Sabtu, 29 Oktober 2011

Cerber Meranggas (1): Neng Guru Kamilia


Oleh Sri Endang Susetiawati
Tangan Kamilia membuka kedua daun jendela kamarnya lebar-lebar. Wajah putihnya yang oval, dibiarkan saja menerima dengan rela sapaan angin pagi yang meniup lembut dan segar, hingga rambut hitamnya yang lurus sebahu tampak tergerai indah melambai-lambai. Hidungnya yang mungil mancung, dengan sengaja terus menghirup udara pagi dalam-dalam hingga tak menyisakan sedikitpun rongga kosong di paru-parunya.
Usai oksigen terpakai dan melarut dalam aliran darah, sisa udara itu ia biarkan keluar secara perlahan melalui jalan yang sama. Ia ulangi lagi berkali-kali. Mengambil nafas, terus  mengeluarkannya kembali dalam irama yang penuh dengan sensasi di pagi hari. 

Kedua matanya yang terlihat makin sipit terus menatapi suguhan pemandangan pepohonan yang tinggi mengering. Dedaunan yang lebar dan kasar terus berjatuhan menutupi permukaan tanah di sekelilingnya. Sebuah hamparan pohon jati yang tengah meranggas. Menimpa rerumputan ilalang di tengah-tengahnya yang lebih dulu mengering.
Seolah  memberi reaksi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan musim yang sedang terjadi. Bagi penduduk sekitar, meranggasnya pohon jati dianggap sebagai siklus tahunan, pertanda musim halodo (kemarau) tengah berlangsung. Sudah dua kali ini, Kamilia melihat pepohonan jati yang tengah meranggas. Kali ini, ia melihatnya sejak satu setengah bulan terakhir.
Masih dalam balutan baju tidurnya yang membungkus tubuh kecilnya itu, ia terus mempersilakan udara pagi untuk masuk ke kamar dengan sesukanya. Sementara, ia sendiri mulai mengerjakan kegiatan rutinnya, memberesi tempat tidur, terus menyapu kamar, ruangan tengah dan ruangan tamu. Sekarang, ia sedang menyapu halaman depan rumah.
Sebuah rutinitas yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh si empunya rumah. Namun, Kamilia tetap saja memaksa. Katanya, karena ia suka dan sudah terbiasa. Bisa saja ia mengatakan begitu. Mungkin, alasan sebenarnya yang lebih jujur adalah karena perasaannya sendiri yang tidak enak, karena telah diperlakukan begitu baik oleh seorang perempuan paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.    
“Neng guru.... sarapannya tos (sudah) siap di meja makan” ucap seorang perempuan paruh baya itu dari dekat pintu depan.
Sumuhun (iya) bu ... Pameung (tanggung). Sebentar lagi, menyapunya mau selesai”
“Sini, Ibu yang teruskan menyapunya. Neng guru ibak bae (mandi saja) atuh,  sana ...”
Dengan sedikit agak terpaksa, Kamilia menuruti saja permintaan ibunya itu. Ia merasa beruntung. Sejak pertama kali ia bertugas sebagai seorang guru PNS yang ditempatkan di sebuah kecamatan, di daerah perbatasan antara provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah itu, ia langsung mendapatkan tempat kos, berupa kamar di bagian depan dari sebuah rumah permanen yang cukup memadai. Sebuah rumah berukuran cukup besar yang berdinding putih dan berlantai keramik putih dengan motif bunga yang sebenarnya tidak pernah diniatkan oleh pemiliknya untuk dipakai sebagai tempat kos.
Berkat bantuan dari rekan kerjanya, seorang guru yang lebih dulu menetap di desa setempat, maka Kamilia memperoleh tempat tinggal bersama penghuninya, sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Penduduk setempat menyebut mereka dengan sapaan Pak Haji Ulis dan Bu Haji Ulis. Ulis bukanlah nama sebenarnya, tapi nama salah satu jabatan di pemerintahan desa.
Ulis adalah sapaan singkat dari juru tulis desa, yang berarti sebuah jabatan bernama Sekretaris Desa (Sekdes) yang dipakai pada jaman dulu. Meskipun secara resmi sudah diganti menjadi Sekdes, namun dalam kesehariannya hingga saat sekarang, seorang Sekdes tetap saja selalu disapa oleh warganya dengan sapaan Pa Ulis.
Nama sebenarnya dari mereka adalah Pak Ahmadi dan Bu Rokayah, yang telah menunaikan ibadah haji sejak tujuh tahun yang lalu. Meskipun Pak Ahmadi telah lama pensiun. Bahkan, meski telah belasan tahun lalu berhenti dari jabatannya sebagai juru tulis desa, warga sekitar tetap saja memanggilnya Pak Ulis. Setelah mereka sempat ke tanah suci, panggilannya bertambah menjadi Pak Haji Ulis dan Bu Haji Ulis.*** By Srie

(Bersambung.....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar