Jumat, 04 November 2011

Filsafat Ilmu (1): Mengapa SBY, Bukan Singa atau Harimau?


Oleh Sri Endang Susetiawati

Pernahkah jalan-jalan di sebuah Kebun Binatang? Ya, di sana terlihat berbagai macam binatang.  Ada binatang yang buas dan kuat terkurung di sebuah kandang yang sempit, seperti harimau, singa atau beruang. Ada pula binatang yang seolah dibiarkan pada area yang tetap terbatas, seperti rusa atau kuda zebra.
Ada burung-burung yang bebas berkeliaran terbang ke sana sini, namun tetap tidak akan terlepas karena di halangi oleh pembatas. Ada buaya yang dibiarkan berjemur, namun tidak akan mampu lolos dari tempatnya yang hanya beberapa meter persegi saja.

Sementara itu, serombongan anak kecil didamping para orang tuanya yang bernama manusia sedang asyik menikmati kelincahan sang gajah yang sebelah kakinya terikat oleh sebuah rantai besi yang longgar. Di antara mereka, ada yang berani memberikan makanan, berupa kacang tanah yang dibeli di depan pintu masuk. Ada yang terlihat begitu senang dan girang. Ada pula yang sempat terlihat menahan diri agak jauh, atau bahkan menangis ketakutan saat melihat harimau atau singa meraung.
 Seluruh pemandangan tentang binatang itu sempat membuat Prof. Andi Hakim Nasution, mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB),[1] mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik. Katanya, mengapa mereka, para binatang itu yang menjadi peliharaan dan tontonan manusia, bukan sebaliknya ? Mengapa bukan singa atau harimau yang gagah dan kuat itu yang menjadi rektor seperti dirinya ?
Bukankah singa atau harimau adalah mahluk hidup yang jauh lebih kuat dan hebat dari sosok mahluk bernama manusia ? Untuk saat ini, mungkin pertanyaannya adalah mengapa bukan singa atau harimau dengan tubuh yang lebih kekar, dengan cakar dan taring yang kuat yang menjadi presiden di wilayah bernama Indonesia ? Mengapa bukan singa atau harimau, tapi presiden SBY seperti saat sekarang ini ?
Kemampuan Berpikir
Sejumlah pertanyaan yang mungkin terkesan sepele dan semula dianggap aneh, namun ternyata cukup membuat seseorang untuk berfikir lebih keras untuk memperoleh jawabannya. Pertanyaan yang akhirnya mengantarkan seorang manusia untuk berfikir tentang dirinya, tentang keberadaannya di sekitar lingkungan alam semesta dan tentang mengapa dirinya jauh lebih mampu dan unggul dibandingkan para binatang yang secara fisik jauh lebih kuat dan unggul ?
Sejumlah pertanyaan yang akan sampai pada sebuah penyadaran bahwa kemampuan berpikir yang dimiliki oleh manusialah yang membuat mahluk hidup yang muncul paling akhir di muka bumi ini dapat bertahan hidup, berkembang biak dan mampu menguasai atas mahluk-mahluk lainnya. Kemampuan berfikir inilah yang terus mengalami perkembangan yang lebih maju, sejak manusia ada atau dikenal, hingga kita mengenal sejumlah tokoh pemikir besar seperti Plato, Socrates atau Aristoteles pada zaman Yunani Kuno. Kita pun kemudian mengenal para pemikir besar yang lain, seperti Al-khawarizmi, Al-Ghazali, Ibnu Sina, kemudian Isac Newton, Galileo, hingga ke Albert Einstein, atau sekarang Stephen Hawking.
Mereka memikirkan banyak hal, baik tentang dirinya sendiri maupun tentang dunia fisik materi alam semesta. Mereka memikirkan banyak hal tentang sesuatu yang sudah dianggap wajar dan biasa saja oleh kaum awam. Mereka mempertanyakan tentang apa itu hakikat materi, apa itu pengetahuan, apa itu kebenaran, apa itu moral, apa itu etika, bagaimana memeperolehnya, lalu untuk apa setelah diperoleh, apa kegunaannya, bagaimana mengembangkannya, dan seterusnya?
Rangkaian sejumlah pertanyaan diatas merupakan cara berfikir manusia secara filsafat. Cara berfikir yang bersifat mendasar, menyeluruh dan spekulatif.  Hasil pemikiran dari para pemikir atau kaum filosof itulah yang akhirnya sampai kepada kita melalui rentang waktu ribuan tahun kemudian. Mengapa hasil pemikiran mereka itu bisa sampai kepada kita setelah melewati rentang waktu yang panjang dan jarak yang jauh ?  Mengapa, justru para binatang yang lebih kuat dari manusia tidak bisa melakukan hal seperti itu ?
Kemampuan Komunikasi: Bahasa dan Tulisan
Manusia, di samping memiliki kemampuan berfikir yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh binatang, ada kemampuan lain yang makin memperkokoh keunggulannya atas mahluk hidup yang lainnya. Kemampuan itu adalah melakukan komunikasi antar sesama, yang dapat berkembang secara terus-menerus dalam bentuk yang lebih rumit dan sempurna. Kemampuan komunikasi antar binatang memang ada, namun mereka tidak mampu mengembangkan kemampuannya itu dari waktu ke waktu, sejak dulu hingga sekarang, tidak pernah mengalami perubahan.
Lalu, mengapa manusia bisa mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi hingga ke tahap yang paling rumit sekalipun, seperti sekarang ini ? Jawabannya adalah pertama, karena manusia mengenal adanya bahasa untuk saling berkomunikasi. Kedua, karena manusia mengenal adanya tulisan yang dapat mengantarkan pesan seseorang kepada orang lainnya dengan jarak yang jauh dan dalam waktu yang panjang dan lama.
Bahasa dan tulisan adalah dua hal yang memungkinkan manusia dapat unggul dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya. Dengan bahasa dan tulisan inilah, maka manusia banyak tahu dan dapat mengakumulasi seluruh pengetahuan, sejak zaman purba hingga zaman modern sekarang ini.  Pengetahuan inilah yang dalam tahap perkembangan berikutnya menjadi berbagai macam ilmu yang dikenal oleh kita saat sekarang ini.*** By Srie

(Bersambung......)


[1] Jujun S. Sumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Hal. 39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar