Jumat, 18 November 2011

Cerber Meranggas (4): SMPN 5 Cibingbin


Oleh Sri Endang Susetiawati
       
Bagi Kamilia, Nuri adalah sosok murid yang istimewa. Nuri dianggap mewakili citra ideal dari seorang siswi yang nyaris sempurna, sesuai dengan apa yang dikehendakinya.  Seorang siswi yang terlahir di tengah keluarga miskin, yang tidak menunjukkan prestasi apapun saat ia duduk di Kelas I SMP.
Bahkan ia dikenal sebagai sosok yang pemalas, apatis dan kurang bergaul. Kehadirannya di kelas tak lebih dari sekedar perwujudan keharusan saja dari sebuah perintah orang tuanya untuk terus bersekolah.

Hanya dalam satu tahun, sejak perkenalannya dengan dirinya yang intensif walau awalnya tidak dengan sengaja, Nuri kini telah berubah menjadi sosok murid yang berprestasi, bersemangat, ceria, suka bergaul dan menyenangkan bagi teman-teman dan guru-gurunya. Ia telah berhasil menjadi Juara I di kelas II semester genap, dan Juara Umum di sekolahnya saat duduk di Kelas III semester ganjil yang lalu.
Bukan hanya itu, ia pun telah menjadi motor bagi teman-teman lainnya dalam sejumlah kegiatan di sekolah. Ia aktif di OSIS, di perpustakaan, di majalah dinding dan menjadi Ketua Kelas. Bahkan atas insiatifnya sendiri ia mengajak teman-temannya untuk membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengambil tempat di salah satu rumah rekannya atau di sekolah, saat usai pulang sekolah atau saat hari libur.
Pendeknya, Nuri telah menjadi pelita yang menyala terang, yang telah mampu memberi cahaya petunjuk pada sesama rekannya sendiri,  yang sedang melaksanakan tugas di tengah keremangan malam. Panasnya telah memberi kehangatan bagi teman-temannya, juga bagi gurunya, memberi semangat kembali kepada mereka yang hampir padam. Nuri telah menjadi contoh dan kebanggaan bagi rekan-rekan sesama murid, bagi guru-guru, bagi Kepala Sekolah dan bagi segenap karyawan di sekolahnya. Termasuk bagi guru Kamilia, yang menganggap Nuri sebagai teramat spesial, hingga tak akan mungkin mampu ia jelaskan dengan kata-kata, bagaimana posisi spesial muridnya itu, khusus bagi dirinya.
Sekarang, Kamilia sudah berada di depan rumah. Ia telah bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Tugas rutinnya yang ia laksanakan setiap hari kecuali hari Rabu dan Minggu, yang dipergunakannya sebagai hari libur.
“Pak Haji, kemana Bu ?”
“Biasa, Bapak mah. Pagi-pagi, sudah pergi. Kalau tidak ke kebon, ya ke sawah” 
“Assalamu’alaikum, Bu...” ucapnya setelah mencium tangan kanan ibunya.
Bu guru Kamilia telah berada di jalan dengan sepeda motor jenis matic miliknya, yang ia beli dengan cara mengangsur dan baru lunas sekitar dua bulan yang lalu. Meskipun jarak dari rumah ke sekolah tempatnya ia bekerja hanya sekitar satu kilometer lebih saja, ia menganggap perlu untuk memiliki kendaraan sendiri.
Angkutan umum, sejenis angkot berwarna kuning,  memang ada yang dapat mengantarnya ke tempat kerja. Namun, jumlahnya masih cukup terbatas. Apalagi,  di waktu pagi hari dan di saat siang pulang sekolah,  selalu terisi penuh oleh anak-anak sekolah . Sedangkan di sore hari, angkutan umum sudah mulai jarang beroperasi. 
Sepanjang jalan ia melewati deretan pepohonan jati yang memanjang di sebelah kiri dan kanan jalan. Udara masih terasa segar, di jalanan yang tidak terlalu banyak kendaraan berlalu lalang. Tak terasa, hanya butuh waktu lima menit saja, bu guru Kamilia sudah sampai di tempat yang ia tuju.
Sebuah papan nama tampak jelas terpampang di depan bangunan sekolah yang terletak persis di sisi selatan jalan raya.  Papan nama itu bertuliskan “SMP Negeri 5  Cibingbin Kabupaten Kuningan”. *** By Srie.

(Bersambung........)

1 komentar:

  1. ke, nyaros-nyarios, ari arti meranggas teh naon? ya. arti menurut bahasa

    BalasHapus