Rabu, 19 Oktober 2011

RSBI Dianggap Bikin Kasta, Guru Ajukan Judicial Review UU Sisdiknas


TEMPO Interaktif, Jakarta:- Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Listyarti menyatakan akan mengajukan judicial review Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. “Kira-kira dua minggu lagi,” kata Retno di kawasan Utan Kayu, Senin 17 Oktober 2011.

FSGI bakal mengajukan permintaan review kepada Mahkamah Konstitusi bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat lainnya, yaitu Indonesia Corruption Watch, Elsam, Lembaga Bantuan Hukum Pendidikan, Koalisi Pendidikan. Secara spesifik mereka menggugat Pasal 50 Ayat 3 UU Sisdiknas yang mewajibkan setiap kabupaten/kota memiliki sekolah berlabel RSBI.


Kini, Retno bersama timnya tengah merampungkan kajian atas pasal tersebut. “Kami harus hati-hati, jangan sampai salah mengajukan,” kata dia.

Prof. Henry Alex Rudolf Tilaar dan Prof. Winarno Surahman pun telah dipinang sebagai saksi ahli. Prof. Tilaar adalah , Guru Besar Universitas Negeri Jakarta. Sedangkan Prof. Winarno pernah membuat puisi terkenal, "Kapan Sekolah Kami Lebih Baik dari Kandang Ayam".

Keberadaan RSBI meang sudah lama menuai kritik dari FSGI. Sebab, sekolah macam ini justru menimbulkan stratifikasi di kalangan murid. Di sekolah Retno misalnya, SMA 13 Jakarta yang telah tergolong RSBI, ada kastanisasi. Di dalamnya ada kelas internasional dan kelas lokal.

Dalam kelas internasional, siswa menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar. Fasilitas belajar pun jauh berbeda. Kelas internasional punya meja dan kursi yang tergolong mewah serta loker untuk tiap anak. Sedangkan, di kelas lokal fasilitas kelas sudah tua. “Pendidikan harusnya berdasar nilai dan budaya kita. Bukan seperti naik pesawat, ada kelas ekonomi dan eksekutif,” tegas Retno.

Di Jakarta sendiri tercatat sejumlah sekolah telah dibanderol internasional. Di Jakarta Utara dan Pusat ada SMA 13 dan SMA 8. Bagian timur dan barat ada SMA 81 dan SMA 78. Sedangkan di selatan ada SMA 70. “Di SMA 13 tiap siswa membayar Rp. 31 juta per tahun, di SMA 8 Rp. 40 juta per tahun,” ungkapnya.


ATMI PERTIWI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar