Senin, 21 November 2011

Ensiklopedi al-Qur’an: Islam (3)


Oleh M. Dawam Rahardjo

Persepsi ketiga mengenai Islam adalah apa yang disebut Islam-sejarah (historical Islam). Ini adalah Islam, sebagaimana yang diwujudkan dalam sejarah. Islam, sebagaimana yang dirumuskan oleh para ulama dan cendekiawan, oleh Wilfred Cantwell Smith, disebut sebagai “Islam ideal”. Ketika dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat, hukum, negara, dan kebudayaan maka Islam yang nampak adalah yang nyata perwujudannya dalam sejarah.
Islam dalam realitas sejarah ini mungkin mengandung jarak dari Islam-ideal. Karena itu, yang disebut ”masyarakat Muslim” atau “kebudayaan Muslim”, mungkin mengecewakan karena dinilai tidak selalu sesuai dengan rumusan idealnya. Islam yang ini, mungkin pula telah tercampur dengan unsur-unsur budaya lain, baik yang sesuai atau bertentangan dengan Islam yang dipersepsikan. Selain itu, Islam historis adalah Islam yang berubah dan berkembang atau mungkin juga Islam yang beku dan mundur dari perkembangan yang telah dicapai pada suatu titik sejarah tertentu.

Kalangan dalam (the insider) akan cenderung untuk menampilkan Islam-ideal, sementara kalangan luar (the outsider) akan condong untuk melihat Islam sebagai aktualisasi sejarah kemasyarakatan (historical-sociological actuality), meminjam istilah Smith. Di masa lalu banyak gambaran yang menyesatkan mengenai Islam-aktual ini, termasuk yang dibuat oleh Weber, yang oleh Tuner dinilai hanya memiliki pengetahuan yang dangkal saja mengenai Islam. Tapi, akhir-akhir ini muncul upaya-upaya menampilkan Islam-aktual ini secara lebih simpatik dan objektif.
Dapat disebutkan beberapa karya di antaranya, umpamanya Richard C. Martin menulis Islam : a Cultural Perspective (Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey, 1982). Hal yang penting dicatat dari buku ini adalah keterangan Martin tentang gambaran yang “bhineka-tunggal eka” (unity and diversity) dalam persemakmuran Islam, sekalipun ia hanya menemukan dua mazhab saja, Sunni dan Syiah.  Keberagaman itu terutama tampak dalam aliran pemikiran dan kebudayaan. Martin, dalam buku ini juga menampilkan aspek “bentuk dan keindahan” (form and beauty) dalam kesenian Islam, di samping melukiskan dasar-dasar kepercayaan, sistem ritual, (peribadatan), komunitas dan masyarakat.
Buku yang lain adalah karya Esposito, Islam, The Stright Path (terbitan pertama, 1988, diperluas 1991) yang telah disebut di atas. Disini, antara lain ia berkata:
”Walaupun semua Muslim bertahan pada pendapat hanya ada satu Islam yang dimandatkan dan merupakan wahyu Ilahi, namun selama ini telah dan akan terus berkembang berbagai interpretasi mengenai Islam”.
Buku ini menekankan pada penjelasan tentang apa yang sesungguhnya diyakini sebagai Islam dan bagaimana Islam dipraktekkan dalam kehidupan. Pendapatnya lagi,
“Sebagaimana sejarah telah memperlihatkan, kepercayaaan pada Tuhan Yang Maha Esa, satu kesatuan wahyu, dan satu Nabi pamungkas,  telah menjadi basis bagi kepercayaan monoteisme yang bergetar hidup. Namun, monotsime tak berarti monolitis. Kesatuan Islam sejak awal pembentukannya hingga perkembangannya yang kontemporer, selalu diisi dengan keberagaman interpretasi dan ekspresi kepercayaan”.
Masyarakat Islam di dunia, katanya, menutup buku ini, telah menjadi bukti dari dinamisme Islam dan sekaligus komitmen kaum Muslim untuk mengikuti “jalan yang lurus, jalan Tuhan Penguasa segala sesuatu yang di langit dan di muka bumi”.
Buku lain yang barangkali paling simpatik dalam menggambarkan Islam pada non-Muslim adalah karya Annemarie Schimmel, Islam: an Introduction (State University of New York Press, 1992. Judul aslinya, Der Islam, Eine Einfuhrung, Philipp Reclum jun. GmbH & Co., Stuttgart, 1990). Schimmel adalah sarjana asal Jerman, seorang pengagum penyair sufi Rumi dan sekligus Iqbal, yang mempelajari Islam dari tradisi tasawuf. Cara memperkenalkan Islam pada publik Barat itu dikatakannya sebagai “mengambil pandangan tradisional tentang sejarah Islam, tanpa upaya memasuki aspek sosiologis dan politik yang sangat luas itu.”
Ia mula-mula menjelaskan, betapa Islam, selama berabad-abad telah disalahpahami, karena telah diperkenalkan secara distortif oleh masyarakat Barat, walaupun pada zaman Pencerahan (Enlighten-ment), Islam mulai ditampilkan oleh Henri de Boulainvilliers (1658-1722) secara simpatik, sebagai agama yang sesuai dengan nalar. Goethe adalah penyair besar Jerman yang mampu menangkap api Islam, sehingga kata-katanya dipasang sebagai motto dalam buku Schimmel, sebagai berikut:
Betapa enah, bahwa dalam kasus khusus seseorang memuji jalannya sendiri!
Pabila Islam berarti “pasrah kepada kehendak Tuhan”
Maka hanya dalam Islam kita semua akan hidup dan mati
Sekalipun Goethe tidak pernah disebut sebagai seorang Muslim, tapi pernyataannya itu dapat disebut sebagai sebuah syahadat, kesaksian untuk menyerahkan diri ke haribaan Islam. *** By Srie

(Bersambung......)
__________________
Keterangan: Artikel ini disalin dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar