Kamis, 17 November 2011

Ensiklopedi al-Qur’an: Islam (1)

Oleh M. Dawam Rahardjo

Islam pertama-tama adalah suatu iman seperti dicontohkan oleh Ibrahim, seorang Nabi yang disebut bukan penganut agama Yahudi atau agama Nasrani, yang merupakan agama yang mapan (organized religion). Akan tetapi, Ibrahim adalah seorang yang tulus dan cenderung pada kebenaran. Tapi, ia tidak menjalankan agamanya itu untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk dipeluk oleh masyarakat.
Dari situlah terjadi evolusi, dari sekedar keyakinan menjadi aturan-aturan perilaku dan masyarakat hingga terlembaga menjadi sistem kemasyarakatan. Tulisan ini mengelaborasi konsep “Islam”, serta hubungannya dengan “iman”, “ihsan” dan “takwa”, serta hubungannya dengan agama-agama atau kepercayaan lain dengan mencermati evolusi tersebut. Dari situ akan terlihat hubungan dinamis antara “Islam ideal” dan “Islam sejarah”.

Islam, adalah nama sebuah agama. Pengertian ini prevalen, baik di kalangan Muslim mapun non-Muslim. Kaum muslim menamakan agama mereka Islam, dengan penuh kebanggaan. Dan, mereka menolak penjulukan Mohammedanism, umpamanya, seperti disebut oleh banyak orientalis, sebuah sebutan yang berasal dari ahli Islam, H.A.R Gibb.
Menyebut Islam sebagai Mohammedism, sama artinya mengatakan bahwa Islam adalah agama yang diciptakan oleh Muhammad. Dengan begitu, Islam bukan wahyu dari Tuhan, melainkan hasil daya cipta manusia. Para pengikutnya, dengan sendirinya dapat disebut sebagai Mohammedan,  sejalan dengan penamaan Christian, pengikut Yesus Christ, atau pengikut Budha Gautama yang disebut kaum Budist, sekalipun mereka juga bangga disebut begitu.
Apakah dengan begitu kaum muslim tak mau disebut sebagai pengikut Muhammad? Bukan begitu soalnya. Karena kaum muslim sering juga menyebut dirinya “Ummat Muhammad”, disamping umat Islam atau umat Muslim. Tepi, kaum Muslim tidak mau disebut sebagai pengikut “agama Muhammad”, karena istilah itu tidak ada dalam al-Qur’an maupun Hadits. Ini mengandung pengertian yang lebih dalam.
Bagi kaum Muslim, Muhammad hanyalah seorang manusia biasa, yang disebut dalam al-Qur’an sebagai basyar: “Katakan: Maha Suci Tuhanku. Bukankah aku ini hanya manusia biasa (basyar), yang menjadi utusan (Tuhan)?” (Q.S. Israil,  17 : 93). Keistimewaan Muhammad hanyalah bahwa ia hanyalah seorang Rasul Tuhan. Dan, karena itu Muhammad tidak dipuja, apalagi disembah.
Oleh sebab itu, agama kaum Muslim disebut Islam. Merek menyebut diri mereka, kaum yang “berserah diri” (pada Tuhan), sebagaimana Ibrahim pernah berdoa dengan kata-kata yang sangat mengharukan: “Tuhan kami, jadikanlah kami berdua, orang yang tunduk (Muslim-ainy) kepada Engkau, dan bangkitkanlah dari keturunan kami, umat yang tunduk kepada Engkau, dan tunjukkanlah kami, cara-cara berbakti dan terimalah tobat kami; sesungguhnya Engkaulah yang beruulan-ulang (kemurahan-Nya), Yang Maha Pengasih” (Q.S. al-Baqarah, 2 : 128).
Muslim , artinya, antara lain adalah “orang yang tunduk”, sehingga apabila pengertian itu dikaitkan dengan “Islam” sebagai nama sebuah agama, maka Islam dapat diartikan sebagai “agama orang-orang yang tunduk”, yaitu tunduk pada kehendak Tuhan (submission to God’s will). Persoalan timbul, apakah dengan demikian semua orang, yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, sekalipun tidak secara formal menyatakan dirinya sebagai Muslim – pemeluk agama Islam, sebagai agama formal - , dapat pula disebut sebagai Mulim? Misalnya, para suku primitif di Amerika Utara atau pengikut aliran kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai salah satu kepercayaan Jawa, selain yang benar-benar memang menyatakan diri sebagai Muslim? Apakah al-Qur’an memberi penjelasan mengenai pertanyaan teoritis ini?.***

(Bersambung........)
__________________
Keterangan: Artikel ini diambil dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar