Selasa, 08 November 2011

Filsafat Ilmu (4): Pengetahuan Agama

Oleh Sri Endang Susetiawati
Pengetahuan Agama
Kira-kira, begitu pula hubungan antara pengetahuan yang diperoleh dari sumber rasio dan empiris dengan sumber pengetahuan dari Tuhan dan intuisi. Tidak ada sesuatu hal yang perlu dipertentangkan, apalagi ada yang dicampakkan, karena dianggap bukan sebagai sebuah pengetahuan yang benar. Sekilas, akan terkesan saling bertentangan, namun hakikatnya adalah tidak. Semuanya dapat dijelaskan, sesuai dengan porsi dan wilayah kajiannya masing-masing.
Misalnya, bagaimana menjelaskan tentang pengetahuan dari agama tentang hari akhirat, surga atau neraka ? Tentu, rasio tidak akan mampu menjangkaunya, apalagi pengamatan inderawi. Mengapa ? Karena tidak pernah ada orang yang mampu datang ke sana untuk melakukan observasi, lalu kembali lagi untuk bercerita. Kecuali, orang tersebut meninggal terlebih dahulu, itupun tidak akan pernah ada yang kembali hidup seperti semula. Namun demikian, bukan berarti pengetahuan yang tidak mampu dijangkau oleh rasio atau apalagi oleh pengamatan inderawi, kemudian menyimpulkan bahwa pengetahuan agama itu sebagai sesuatu yang salah.

Pengetahuan yang berasal dari agama adalah pengetahuan yang tingkatannya lebih tinggi dari pengetahuan rasio, apalagi pengetahuan empirik. Karena, pengetahuan agama berasal langsung dari Tuhan, sementara yang lainnya adalah murni berasal dari potensi dan kemampuan manusia semata, mahluk yang diciptakan oleh Tuhan. Namun, karena manusia pun berasal dari sumber yang sama, yakni berasal dari Tuhan, maka seluruh pengetahuan yang berasal dari sumber yang berbeda itu,  pada tingkatan dan hal-hal tertentu akan memiliki kesesuaian yang dapat diterima.
  Cendekiawan muslim, Jalaludin Rakhmat[1] pernah mengilustrasikan bahwa jika seseorang tidak mampu melihat secara langsung atas sebuah bakteri atau amuba yang berada di dalam air tertentu, jangan lantas mengatakan bahwa mahluk itu tidak ada. Jangan pula menyimpulkan bahwa orang yang berpendapat bakteri atau amuba itu ada adalah orang yang salah. Katanya, pakailah mikroskop sebagai alat bantu untuk melihat, agar mahluk sangat kecil itu dapat terlihat. Artinya, untuk memahami pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya, maka seorang menusia memerlukan alat bantu tertentu, baik berupa alat bantu berupa benda fifik atau alat bantu berupa cara berfikir dan cara menghayati pengetahuan yang benar.
Sebaliknya, dengan kemampuan menggunakan rasio dan pengamatan inderawi yang optimal, maka kita akan mampu pula untuk memilah atau membedakan mana pengetahuan yang mengaku berasal dari agama itu dapat diandalkan atau dipercaya, dan mana yang patut untuk dicurigai sebagai hanya karangan dari manusia belaka, sehingga tidak layak untuk dipercaya. Dengan cara ini, kita akan mampu memahami pengetahuan yang berasal dari agama secara kritis dan objektif, bukan berdasarkan atas pemahaman taken for granted, pengetahuan yang sudah ada dan diakui kebenarannya sejak dari sananya, atau sejak dari dahulu kala orang mengetahui. Sehingga, seolah pengetahuan tersebut tidak boleh ladi dipertanyakan atau dikritisi.

Perkembangan Ilmu
Kajian mengenai ilmu terus berkembang, dari yang semula mempertanyakan tentang alam semesta, keberadaan sebuah materi, hingga mempertanyakan tentang diri sendiri sebagai manusia dan anggota masyarakat. Maka, ilmu pun berkembang, dari ilmu yang membahas tentang logika (matematika) dan ilmu alam, seperti fisika, biologi, dan kimia, hingga ilmu tentang manusia dan masyarakat, seperti psikologi, ekonomi, politik, sejarah dan sosilogi.
Semuanya itu, tergolong sebagai ilmu yang padanannya dalam bahasa asing (bahasa Inggris) disebut sebagai science (sains). Meski, seringkali pengertian sains lebih dipahami sebagai ilmu yang terkait dengan hubungan materi atau alam semesta. Sementara itu, pengetahuan sendiri sepadan dengan istilah asing knowledge.[2] Kini, perkembangan ilmu kian banyak pada aspek penerapan yang kian terinci dan lebih spesifik.*** By Srie.



[1] Jalaludin Rakhmat, Islam Alternatif, hal. 39
[2] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, hal. 85

Tidak ada komentar:

Posting Komentar