Jumat, 21 Oktober 2011

Cerber Empal Gentong (9): Rivalitas Terselubung

Oleh Sri Endang Susetiawati
Fia terlihat sedang makan siang di sudut sebuah rumah makan di bilangan Blok M. Ada Adit di hadapannya, yang masih setia menemaninya.
“Tegaan amat, kamu tinggalkan Seno sendirian di sana” ujar Adit sambil melahap ayam goreng kesukaannya.
“Peduli amat sama orang yang tidak pernah peduli sama aku sendiri” balas Fia, yang terlihat masih menyisakan daging rendang di dalam mulutnya.
Ada getaran di atas meja. Untuk sementara, pembicaraan mereka terganggu, saat sebuah panggilan telepon masuk di hape milik Fia.
“Dari Pak Indra” ucapnya.
Fia mengaktifkan loudspeaker-nya.
“Halo, iya Pak” ucap Fia lagi.
Kita sudah minta keterangan si ibu dan Pak Asep” suara Pak Indra.
“Bagus, Pak. Terus, bagaimana dengan si ibu?” balas Fia.
Dia tidak terlibat, dia mengaku pernah diberi kaleng racun, lalu diminta tolong oleh Asep untuk menaburkan racun di gentong empal. Tapi, dia tolak. Asep sempat meminjam kaleng itu, lalu dikembalikan lagi”.
 “Syukurlah”.
“Ada masalah sedikit, kita masih perlu saksi, orang yang melihat langsung saat pelaku menaburkan racun”.
“Kenapa tidak minta keterangan kepada orang yang selalu ada di depan warung Pak Haji Gendut ?” 
“Maksudnya ?”
“Coba, bapak tanyai lagi orang yang amat mungkin paling tahu saat kejadian waktu itu ?”
“Maksudnya, Pak Sanusi ?”.
“Iya, siapa lagi”.
“Baik, Terima kasih. Selamat siang”.
“Selamat siang, juga”.
“Gila, kamu Fia” komentar Adit, terlihat terkaget.
“Aku masih waras, Adit. Ha.ha.” balas Fia, dengan diiringi tertawa.
Adit masih terbengong.
“Jadi, Pak Sanusi, yang warungnya sering kita tongkrongi dan kita wawancarai beberapa kali....” ujar Adit terpotong.
“Iya, Pak Sanusi amat mungkin tahu saat Pak Asep menaburkan racun di gentong itu” potong Fia.
Adit menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau memang ini benar, kamu telah menjadi pemenang lagi atas persainganmu dengan Seno”.
“Persaingan apaan ?” tanya Fia.
“Persaingan yang mungkin kamu sendiri tidak sadari”.
Fia terlihat mengernyitkan dahinya. Jus alpukat bercampur susu coklat, masih terus ia sedot melalui mulutnya. Sejenak, ia lepaskan sedotannya.
“Aku tidak mengerti, dengan kata-katamu”.
Mulut Adit berdecak, matanya masih terus menatap wajah Fia.
“Kirain, aku saja yang sering dibuat tidak mengerti oleh kata-katamu. Rupanya, soal yang ginian, kamu pun bisa tidak mengerti juga”.
Sure, aku tidak mengerti” ucap Fia.
“Ada rivalitas terselubung yang dirasakan oleh Seno, karena ia merasa jauh lebih senior dibandingkan dengan kamu”.
“Oh, ya ?”.
“Tapi, bukan hanya itu saja yang membuat rivalitas itu terkesan lebih berwarna”
Sejenak, Adit menghentikan kata-katanya.
“Teruskan saja, aku siap menjadi pendengar yang baik, kok” ucap Fia.
Kemudian, Adit memulai kata-katanya lagi,
“Kedua mata Seno dan tubuh yang membungkus jiwanya, selalu berkata, dan aku sering menangkapnya” jelas Adit.
“Apa yang sering kau tangkap, Adit ?” tanya Fia, kian penasaran.
“Aku menangkap, ada getaran rasa yang sangat kuat, dari seorang laki-laki dewasa yang belum menikah terhadap perempuan cantik yang masih suka hidup melajang” jelas Adit lagi.
“Oh, jadi aku cantik ya ? Trims atas pujiannya. Usiaku masih cukup waktu untuk menunggu” ucap perempuan yang baru genap seperempat abad, pada bulan depan.
Bibir Adit memberi senyum.
“Pria mana yang masih harus kamu tunggu, Fia ?” tanya Adit mulai penasaran.
Kini, gantian Fia yang tersenyum, terlihat menyisakan lesung pipit di kedua pipinya.
“Pria mana, ya ? Kamu, kali” jawab Fia sembari menunjuk.
“Boleh, hari ini juga, nanti kamu akan kubawa ke rumahku” balas Adit.
“Mau diapain ?” tanya Fia.
“Mohon ijin ke istriku, untuk menikahimu jadi istri keduaku” jawab Adit bercanda.
“Ha..ha..ha..ha...” suara mereka tertawa.     
   
 Fia dan Adit sudah berada di pingir lapangan. Teriakan suara Jurkam terus terdengar, menyelingi iringan musik dangdut yang ikut menghibur sekitar tiga ribuan massa beratribut warna merah itu. Tidak ada setengahnya dari luas lapangan yang tersedia, yang terisi oleh massa. Mereka hanya terlihat memadati di sekitar panggung kampanye saja. Kedua wartawan itu hanya duduk santai, ikut menyaksikan mereka.
Hape Fia kembali bergetar dari dalam kantong sakunya. Fia langsung mengangkatnya.
“Iya, Halo, Pak” ucap Fia, terlihat sedang berebut suara.
“Kami sudah di lapangan, Pak”.
Adit terus mengamati, sesekali ia mencoba untuk mencuri dengar dari suara lawan bicara.
“Seno sudah ada di situ, kan ?”.
“Iya, biarkan dia saja yang melaksanakan tugasnya”.
“Terima kasih, Pak” pungkas Fia mengakhiri hubungan telepon.
Adit sudah penasaran ingin segera tahu.
“Bagaimana, Fia ?” Fia tersenyum,
“Sebentar lagi, penangkapan caleg itu akan terjadi”.
“Oh, iya ?” ucap Adit gembira.
“Serse Polres Jaksel telah ada di sini” ujar Fia lagi.
“Kalau Pak Asep bagaimana ?” tanya Adit.
“Setelah kesaksian Pak Sanusi, dia tidak bisa mengelak lagi. Katanya, Asep terpaksa melakukan sendiri, karena telah terima uang dari Dani, mantan Ketua PAC” jelas Fia.
Handphone kembali bergetar. Giliran Adit yang menerima panggilan telepon.
“Halo. Halo. Iya. Dimana ?” ucapnya.
“Oke, Aku akan ke sana” ucap Adit lagi sambil setengah berteriak.
Adit langsung mengajak Fia untuk mendekati belakang panggung.***By Srie.

(Bersambung.....)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar