Minggu, 23 Oktober 2011

Sejarah Intervensi AS: Ada Minyak, Dibalik “Perang-Perangan” Vietnam (2)

Oleh Sri Endang Susetiawati
(Tulisan sebelumnya di sini)

Pada tahun 1950 metode eksplorasi minyak bawah laut lebih dikembangkan dengan meng gunakan ledakan kecil di dalam air, sehingga menghasilkan efek gema suara yang memantul dari berbagai lapisan batuan di bawahnya. Dengan metode ini, surveyor kemudian bisa menentukan lokasi yang tepat, dimana akumulasi cadangan minyak yang besar terdapat dibawahnya. 

Jika metode ini digunakan di lepas pantai Vietnam, maka Standar Oil dianggap tidak memiliki hak, sehingga Vietnam, Cina, dan Jepang mungkin akan beradu cepat dengan Perancis untuk mengadu pada PBB, bahwa Amerika telah mencuri minyak, dan diminta untuk segera menutup operasinya.


Itulah gunanya perang Vietnam. Kegiatan survei cadangan minyak dapat dilakukan dengan tanpa kekhawatiran pengaduan negara-negara lain ke PBB. Pada tahun 1964, setelah Vietnam terbagi menjadi dua, yaitu Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, serta peristiwa “Teluk Tonkin”, beberapa kapal induk AS ditempatkan di lepas pantai Vietnam,  dan "perang" pun dimulai. Setiap hari ada pesawat jet lepas landas menuju lokasi pengeboman di Utara dan Vietnam Selatan.

Selanjutnya, dengan menggunakan prosedur militer yang normal, pesawat itu kembali ke kapal induk, lalu membuang ledakan bom yang tersisa di laut sebelum kembali mendarat. Tentu saja, pengeboman “bohong-bohongan” dilakukan di  zona aman yang telah ditentukan, jauh dari posisi oeperasi survei. Para pengamat hanya akan melihat ledakan kecil yang terjadi setiap hari di perairan Laut Cina Selatan dan berpikir itu hanya bagian dari "perang."

Untuk menutupi fakta bahwa perang Vietnam hanyalah “perang-perangan”, “perang palsu”, atau bukan perang sesungguhnya, maka diperlukan alasan yang memadai untuk mengakhiri perang. Apa yang dilakukan? Pada akhir 1960, Standar Oil merekrut banyak  pemuda idealis yang menentang perang dan wajib militer. Perusahaan minyak ini memberikan dukungan penuh pada mereka dalam hal bantuan keuangan dan organisasi.

 Mereka, para pemuda idealis tersebut, diorganisir dan sepenuhnya didukung untuk melakukan demonstrasi besar-besaran secara terus-menerus yang menyatakan anti perang Vietnam sepanjang tahun 60-an hingga 70-an. Ternyata, hampir tidak ada demonstran yang tahu bahwa mereka sedang diperalat atau dimanfaatkan oleh kepentingan pengusaha minyak tersebut. Sebuah keadaan yang dianggap memiliki kaitan dengan mundurnya Presiden Nixon atas kasus Watergate, kemudian digantikan oleh Gerald Ford dengan wakilnya Nelson Rockefeller, salah seorang cucu pendiri Standar Oil.

Pada tahun 1995, jelang normalisasi hubungan AS-Vietnam, dalam sebuah siaran TV  BBC tentang industri minyak, presiden salah satu perusahaan minyak, anak perusahaan dari Standar, dengan enteng menyatakan,
".... Itu hanya kebetulan, bahwa kami baru selesai melakukan survei minyak lepas pantai saat hampir bersamaan dengan hari terakhir perang, seperti helikopter terakhir meninggalkan atap kedutaan di Saigon... ".

Benarkah hanya kebetulan? Pada 15 tahun kemudian, usai penyatuan kembali Vietnam Utara dan Vietnam Selatan (1975), ketika kebanyakan orang sudah lupa tentang "perang," dan saat Vietnam membutuhkan uang tunai, maka eksplorasi minyak lepas pantai pun mulai dimungkinkan bagi perusahaan swasta asing. Pembagian zona eksplorasi minyak pun dilakukan oleh pemerintah Vietnam, untuk kemudian ditawarkan kepada sejumlah perusahaan minyak asing dari berbagai negara.

Beberapa perusahaan minyak dari 12 negara mengajukan penawaran. Antara lain, Statoil Norwegia, British Petroleum, Royal Shell Belanda, bahkan Rusia, Jerman dan Australia pun termasuk dalam tawaran eksplorasi tersebut. Bagaimana hasilnya? Perusahaan dari berbagai negara yang melakukan pengeboran di bagian ladang mereka hanya mendapatkan lubang kering tanpa hasil minyak. Hanya perusahaan milik "Amerika" yang berhasil menangguk kuntungan miliaran dolar, di ladang Golden Dragon, Blue Lotus, dan White Tiger, ladang minyak di Laut Cina Selatan, lepas pantai Vietnam.

Apakah semuanya itu hanya kebetulan? Apakah perusahaan minyak AS itu hanya sedang beruntung saja? Tentu saja tidak. Perusahaan AS telah tahu letak cadangan minyak, sementara perusahaan-perusahaan minyak negara lainnya tidak. Mengapa lebih tahu? Karena, mereka telah melakukan survei selama 10 tahun, saat perang Vietnam berlangsung. Itulah hebatnya Amerika! Peluang bisnis di Vietnam kian terbuka, dan pada tahun 1995 hubungan Vietnam-AS pun dinormalisasi.

Hmm... sebuah model operasi politik, bisnis, dan militer yang dikemas secara rapi. Tentu saja, dalam prakteknya minyak bukanlah satu-satunya faktor dalam setiap peperangan. Ada banyak faktor lain yang turut menciptakan sebuah perang. Tak terkecuali berlaku pula pada operasi AS di Afghanistan, Irak, di negeri Balkan, pecahan Yugoslavia, seperti Kosovo dan Albania, serta pecahan Uni Sovyet, khususnya Chechnya. Dan, tentu saja AS terlibat di Libya, untuk kemudian ke Suriah dan Iran.

Tentu, dengan model intervensi dan isu yang yang sedikit agak dimodifikasi, antara lain atas nama senjata pemusnah masal, demokratisasi, hak asasi, kesetaraan gender, terorisme, dan seterusnya. Faktor dalam negeri pun turut berpengaruh atas terjadinya intervensi tersebut. Kombinasi dari berbagai variabel yang terkait menjadikan perang menjadi sesuatu yang cukup kompleks. Namun, faktor minyak tetaplah merupakan salah satu faktor dominan dalam banyak perang.

Semoga, Indonesia mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk yang berakibat atas rusaknya persatuan dan kesatuan bangsa dan negara yang sama-sama kita cinta ini. *** By Srie.
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar