Senin, 03 Oktober 2011

Khianat, Sang Pejabat

Oleh Sri Endang Susetiawati
Bak petir di siang bolong. Rumor itu, akhirnya terpecahkan juga. Semula, hampir aku tidak percaya. Namun, kedua telingaku telah mendengar secara langsung dari seseorang yang hampir 30 tahun aku percayai. Sungguh, aku masih mencintai sepenuh hati, segenap jiwa dan ragaku pada laki-laki yang kini menyandang jabatan tinggi di negeri ini.
“Benar, Bu. Maafkan saya...” ucapnya agak terbata.
Siang itu aku terkulai lemas. Terjatuh, di atas anak tangga yang ke tujuh. Perasaanku telah membuat kedua mataku seolah berubah menjadi gelap. Nalarku menjadi tumpul. Entah, tak tahu apa lagi yang harus aku perbuat.

Kepalaku benar-benar terasa pusing. Amarahku yang tertahan telah membuatku tak mampu lagi mengendalikan diri. Tubuhku bergetar. Emosiku memuncak. Aku tak sadarkan diri untuk beberapa saat lamanya. Hingga, aku terjaga kembali setelah berada di atas tempat tidurku.  
Hampir tujuh hari, aku butuh waktu untuk kembali mempertanyakan sebuah kepastian. Tepat di saat malam Jum’at, hampir tengah malam. Aku sungguh-sungguh  katakan mengenai tuduhanku yang selama ini hanya bisa kupendam.
“Kamu telah berbohong, Pak... Engkau telah menghianatiku...” ucapku dengan mulut yang bergetar seiring dengan isak tangisku yang tak kuasa lagi untuk terus bertahan.
Aku lihat dia hanya terdiam. Raut wajahnya seolah berkata tentang sebuah penyesalan yang sangat mendalam atas sebuah keputusan yang telah dilakukan. Ia berusaha untuk meraih kembali simpatiku, dengan menunjukkan diri begitu sangat berempati atas segenap perasaanku di malam itu.
“Iya, saya akui. Maafkan saya, Bu..” ucapnya dengan wajah yang berhias salah, dan tertunduk malu.
“Saya akan maafkan, Pak. Hanya dengan satu syarat...” ucapku, sambil mengacungkan jari telunjuk di hadapannya.
“Apa itu, syaratnya?”
“Hmm....”
Tiba-tiba aku tergagap. Aku sempat gagal untuk langsung menjawabnya. Ada keraguan yang sempat mengganggu perasaanku. Aku hanya bisa meneruskan senggukanku.
“Katakanlah, Bu.....” pintanya.
“Ceraikan istri mudamu, Pak... Biarkan saya yang tetap menjadi istrimu satu-satunya..” ucapku dengan wajah yang masih tertunduk lesu.
Aku tak mendengar lagi balasan kata-kata darinya. Dalam keraguan, aku menunggu untuk beberapa saat lamanya. Hingga,  di saat yang aku anggap tepat, aku mulai beranikan diri untuk mengangkat wajahku.
Kedua pasang mata kami sempat berpapasan. Wajahnya tampak kian memerah. Aku hanya bisa menatapnya, sambil terus berusaha menunggu jawaban. Sejujurnya, aku pun mulai terbawa gelisah.  
“Hmm.... Perbuatanku ini, kan halal Bu....” katanya berdalih kembali.
“Benar, Pak. Menggugat cerai pun halal..” balasku dengan cepat, penuh keyakinan diri.
Tampak ia kembali terkaget. Tiga kali aku lihat ia mengambil nafas dalam-dalam. Seolah ada beban berat yang hendak dihempaskan. Tergambar jelas, ada perasaan marah yang berbaur dengan penyesalan. Lalu, sesekali kedua tangannya menutupi wajahnya.
“Tidakkah engkau bersedia menghiasi perasaanmu dengan kesabaran, lalu ditukar  dengan balasan surga, nanti?” katanya dengan sangat perlahan.
“Apa? Balasan surga?” balasku, sungguh terkaget dengan nada suara yang meninggi.
“Ya...”
Aku sempat menitikkan air mata yang membasahi di ke dua pipiku. Sungguh, aku tidak menduga kata-kata seperti itu yang akan keluar dari bibirnya. Aku merasa tersudut untuk memberikan pilihan jawaban. Hatiku kian bertambah perih, serasa teriris-iris dan tertusuk-tusuk, entah oleh benda tajam apakah itu. Hingga, sampai juga di mata ulu hatiku yang terdalam. Aku merasakan sakit yang sangat luar biasa.  
“Pak.... Biarlah, saya pilih sendiri jalan menuju surgaku...” ucapku lirih, sambil berusaha untuk tetap tegar.
“Apa maksudnya, Bu?”
“Perceraian kita tidak lantas membuat pintu surga tertutup bagiku, bukan?..”
“Bu...”
“Saya pilih jalan ke surga, dimana hari nurani wanita tidak terus menderita, Pak...”
Suasana hening tiba-tiba menyergap kami berdua. Kami sama-sama tertunduk, sambil terus menatap ruang kosong di hadapan kami masing-masing. Kini, giliranku yang mencoba berjuang untuk mengambil nafas secara perlahan.
“Bu, Tuhan membuka ruang untuk suami bisa berpoligami..” ucapnya, berusaha memecah kembali kebuntuan.
“Benar, Pak. Tapi, suami itu bukan untukku.... silakan cari wanita yang lain saja....”
“Engkau berani menantang hukum Tuhan, Bu?”
“Tak ada satu pun makhluk yang layak bersaing dengan Tuhan, apalagi bermaksud untuk menantang-Nya. Saya cuma menentang egoisme seorang laki-laki...”
“Bu, Rasul pun telah melakukan sunahnya......”
“Engkau yakin, akhlakmu telah sederajat dan semulia dengan Nabi dan Rasulmu?”
“Maksudnya?”
“Engkau gunakan atas nama sunah untuk menutupi apa yang sesungguhnya berada di dalam hatimu, Pak..?”
Secara perlahan, ia mulai berusaha mendekati posisi dudukku. Matanya, terlihat mulai berkaca-kaca. Lalu, kedua tangannya memegangi bahuku.
“Bu, berpikirlah sedikit bijak untuk kali ini saja. Saya memohon padamu, demi masa depan anak-anak kita juga...”
Aku beranikan diri menatapi wajahnya dengan jarak yang sangat dekat. Aku geleng-gelengkan kepalaku dengan sangat yakin. Sesaat kemudian, aku bangkit dari tempat dudukku. Aku berdiri tegak. Ia pun ikut berdiri. Lalu, aku katakan saja apa adanya.
“Pak, engkau minta istrimu bersikap bijak, namun diri sendiri tidak melakukannya untuk sang istri?”
“Bukan begitu, Bu...”
“Bersikap bijak, adalah ketika seorang suami mau mengerti dan menghargai perasaan istri...”
“Jadi...?”
“Besok pagi, aku daftarkan gugatan ceraiku di Pengadilan Agama Jakarta Selatan....”
“Bu..... habislah jabatanku sampai di sini....”
“Selamat malam... Pak” pungkasku, sambil menganggukkan kepala.
Dia terlihat masih berdiri mematung. Aku langkahkan kaki menuju kamarku. Lalu, kututup pintu untuk mempersilakan suamiku tidur di kamar sebelahku. Keputusanku telah bulat aku ambil.***By Srie.
Salam Persahabatan,

Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar