Sabtu, 12 November 2011

Dari Blog Lahirlah Buku: Islam, Ajaran Damai dan Perubahan Sosial

Resensi Buku: Islam, Ajaran Damai dan Perubahan Sosial
Oleh Sri Endang Susetiawati
Gugatan terhadap ajaran sebuah agama akan selalu ada pada setiap masa. Tak terkeculi dengan ajaran agama Islam. Agama yang terlahir lebih dari 15 abad yang lalu akan terus menuai kritik dan gugatan dari sejumlah pihak. Terutama,  terkait dengan relevansinya atas kehidupan umat manusia pada zaman sekarang. Suatu zaman yang dianggap sudah jauh berbeda dan telah banyak berubah secara mendasar.
Masihkah ajaran Islam mampu menopang sebuah peradaban modern yang memiliki jarak perbedaan waktu dan tempat yang membentang belasan abad yang lampau? Masihkah relevan sebuah nilai-nilai peradaban masa lalu yang cukup sederhana di sebuah jazirah Arab dihadirkan kembali pada zaman global masa kini yang serba canggih dan kompleks?

Dalam konteks Indonesia, masihkan Islam mampu mewarnai secara signifikan atas perilaku dan budaya bangsa? Skeptisisme, atau bahkan sinisme atas ajaran Islam yang dianggap telah kolot kerap dikaitkan dengan perilaku umatnya yang teramati saat ini. Pertanyaannya, dapatkah umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini menjadi pelaku perubahan dan pemberi solusi atas sejumlah masalah bangsa yang dihadapi?
Kemiskinan merupakan masalah yang belum terselesaikan secara memuaskan. Korupsi adalah masalah akut yang terus menggila di negeri ini. Aksi kekerasan masih cukup melekat pada sebagian mereka yang mengklaim diri muslim. Pertanyaannya, lalu dimanakah Islam hadir sebagai sebuah ajaran dan solusi yang seharusnya ditaati oleh para pemeluknya? Bukankah potret kemiskinan atau korupsi itu pun melekat pada diri umat Islam pula? Jika iya, lalu mengapa hal ini bisa terus terjadi?
Banyak pertanyaan lain yang masih dapat untuk diajukan lebih lanjut. Suka atau tidak suka, Islam, - atau penganutnya lebih suka menyebut umat Islam - akan berada pada posisi yang menjadi bahan pertanyaan. Apapun itu, tampaknya, mau tidak mau sangat dibutuhkan sejumlah jawaban yang cukup memuaskan. Untuk apa? Setidaknya, untuk memberikan sebuah pemahaman bahwa Islam masih relevan dengan kondisi saat ini, di sini, khususnya di Indonesia. Paling tidak, secara intelektual umat Islam masih dapat meyakinkan diri bahwa keberadaannya pun menjadi bagian dari solusi, bukan sekedar menjadi bagian dari masalah bangsa semata.
Dalam konteks semangat dan upaya untuk menanggapi sejumlah pertanyaan dan isu mengenai Islam seperti itulah, antara lain alasan mengapa buku berjudul “Islam, Ajaran damai dan Perubahan Sosial” ini diterbitkan. Dalam buku ini, Islam hendak dihadirkan kembali dalam pemahaman yang lebih aktual dan relevan dengan sejumlah persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Sekaligus pula sebagai upaya untuk memberikan sejumlah tawaran solusi konkret atas beberapa masalah yang ditanggapi.
Ada beberapa isu atau masalah yang ditanggapi dan diulas dalam buku ukuran setengah kwarto setebal 190 halaman itu. Antara lain, adalah mengenai masalah hubungan Islam dan filsafat, masalah Islam dan kebangsaan, masalah Islam dan aksi kekerasan, terutama yang terkait dengan radikalisasi sekelompok umat Islam, seperti aksi bom bunuh diri. Ada pula masalah Islam dan korupsi, masalah Islam dan perempuan, hingga masalah Islam dalam kaitannya dengan konteks ritual dalam kehidupan masyarakat.
 Adalah menarik dicatat di sini. Bahwa Islam dipahami berdasarkan nilai-nilai pokok yang tumbuh saat sejarah awal kelahirannya. Setidaknya, ada dua pemahaman mengenai Islam, yaitu Islam sebagai ajaran damai dan islam sebagai ajaran perubahan sosial. Nilai-nilai kedamaian atau perdamaian telah menjadi dasar dan sangat sentral dalam ajaran islam. Baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Baik dalam konteks kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.
Fungsi ritual yang ada pun menunjukkan esensi tentang nilai-nilai damai sebagai asal dan tujuan kehidupan, seperti pada ritual puasa, atau lailatul qodar. Itulah, maka menciptakan suasana damai, tenang, aman, sentausa, penuh toleransi, kerjasama dan saling menghargai dalam diri dan kehidupan sosial umat muslim menjadi kewajiban asasi dalam ajaran Islam. Jika kedamaian merupakan prasyarat bagi tercapainya sebuah kesejahteraan atau kemakmuran suatu masyarakat, maka menciptakan perdamaian menjadi keharusan bagi tiap diri muslim untuk mewujudkannya.
“Islam sendiri berarti damai, aman, selamat..... kedamaian menjadi kondisi yang harus dicapai oleh seorang muslim, baik saat hidup maupun jelang kematian.... hingga menuju kampung penuh kedamaian (daarussalam, surga)...”.
Sementara itu, ajaran mengenai perubahan sosial sangat jelas sejak awal kelahiran Islam. Kerasulan Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya adalah tanggapan atas realitas sosial yang ada, untuk kemudian melakukan koreksi, rekonstruksi dan sekaligus menawarkan solusi atas sejumlah masalah mendasar yang dihadapi oleh masyarakatnya. Sejarah akan berulang sepanjang zaman bahwa masalah moralitas menjadi kata kunci, seperti prinsip keadilan, kebenaran, kejujuran, kebersamaan, tanggung jawab sosial, ketertiban, kemakmuran, dan lain-lain. Inilah yang ditawarkan oleh Islam, sesuatu yang akan tetap relevan dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan bangsa hingga kapan pun.
Dalam konteks Indonesia saat ini, penulis buku ini menawarkan kampanye perlawanan atas korupsi. Disebutkannnya bahwa korupsi jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam, dan pelakunya dianggap sebagai orang jahat yang harus diperangi. Tidak harus ada lagi permakluman atas alasan dan atas nama apapun atau kepentingan apapun yang dapat membenarkan perbuatan korupsi, termasuk bagi mereka yang mengaku sebagai muslim.
“Sudah saatnya, kita tidak memberikan toleransi sediktpun atas perilaku korupsi. Kita harus menegakkan kembali ketegaran etik, lebih dari sekedar slogan tentang “Islam Yes, Korupsi No!....”.
Selain maslah-masalah di atas, masih banyak lagi masalah yang diulas. Antara lain, masalah poligami, masalah syirik atau tidak terkait hormat bendera, masalah pemaknaan fungsi ritual yang lebih dewasa, hingga masalah mudik lebaran. Semua ulasan tersebut disajikan dengan gaya tulisan yang cukup ringan dan populer, sehingga tulisan menjadi cukup enak dibaca berdasarkan tema yang dipilih di saat waktu senggang.
“....Setidaknya, penulis berharap agar buku ini dapat menjadi pengantar diskusi, atau teman diskusi bagi para pembacanya....”.
Hal ini amat mungkin terjadi karena buku ini merupakan kumpulan dari tulisan populer yang dipublikasikan melalui media sosial, seperti blog Srie atau Kompasiana. Aktif di media sosial ini memang telah memacu kreatifitas dan produktivitas dalam menulis. Buku ini (terbit tanggal 11/11/11) merupakan satu dari 5 (lima) buku lain yang direncanakan akan diterbitkan dari tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Blog. Sangat cocok bagi peminat tentang Islam, para pendidik, orang tua, dan mahasiswa.*** By Srie

Bagi peminat yang ingin memiliki buku ini bisa klik di sini

Salam persahabatan

Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar