Jumat, 04 November 2011

Cerber Meranggas (2): Sok Idealis


Oleh Sri Endang Susetiawati
Mereka memiliki lima orang anak, yang seluruhnya sudah berkeluarga. Tiga orang anak laki-laki, bertempat tinggal di Jakarta, sedangkan dua anak perempuannya tinggal di Bekasi dan Tangerang.
Banyaknya anggota keluarga yang berurbanisasi ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi,  Bandung dan Jogjakarta merupakan fenomena sosial yang umum terjadi di daerah ini. Banyak diantara mereka yang menjadi penjual mi instan rebus, bubur kacang hijau, atau pedagang rokok asongan. Ada yang masih tetap sebagai pelayan warung, tapi ada pula yang sudah meningkat menjadi juragan (bos).

Di sekitar kawasan pinggiran kota-kota besar itu, keberadaan mereka mudah dikenali. Mereka biasa menamakan warungnya dengan tulisan Kuningan Asri, karena memang mereka berasal dari daerah Kuningan.
Sebuah daerah kabupaten di lereng Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, yang dikenal dengan sebutan kota kuda. Sebutan yang melekat dan menjadi  lambang daerah, konon karena adanya legenda seekor kuda kecil yang tangguh yang dinaiki oleh seorang pangeran Arya Kemuning. Pun, karena hingga saat ini, kuda delman masih merupakan bagian dari sarana transportasi sehari-hari yang digunakan oleh sebagian warga Kuningan. 
Kamilia, yang kini telah berganti baju dengan seragam coklat khas pegawai pemda, masih duduk di depan meja makan. Sementara Bu Ulis masih setia menemaninya, layaknya seorang ibu yang memperlakukan begitu sayang kepada anak kecilnya sendiri.
Tuangna (makannya) ditambah atuh neng guru...”
“Sumuhun, Bu... Sudah kenyang” balasnya singkat, dengan wajah tersenyum yang kini telah dibalut oleh kerudung berwarna biru muda.
“Ya sudah. Neng guru siap-siap saja berangkat ke sekolah. Biar Ibu yang memberesi piringnya”
Kembali, walau agak kurang enak, Kamilia menuruti permintaan ibunya. Ia menyempatkan diri untuk menggosok gigi, kemudian masuk kembali ke kamarnya untuk merapihkan penampilannya, terutama pada bagian wajahnya, di depan kaca. Tampak wajah cantik dari seorang perempuan yang masih gadis yang berprofesi sebagai guru PNS. Sebuah profesi yang sangat diiinginkannya sejak ia duduk di bangku SMA. Sehingga untuk memperoleh profesinya, ia harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu di Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Bagi Kamilia, menjadi seorang guru adalah panggilan jiwanya. Sama sekali, bukan karena faktor keterpaksaan oleh suatu hal yang tak sedikit terjadi pada sejumlah rekan guru lainnya. Menjadi guru, kata salah seorang dosennya saat di bangku kuliah, bukanlah semata-mata sebagai sebuah pekerjaan yang mengajarkan materi pelajaran kepada siswa di depan sebuah ruangan kelas. Namun, lebih dari pada itu, dan yang terpenting adalah ia menjadi seorang pendidik bagi murid-muridnya.
Ia masih ingat dan ternging-ngiang selalu saat dosennya mengajukan sebuah pertanyaan tentang  perbedaan antara tugas mengajar dan mendidik dari seorang guru. Lalu, ia jawab sendiri pertanyaannya itu dengan gamblang. Katanya, mengajar itu lebih pada sekedar mentransfer pengetahuan (aspek kognitif) dan ketrampilan (aspek psikomotorik) yang dimiliki oleh seorang guru kepada muridnya. Sedangkan, mendidik adalah lebih luas dan lebih dalam dari mengajar.
Ia juga harus mampu memotivasi, menanamkan nilai-nilai yang baik dan benar, mengembangkan sikap dan kepribadian, dan mengarahkan perilaku anak didiknya (aspek afektif), sesuai dengan tujuan dan misi pendidikan nasional, yaitu membina manusia yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian yang baik, berwawasan luas, berilmu pengetahuan yang tinggi dan memiliki ketrampilan yang memadai bagi keperluan hidupnya di masa yang akan datang.
 Rekan-rekannya sesama mahasiswa, saat itu menyebutnya sebagai sesuatu yang sangat ideal. Sebagai tujuan ideal dari sebuah proses pendidikan. Guru yang melaksanakannya juga dianggap sangat ideal, sehingga suka disebut sebagai guru yang idealis. Meskipun dalam prakteknya, sebutan itu sering ditambah dengan kata sok didepannya, menjadi guru yang sok idealis, yang biasanya diucapkan dengan nada yang cukup sinis oleh beberapa orang di antara mereka sendiri yang sudah terlebih dahulu menjadi guru.
Sebutan guru sok idealis itulah, yang sempat diterima secara berbisik oleh Kamilia dari rekan-rekannya sesama guru di sekolah pada saat awal ia mengajar. Bahkan, secara tersamar sebutan itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Sebuah perlakuan yang cukup mengherankan bagi Kamilia, dan cukup membuat pusing dirinya saat ia memulai untuk menyesuaikan diri.*** By Srie

(Bersambung......)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar