlah pengurus PAC tingkat kecamatan”.
“Kalau Pak Asep Setiadi, siapa ?” kejar Fia.
“Katanya, dia cuma Ketua Ranting Partai di Kelurahan Ragunan. Tapi, dia sudah diganti setelah ada pergantian pengurus di tingkat DPC”.
“Cukup jelas motifnya” celetuk Fia.
“Apanya yang jelas, Fia ? Apa kaitannya dengan kasus empal gentong ?” tanya Adit kian penasaran.
Fia tidak menjawab pertanyaan dari rekannya. Malah, ia balik bertanya soal yang lain.
“Apa sudah dapatkan nomor telepon Pak Hasanudin ?” tanya Fia.
“Aduh, belum punya, Fia. Jawab dulu dong, bagaimana kaitan ceritanya ?” desak Adit.
“Cerita besarnya, konflik internal partai, ada dendam, kemudian membawa korban banyak orang, yang sebenarnya mereka tidak memiliki kaitan” jawab Fia.
“Maksudmu, ada unsur tidak sengaja, atau korban salah alamat, begitu ?”.
“Tepat” tegas Fia.
Adit masih belum mengerti benar terhadap kata-kata terakhir dari Fia.   Namun, sebelum ia ajukan pertanyaan lagi, terburu kalah oleh perintah dari Fia selanjutnya.
“Cepetan deh, tanya ke temanmu itu. Berapa nomor hape Pak Hasanudin” seru Fia.
“Terus, kita mau ngapain ?” tanya Adit.
“Segera, telepon dia. Kita minta waktu untuk wawancara. Bila perlu hari ini juga” jawab Fia, agak mendesak.
Adit menuruti lagi permintaan Fia. Ia telepon lagi kenalannya yang menjadi salah seorang pengurus partai tersebut.
“Bos, tolong SMS nomor hape Ketua DPC Jaksel yang baru, ya ?. Trims” ucapnya singkat.
“Boleh juga, punya banyak kenalan orang partai” komentar Fia.
“Yoi, Fia” balasnya singkat.
Tak lama kemudian, hape Adit berbunyi, tanda SMS masuk. Langsung ia baca,
“Yes, nomornya sudah ada”. 
Lalu, ia mulai mengetikkan sebuah pesan untuk Pak Hasanudin, dan SMS itu segera ia kirim.
Selang beberapa menit, saat mereka hendak menghabiskan kopinya. Hape Adit berdering kembali, ada panggilan telepon masuk, dari nomor yang tidak dikenal.
Halo” sapa Adit.
“Betul, Pak. Saya Aditya. Iya, ini dengan Pak Hasanudin, ya ?. Baik. Baik. Pak. Saya usahakan akan datang ke sana. Terima kasih, Pak”. 
“Yes !” ucap Adit gembira dengan mengepalkan tangannya.
“Yes, bagaimana ?” tanya Fia.
“Yes. Kita diminta ketemu di lapangan Blok S, di sela kampanye”.
“Kapan ?”.
“Hari ini, nanti sore, sekitar setengah empat”
Setelah informasinya dianggap cukup, Fia dan Adit bermaksud untuk pergi meninggalkan Polsek. Namun, mereka sempatkan menemui Pak Indra kembali untuk permisi. Di dalam ruangan, ternyata Seno sudah ada, duduk di kursi menghadap Pak Indra. Entah, ia kemana dulu sehingga harus terlambat datang.
Fia tidak memberikan komentar sama sekali.
“Bagaimana informasi terakhir hari ini ?” tanya Seno memulai.
“Sudah cukup, Bos” jawab Adit.
“Benar, Fia ?” tanya Seno lagi.
“Iya, sekarang kita tinggal menunggu berita” jawab Fia.
“Berita apa lagi ?” tanya Seno yang makin dibuat tidak mengerti, karena ketinggalan informasi.
“Berita, seorang caleg Provinsi DKI ditangkap paksa oleh polisi, mungkin bisa terjadi hari ini” jelas Fia, terlihat yakin.
Seno terlihat tidak paham atas kata-kata Fia yang baru saja diucapkan.
“Itu, berdasarkan feeling dan insting investigasimu lagi ?” tanya Seno kembali.
“Lihat saja nanti !” jawab Fia dengan enteng.
Seno terlihat seperti sedang kebingungan. Pak Indra cuma tersenyum-senyum saja, saat membaca SMS yang baru saja masuk ke hape-nya.
“Pasti, akan kami beritahu kalau benar ada kejadian seperti itu”  katanya, masih dengan tersenyum.
Fia mohon pamit ke Pak Indra. Adit mengikutinya. Sementara Seno masih mau menemani koleganya.
“Selamat pagi, menjelang siang, Pak” ucap Fia permisi.
“Selamat siang” balasnya. ***By Srie

(Bersambung.......)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar