Senin, 07 November 2011

Filsafat Ilmu (3): Sumber dan Paradoks Pengetahuan

Oleh Sri Endang Susetiawati
Sumber Pengetahuan  
Ditinjau dari sumbernya, maka pengetahuan diperoleh melalui kegiatan rasio yang menghasilkan pengetahuan yang rasional dan melalui pengamatan indera manusia, yang menghasilkan pengetahuan yang empirik, yang dialami langsung oleh manusia. Dalam prakteknya, kedua pendekatan untuk memperoleh pengetahuan itu, biasa dilakukan secara gabungan, atau menggunakan kedua-duanya, baik rasio atau pengamatan indera.
Kalaupun ada perbedaan,  adalah pada penekanan, atau pada porsi mana yang lebih banyak digunakan atau diandalkan dalam memperoleh pengetahuan. Mereka yang lebih mengandalkan rasio sebagai sarana memperoleh pengetahuan, dinamakan kelompok rasionalis. Sedangkan mereka yang lebih mengandalkan pengalaman inderawi, dinamakan kelompok empiris.

Di luar kedua sumber itu, ada lagi sumber lain, yaitu wahyu dan intuisi. Wahyu adalah sumber pengetahuan yang berasal langsung dari Tuhan yang diajarkan melalui agama, sedangkan intuisi, berasal dari bisikan hati manusia. Kedua sumber terakhir ini adalah sah dan benar juga, hanya berada pada tataran atau wilayah kajian yang berbeda. Namun demikian, pengetahuan yang berasal dari kedua sumber ini dapat selaraskan dengan pengetahuan dari hasil kegiatan rasio dan pengamatan inderawi manusia. Kesalahan yang terjadi biasanya adalah pada pencampur-adukkan  metode atau kriteria atas sumber pengetahun yang berbeda.

Paradoks Pengetahuan?
Perhatikan sebuah sendok besi yang dimasukkan pada air di dalam sebuah ember. Apa yang akan terlihat ? Mata menyampaikan informasi pengetahuan ke otak bahwa sendok itu berubah menjadi agak bengkok. Benarkah ? Cobalah sendok yang masih berada di dalam air itu dipegang atau diraba oleh tangan secara langsung. Apa yang dirasakan ? Tangan akan menginformasikan pengetahuan ke otak, bahwa sendok tidak mengalami perubahan, atau tidak bengkok sedikitpun. Sebuah pengetahuan  yang bersifat paradoks, hasil dari sumber yang berbada, seolah saling bertentangan. Benarkah, demikian ?
Hasil pengamatan dari mata atau perabaan tangan adalah bagian dari proses empirik, pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman langsung manusia secara inderawi. Namun, ketika hasil pengamatan mata yang menghasilkan pengetahuan bahwa sendok menjadi bengkok bukanlah sesuatu yang salah, bila dibandingkkan dengan hasil perabaan tangan yang memberitahukan bahwa sendok tetap tidak berubah sedikitpun. Dalam hal ini, maka rasio akan memberikan penjelasan atau menguraikan tentang pengetahuan tersebut berdasarkan logika pendekatannya sendiri. Akhirnya, kita akan diberitahu oleh rasio bahwa bengkoknya sendok yang terlihat oleh pengamatan mata, merupakan bagian dari akibat pembiasan cahaya dalam air yang dijelaskan melalui ilmu fisika.
Begitu pula dengan hasil pengamatan pada rel kereta api dalam jarak lurus yang jauh. Mata akan memberi pengetahuan kepada kita bahwa semakin jauh, dua pasang rel besi itu makin menciut, dan akhirnya terlihat menyatu pada jarak yang tertentu yang sangat jauh. Benarkah hasil pengamatan itu ? Ternyata, tidak !. Tidak mungkin kedua sisi rel itu akan menyempit, atau apalagi menyatu. Tentu, jika memang demikian, maka kereta api yang lewat pasti akan terjatuh, bukan ?. Sesuatu yang tidak masuk di akal atau bertentangan dengan rasio.
Kembali, dalam hal ini rasio memberikan pengetahuan kepada kita yang menjelaskan bagiamana sesungguhnya fenomena tersebut terjadi. Ilmu Fisika kembali menjelaskan mengenai teori pembiasan udara, serta persepektif jarak pandang. Sekali lagi, bukan berarti pengamatan inderawi itu salah, namun ada keterbatasan inderawi bila bandingkan dengan pengetahuan hasil kegiatan dari rasio. Sebaliknya, dalam sebuah penelitian, maka hasil pengamatan akan meneguhkan hasil dari kegiatan rasio. Keduanya saling melengkapi dan saling menyempurnakan pengetahuan manusia.*** By Srie

(Bersambung.......)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar