Minggu, 06 November 2011

Cerber Meranggas (3): Terasing

Oleh Sri Endang Susetiawati
Berbulan-bulan ia merasakan keheranan yang berketerusan. Suatu perasaan yang terombang-ambing, tersapu oleh alunan ombak tanpa henti, bergerak ke sana kemari di antara dua sisi, antara idealisme dan realitas. Antara seorang pendidik yang ditopang oleh nilai-nilai luhur dan seorang pengajar yang menganggapnya tak lebih dari sekedar menunaikan tugasnya sebagai tukang mengajar semata.     
Kamilia berpendapat bahwa tugasnya sebagai guru diniatkan juga sebagai bagian dari amal ibadahnya, dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi murid-muridnya. Ia yakin ilmunya yang diajarkan kepada muridnya itu akan berbuah pahala yang terus mengalir hingga kelak saat ia telah meninggal dunia. Setidaknya, begitu yang ia yakini sesuai dengan janji Tuhan yang pernah ia pelajari melalui pendidikan agamanya.

Meskipun begitu, sempat juga ia hendak menyerah saat menghadapi banyak kenyataan yang tidak mendukung idealismenya. Bukan hanya kenyataan dari rekan guru yang kebanyakan lebih suka memilih untuk memerankan diri sebagai tukang mengajar saja. “Buat apa cape-cape, mau rajin atau malas,  toh gajinya juga sama saja” ucap salah seorang rekan guru senior pada suatu kesempatan yang masih teringat oleh dirinya.
Kenyataan murid-muridnya pun secara umum dalam keadaan yang hampir sama. Mereka terlihat hanya sebatas menjalankan tugas sebagai pelajar, atau hanya sekedar lebih baik dari pada tidak sekolah sama sekali. Mereka terlihat malas-malasan, kurang bersemangat, terkesan pasif, dan banyak yang suka bolos sekolah. Bagi kebanyakan mereka, sering libur sekolah akan dirasakan sebagai hal yang lebih baik, termasuk saat guru tidak hadir di kelas, atau mereka lebih cepat pulang dari jadwal seharusnya.
    Kamilia hadir sebagai sosok yang sangat asing di tengah belantara hiruk pikuk kenyataan yang oleh mereka dianggapnya sebagai suatu keadaan yang sudah biasa. Suatu keadaan yang tidak perlu diajukan sebuah pertanyaan sekalipun, apalagi berniat untuk memprotesnya, atau bahkan kemudian bermaksud untuk melawannya.  Sebuah niat yang oleh mereka dianggap tidak taktis dan tidak cerdik, bahkan terkesan konyol, di saat masih banyak mereka yang mau antri untuk sekedar menjadi seorang pegawai negeri.
“Syukuri saja, kamu sudah jadi PNS. Sekarang laksanakan tugas, seperti biasa. Yang penting tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan atasan kita” kata salah seorang guru senior yang lain kepada Kamilia pada suatu waktu.
Kamilia mulai memahami kata-kata dari para seniornya itu. Ia pun mulai beradaptasi dengan kenyataan yang melingkupinya. Bahkan, sempat terlontar kata-kata yang sebelumnya ia sendiri sama sekali tidak pernah duga.
“Betul juga. Kenapa harus pusing-pusing memikirkan anak-anak orang lain, yang memang maunya begitu. Sementara, saya sendiri bukan penduduk asli di sini”.
Kamilia hampir saja menyerah. Mau bertekuk lutut tanpa syarat pada kenyataan yang berdiri tegar dihadapannya. Sepertinya, tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti langgam yang sedang dimainkan oleh kebanyakan rekan-rekan seprofesinya. Cukup melaksanakan tugas mengajar, selama 24 jam pelajaran setiap minggu. Itu pun masih bisa berkurang, dengan cepat-cepat membiarkan anak-anak pulang lebih awal agar mereka senang penuh riang kegirangan.  Sudah lebih dari cukup alasan untuk menangkal seandainya akan ada tuduhan, bahwa mereka seolah makan gaji buta.
Namun, hal itu tidak sempat berlangsung lama. Hanya beberapa minggu saja. Kamilia merasa telah menemukan kembali semangatnya, saat ia mengamati sosok perempuan kecil, yang menjadi salah seorang muridnya, yang kini telah duduk di Kelas III atau kelas IX, untuk penyebutan yang baru, kelanjutan dari kelas VI di tingkat SD. Siswi itu bernama Nuriyani. Teman-temannya biasa memanggil Nuri. ***By Srie

(Bersambung.....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar