Senin, 21 November 2011

E-Learning, Inovasi di Zaman Informasi

Oleh Sri Endang Susetiawati

E-learning merupakan program pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK).  Pemanfaatan TIK, terutama teknologi internet dalam pembelajaran merupakan bagian dari inovasi pendidikan sebagai tanggapan atas perubahan zaman. Mengacu pada kategorisasi Alvin Tofler, saat ini, kita telah melewati zaman pertanian dan zaman industri. Saat ini, kita telah memasuki zaman baru, yaitu zaman informasi, dimana informasi menjadi sesuatu yang sangat penting yang memberikan dampak pula pada dunia pendidikan.

Perubahan zaman telah melahirkan perubahan atas paradigma belajar, dari paradigma teaching menjadi paradigma learning. Dalam paradigma learning, siswa menjadi pusat dalam proses pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, dan perannnya telah bergeser lebih banyak ke arah peran guru sebagai fasilitator belajar.
Perubahan zaman menuntut guru dan sekolah untuk menyesuaikan diri, terutama dalam menghadapi dua masalah utama, yaitu (1) kian terbatasnya waktu belajar, kian bertambahnya materi pelajaran; (2) kian cepatnya perubahan informasi dan pengetahuan di luar, kian cepat usang informasi dan pengetahuan di sekolah. E-learning dianggap tepat sebagai salah satu solusi atas masalah tersebut.
E-Learning dianggap akan mampu mengatasi masalah keterbatasan waktu belajar, kian bertambahnya materi pelajaran dan kian cepatnya perubahan informasi dan pengetahuan di luar sekolah. Karena, dalam e-learning, proses pembelajaran dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, sehingga waktu dan jarak hampir tidak mengalami kendala lagi, sepanjang ada akses internet.
Setidaknya ada tiga fungsi TIK dalam e-learning, yaitu (1) sebagai sistem informasi, (2) sebagai alat bantu belajar, dan (3) sebagai pusat sumber belajar. Sebagai sistem informasi, TIK sangat bermanfaat bagi pengelolaan program-program sekolah, misalnya membuat perencanaan program, mengelola keuangan sekolah, menyampaikan kebijakan-kebijakan baru sekolah kepada orang tua maupun kepada para siswa, mengembangkan hubungan guru dan siswa, dan lain-lain.
Sebagai alat bantu belajar-mengajar, TIK sangat membantu dalam memudahkan penyampaian materi pelajaran yang sulit. Caranya, antara lain pembuatan materi pelajaran dalam bentuk presentasi atau animasi tertentu sehingga menjadi mudah dipahami dan menarik bagi siswa. Sebagai pusat belajar, TIK bisa dimanfaatkan antara lain melalui browsing internet untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh siswa atau dalam rangka mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kepada siswanya.
Dalam penerapannya, tentu saja e-learning akan mengalami sejumlah kendala, antara lain ketersediaan sarana teknologi, dan terutama kesiapan guru untuk mau berubah dalam hal proses pembelajaran, sehingga tidak lagi mengajar secara konvensional. Salah satu solusinya adalah optimalisasi fungsi laboratorium komputer (Labkom) di sekolah-sekolah agar mendukung program e-learning. Bahkan, bila perlu layanan labkom dapat dilakukan di luar jam belajar sekolah atau bisa buka di hari libur (minggu). Sementara itu, guru harus terus-menerus melakukan peningkatan kemampuan dalam hal penguasaan teknologi internet, dan mendesain pembelajaran yang berbasis TIK.
Akhirnya, dapat dikatakan bahwa guru menjadi kunci keberhasilan dalam penerapan e-learning. Jangan sampai ada istilah “zaman telah berubah, namun cara mengajar guru masih tertinggal di zaman pra-industrial”. Guru akan menjadi sosok yang jauh tertinggal di telan perubahan zaman. Sesuatu yang ironis, ketika guru seharusnya menjadi agen perubahan yang berada di depan bagi masyarakatnya.
Adanya program sertifikasi yang memberikan tunjangan tambahan pendapatan profesi sebesar satu kali gaji pokok, telah membuka peluang besar bagi guru untuk mampu memerankan dirinya sebagai guru baru di zaman informasi. Karena, program sertifikasi secara langsung telah meningkatkan kemampuan guru secara ekonomi dalam memenuhi kebutuhannya.
Dalam hal ini, sudah sepantasnya tambahan dana sertifikasi diperuntukkan demi menunjang profesionalisme, terutama dalam menunjang proses pembelajaran berbasis TIK (e-learning). Dana sertifikasi, sangat tidak pantas hanya dipergunakan oleh guru untuk sekedar meningkatkan gaya hidup, yang seringkali tidak ada hubungannya sama sekali dengan tuntutan profesionalisme guru di zaman baru.*** By Srie

Salam Persahabatan

Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar