Jumat, 18 November 2011

Ensiklopedi al-Qur’an: Islam (2)

Oleh M. Dawam Rahardjo

Persepsi tentang Islam
Dalam suatu ceramahnya di Departemen Agama, beberapa waktu yang lalu, ahli sejarah Islam terkemuka, Bernard Lewis, dalam awal pembicaraannya merasa perlu menjelaskan terlebih dahulu apa yang disebut dengan “Islam” itu. Ada tiga persepsi mengenai Islam, katanya.
Persepsi pertama, Islam sebagaimana terwujud dalam al-Qur’an dan Hadits. Sebagai konsep, Islam dalam wujud ini dinyatakan oleh kaum Muslim sebagai tidak berubah. Agaknya ia perlu menyatakan hal ini untuk menghindari kesalahpahaman.

Di Indonesia pernah terjadi kesalahpahaman  mengenai paham “pembaharuan pemikiran Islam” yang dilontarkan oleh Nurcholish Madjid, karena banyak yang menyangka seolah-olah ia ingin mengubah al-Qur’an dan Hadits. Sikap menolak pemikiran Syi’ah antara lain juga disebabkan karena salah informasi bahwa kaum Syi’ah mempunyai al-Qur’an sendiri.
Persepsi kedua adalah Islam sebagaimana diinterpretasikan oleh para ulama. Dalam kenyataannya kaum Muslim memahami Islam, apalagi di kalangan awam, dalam wujud ajaran atau doktrin yang telah disistematisasikan melalui proses interpretasi terus-menerus untuk mencapai kesepakatan (ijma’) dalam jangka waktu yang cukup lama. Di sinilah kita mengenal Islam dalam mazhab Sunni atau Syi’ah.
Sekalipun ada perbedaan di sana sini, tapi umat Islam dari berbagai mazham itu pada dasarnya masih bisa menerima masing-masing rumusan, misalnya tentang Rukun Iman atau Rukun Islam. Kaum Sunni masih bisa menerima, walaupun tidak semuanya, tafsir al-Mizan karya Taba’taba’i dari aliran Syi’ah. Perbedaan di antara mazhab-mazhab itu dapat dijelaskan dari analisis sejarah, terutama sejarah politik atau dari sudut metodologinya.
Islam, dalam wujud interpretasi adalah hasil olah pikir para ulama dan cendekiawan yang merespon wahyu Ilahi dan teladan Nabi SAW, dalam konteks masyarakatnya. Oleh karena itu, Islam yang ditangkap dalam persepsi ini akan selalu berkembang dan dikembangkan sesuai dengan tantangan zaman. Interpretasi Islam ini mula-mula muncul dalam bentuk teologi yang sangat diwarnai oleh persoalan-persoalan sosial dan politik.
Ayat-ayat al-Qur’an dan kata-kata maupun teladan Nabi saw, dipakai sebagai pedoman dasar dan orientasi untuk menanggapi persoalan-persoalan masyarakat. Respon teologis yang banyak bersifat spekulatif dan bahkan arbitrer ini ternyata membawa dinamikanya sendiri. Timbul upaya-upaya pemikiran yang lebih rasional dan sistematis dalam bentuk studi hukum kemasyarakatan, yang kemudian hasilnya dikenal sebagai ilmu fiqh dan ushul al-fiqh.
Dalam bukunya Islam The Straight Path (Oxford University Press, 1991), John L. Esposito, dalam penjelasannya mengenai aspek kehidupan agama, teori dan prakteknya, mengambil kesimpulan atau mendapat kesan bahwa : “Sementara dalam Kristen, teologi adalah ‘ratu semua ilmu’, maka dalam Islam sebagaimana dalam agama Yahudi, ilmu hukum ditempatkan dalam kedudukan yang dibanggakan”, karena menurut ahli Islam yang simpatik ini, fiqh adalah perwujudan penerimaan pada atau penyesuaian diri terhadap hukum-hukum Tuhan, melalui Islam yang artinya “penyerahan diri pada hukum-hukum Tuhan”. Dengan begitu, maka Esposito melihat fiqh sebagai perwujudan Islam.
Apa yang dikatakan oleh Esposito itu tidak sepenuhnya benar, sebagaimana diakui sendiri kemudian, karena hal itu hanyalah kesan para komentator yang memang penting untuk dikemukakan. Interpretasi Islam diwujudkan dalam berbagai Ilmu, terutama ilmu-ilmu teologi (ilmu-ilmu tawhid, aqaid, ushuluddin atau kalam), ilmu fiqh dalam berbagai cabangnya dan tasawuf. Itulah ilmu-ilmu keislaman tradisional yang membentuk paradigma  keilmuan tersendiri, yang mendasari ilmu-ilmu lainnya yang dikembangkan dalam masyarakat Muslim. Sekalipun memang demikian benar, bahwa fiqh merupakan “ratu” di antara ilmu-ilmu keagamaan tradisional tersebut, seolah-olah Islam diwakili dan diberi citra dengan ilmu fiqh.
Untuk membedakan Kristen di satu pihak dan Islam serta Yahudi di pihak lain, Esposito mengatakan bahwa bagi kaum Kristen, pertanyaan yang tepat adalah “Apa yang dipercayai oleh seorang Kristen?” Sementara bagi Islam (dan Yudaisme), pertanyaan yang tepat adalah “Apa yang dilakukan oleh seorang Muslim?”. Karena, jelas Esposito, Islam berarti menyerah pada kehendak Tuhan. Oleh sebab itu, kaum Muslim selalu cenderung untuk menekankan diri pada kepatuhan atau mengikuti kehendak Tuhan yang ditetapkan dalam hukum Islam.
Atas dasar itu, banyak komentator telah membedakan penekanan Kristen pada ortodoksi, atau doktrin dan kepercayaan yang benar, sedang Islam menekankan pada ortopraksi,  atau tindakan yang benar. Sungguhpun demikian, Esposito juga mengakui bahwa tekanan pada praktek tidak mengesampingkan pentingnya keyakinan dan kepercayaan. Iman dan tindakan yang benar atau ptaktek, selalu berjalin berkelindan. ***

(Bersambung........)
__________________
Keterangan: Artikel ini disalin dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar