Sabtu, 05 November 2011

Filsafat Ilmu (2): Hakikat Ilmu


Oleh Sri Endang Susetiawati
Hakikat, adalah (1) inti sari atau dasar atas sesuatu, atau (2) kenyataan yang sesungguhnya atau sebenarnya dari sesuatu[1]. Hakikat ilmu, berarti intisari, dasar atau kenyataan yang sesungguhnya atau sebenarnya dari sesuatu yang bernama ilmu. Apa itu ilmu, bagaimana, mengapa dan untuk apa ilmu, adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat dari sebuah ilmu yang bersifat mendasar dan dalam arti yang sebenarnya.
Pertanyaan mengenai apa itu ilmu secara hakiki (hakikat), berarti pertanyaan mengenai hakikat ilmu dari kacamata filsafat. Atau, dengan perkataan lain, hakikat ilmu adalah memahami ilmu secara filsafat, yang bersifat menyeluruh (komprehensif), mendasar (fundamental) dan cenderung banyak menduga-duga (spekulatif).[2] Bukan sebuah pemahaman yang berdasarkan pemahaman umum yang telah terdefinitif, sebagaimana yang telah dicantumkan dalam kamus atau buku-buku yang mengulas tentang ilmu dari sudut pandang yang ringkas dan sederhana. Dalam hal ini, hakikat ilmu berarti dapat juga dipahami sebagai filsafat ilmu.


Sifat Filsafat
Bersifat komprehensif (menyeluruh), artinya filsafat tidak akan puas  untuk memahami ilmu dari sudut pandang ilmu atau keilmuan saja. Namun, juga hendak memahami ilmu dari berbagai sudut pandang pengetahuan yang lainnya secara lebih luas, antara lain seperti bagaimana kaitan ilmu dengan masalah moral, agama, metafisika, kebahagiaan dan sebagainya. Dengan cara tersebut, maka pemahaman seseorang atas ilmu tidak akan picik, seolah ilmu adalah sesuatu yang terlepas dari masalah moral, agama atau tanggung jawab kemanusiaan. Dengan cara ini pula, seseorang akan terhindar dari pemahaman tentang ilmu yang arogan, seolah ilmuwan adalah mereka yang merasa di atas segalanya, diatas kaum moralis, agamawan atau pegiat kemanusiaan.
Sedangkan bersifat fundamental (mendasar), artinya filsafat mempertanyakan banyak hal yang mendasar tentang asumsi-asumsi atau pijakan mengenai ilmu. Seseorang yang menggunakan cara berfilsafat, berarti tidak langsung percaya bahwa ilmu itu adalah benar. Tapi, ia akan bertanya lebih jauh lagi, mengapa ilmu itu disebut benar ? Bagaimana proses penilaiannya, dan apa kriteria penilaiannya ? Termasuk pula mempertanyakan, apa benar itu sendiri ? Apa pengertian benar ? Sebuah rangkaian pertanyaan yang terus-menerus dan melingkar, hingga kembali pada pertanyaan yang semula diajukan, apa sesungguhnya ilmu itu ?
Sementara itu, bersifat spekulatif (penuh dugaan dan kecurigaan), artinya filsafat akan sering mempertanyakan banyak hal terkait dengan ilmu secara curiga dan dipenuhi dengan berbagai macam dugaan-dugaan. Kecurigaan atau praduga adalah sesuatu yang tak dapat dihindarkan dari sebuah filsafat. Hingga, sampai pada sebuah pertanyaan, “ kalau begitu kenapa kita harus mengandalkan filsafat yang penuh dengan curiga, bukankah hal ini tidak dapat diandalkan ?”.
Betapapun spekulatifnya, filsafat tetap saja dapat digunakan terutama dalam menemukan dasar-dasar, atau pijakan awal dalam sebuah proses pemikiran. Yang terpenting, adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisa maupun pembuktiannya, kita dapat memisahkan mana sepekulasi yang masih dapat diandalkan dan mana yang tidak, atau diabaikan saja. Misalnya, apakah spekulasi itu bersifat logis, sahih (valid), dan beraturan, ataukah tidak ?

Ilmu Menurut Filsafat
Pemahaman ilmu dari kacamata filsafat, berarti memahami tentang apa sesungguhnya ilmu itu ? Bagaimana sesungguhnya  ilmu itu diperoleh ? Dan, untuk apa sesungguhnya ilmu itu ada ? Pertanyaan pertama, dalam filsafat berarti menyangkut hal yang bersifat ontologis (mempertanyakan tentang apa, atau darimana berasal), pertanyaan kedua adalah epistimologis (mempertanyakan tentang bagaimana diperoleh atau prosedurnya) dan pertanyaan ketiga adalah aksiologis (mempertanyakan tentang nilai kegunaan atau manfaatnya).
Dalam pandangan filsafat, ilmu tak lain adalah bagian dari pengetahuan. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui. Bedanya, pengetahuan dalam ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dari proses penalaran, bukan dari perasaan. Apa itu penalaran ? Penalaran adalah proses kegiatan otak dalam memperoleh kesimpulan atas sebuah pengetahuan tertentu secara logis, analitis dan sistematis. Penalaran yang berciri logis, analitis dan sistematis ini diperlukan agar dapat memperoleh sebuah pengetahuan yang benar, dan dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, pengetahuan yang benar adalah pengetahun yang diperoleh berdasarkan proses dan kriteria tertentu yang logis, analitis dan sistematis.

Ciri Penalaran
Penalaran berciri logis, berarti berdasarkan atas pola logika tertentu, atau sistem kerangka berfikir tertentu. Bukan berdasarkan pola yang sembarangan atau bahkan tidak mengikuti pola aturan sama sekali. Pola logika yang digunakan adalah pola yang dapat diterima oleh akal sehat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada banyak pihak, bukan hanya bagi diri sendiri saja.
Penalaran berciri analitis, berarti berdasarkan uraian yang rinci, menjelaskan bagian demi bagian secara cermat dan teliti. Bukan berdasarkan uraian yang umum saja, atau hanya menyentuh pada hal-hal yang  bagian besarnya saja. Ciri analitis ini membuat proses penalaran menjadi lebih tajam dan akurat, sehingga akan dapat memahami hingga ke hal yang sekecil-kecilnya atas suatu masalah yang dibahas. 
Penalaran berciri sistematis, berarti berdasarkan uraian yang tersusun dengan rapi, dan antar bagiannya saling terkait secara utuh. Bukan dalam uraian yang asal, acak-acakan, atau bahkan berantakan yang tidak karuan hubungan antar bagiannya. Sehingga, keadaan yang demikian akan menyulitkan bagi mereka yang hendak memahami atas suatu masalah tertentu. *** By Srie

(Bersambung......)




[1] Lihat pengertian hakikat di Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal 293.
[2] Lihat Jujun S. Sumantri, hal. 22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar