Selasa, 01 November 2011

Hentikan Tawuran Pelajar, Dimana Peran Guru?

Oleh Sri Endang Susetiawati
Tawuran antar pelajar kembali terjadi di wilayah Jakarta. Peristiwa perkelahian masal antar siswa yang berasal dari SMA 6 dan SMA 70 di kawasan Blok M, Jakarta Selatan itu berbuntut panjang. Sejumlah wartawan yang sempat meliput aksi tawuran masal yang terjadi pada September lalu (Jum’at, 16/9) telah menjadi korban pemukulan dan aksi kekerasan lainnya dari para pelajar.
Upaya sejumlah wartawan yang hendak meminta klarifikasi dan menuntut pertanggungjawaban sekolah (Senin, 19/9), justru berakhir ricuh. Bentrokan antar para wartawan dengan pelajar SMA 6 terjadi di depan gerbang sekolah yang dikenal sekolah elit tersebut. Sejumlah wartawan, siswa maupun guru telah menjadi korban dari peristiwa aksi kekerasan tersebut, hingga ada yang dirawat di rumah sakit terdekat.

Berita mengenai tawuran dan aksi kekarasan yang melibatkan para pelajar sering kita dengar. Namun, setiap kali peristiwa itu terjadi selalu saja menyita perhatian yang cukup besar dari berbagai kalangan, terutama bagi mereka yang peduli atas pendidikan sekolah di negeri ini. Pertanyaannya, di manakah peran sekolah dan guru dalam menciptakan budaya damai, budaya anti kekerasan?
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, tentu saja sekolah amat wajar mendapat gugatan atas perannya dalam mendidik anak didiknya. Terlepas dari bagaimana kronologi yang sebenarnya atas peristiwa tawuran tersebut, keprihatinan masyarakat masih dianggap layak untuk ditujukan pada sekolah yang seharusnya mendidik nilai-nilai positif bagi siswanya. Bagaimanapun, sekolah dirancang sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan dapat berfungsi sebagai agen perubahan sosial dan budaya ke arah yang lebih baik.
 Lantas, di manakah letak permasalahannya, sehingga sekolah atau guru dianggap kurang mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dalam membentuk karakter pribadi siswa yang luhur, bersikap toleran, cinta damai dan menolak aksi kekerasan? Dari manakah perilaku kekerasan itu tumbuh dalam diri sebagian para para pelajar?
Faktor-Faktor Berpengaruh
Upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja membutuhkan pemahaman yang lebih utuh dan mendalam. Ada faktor keluarga, yang mempengaruhi karakter pribadi seorang pelajar. Hubungan interaksi dengan orang tua atau saudara akan turut membentuk kepribadian seorang pelajar. Pola interaksi di antara mereka yang cenderung mempraktekkan berbagai bentuk kekerasan, jelas akan terwariskan pada mereka, sebagai bentuk pendidikan secara informal.
Faktor pertemanan pun turut berpengaruh. Bahkan, amat mungkin sangat menentukan manakala pola interaksi pertemanan dilakukan secara lebih intensif. Perlakuan yang diterima dari para senior di sekolah atau teman pegaulannya di luar sekolah akan turut memberikan pengaruh yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian seorang anak pelajar. Apa yang diperoleh dalam pergaulan pertemanan akan membentuk gambaran tentang bagaimana sebuah pola interaksi akan terjadi.
Intensitas pengaruh pertemanan akan dirasakan lebih kuat apabila bentuk pertemanan menjelma menjadi kelompok yang lebih solid, semacam geng antar masing-masing kelompok. Proses transfer dan internalisasi nilai-nilai solidaritas antar teman menjadi lebih intensif. Bahkan, termasuk didalamnya nilai-nilai negatif sekalipun, semisal adu gengsi antar geng, hingga tawuran antar mereka menjadi amat mungkin dapat terjadi.
Faktor bacaan, termasuk pula di dalamnya menonton adegan film, permainan game online dan berselancar di dunia maya jelas tidak dapat diabaikan pula dalam ikut membentuk kepribadian seorang anak pelajar. Perkembangan teknologi komunikasi yang kian mengubah cara orang berinteraksi, tidak hanya di dunia nyata saja, namun di dunia maya pula, maka proses interaksi di dunia maya pun akan turut berpengaruh juga dalam membentuk karakter seorang anak pelajar.
Faktor sekolah adalah jelas bagian lain yang dapat turut berpengaruh secara langsung atau tidak langsung dalam pembentukan karakter seorang anak pelajar. Karena sekolah merupakan sebuah proses pendidikan yang rutin, terencana dan terjadwal, maka sangat wajar apabila masyarakat banyak berharap agar sekolah mampu memberikan pembelajaran nilai-nilai positif pada anak-anaknya yang bersekolah. Meskipun sekolah hanya merupakan bagian dari sekian banyak faktor yang turut berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak, namun fungsi dan perannya dianggap sangat penting dan strategis.
Masalah Komunikasi dan Toleransi
Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya sekolah, khususnya para guru dapat memainkan fungsi dan perannya secara optimal dalam pembentukan karakter kepribadian anak yang positif? Tentu saja, meski tidak semua peran dapat dilakukan oleh sekolah atau guru secara seratus persen atau mengambil alih semua faktor yang turut berpengaruh atas pembentukan kepribadian siswa, namun sejumlah hal berikut ini dapat dipertimbangkan untuk dapat dikembangkan.
Aksi kekerasan amat mungkin berawal dari kegagalan dalam melakukan komunikasi dengan baik. Adanya sejumlah masalah yang dihadapi oleh para pelajar kurang mampu diselesaikan melalui cara-cara dialog. Mereka cenderung kurang bersikap toleran, sehingga lebih mengendepankan aksi kekerasan secara fisik. Kecenderungan ini makin diperkuat oleh adanya solidaritas kolektif yang lebih didasarkan atas perilaku emosional yang jauh dari pertimbangan logika yang bersifat rasional.
Dalam kaitan ini, seharusnya sekolah mampu mengembangkan kemampuan berkomunikasi para siswanya. Siswa perlu dibiasakan untuk menggunakan cara-cara berdialog dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Cara penyelesaian masalah melalui aksi kekerasan fisik harus selalu dihindari karena dianggap tidak sesuai lagi dengan budaya modern yang lebih beradab.
Upaya untuk menanamkan sikap toleran atas perbedaan perlu terus dilakukan oleh sekolah terhadap para siswanya. Sikap toleransi, sekurangnya mengacu pada dua hal penting. Yakni, pertama, pengakuan atas keragaman atau perbedaan yang ada, dan kedua, penghargaan atas keragaman dan perbedaan tersebut sebagai bagian yang harus sama-sama dihormati.  Tidak akan ada sikap toleransi apabila tidak dibiasakan untuk memahami dan menghargai adanya keragaman dan perbedaan dalam kehidupan mereka.
Kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual
Lantas, bagaimana sebaiknya sekolah atau guru dapat mengembangkan kemampuan yang demikian? Kemampuan berkomunikasi amat ditentukan oleh dua hal. Yakni kemampuan berpikir yang logis, analitis dan sistematis, yang dapat disebut sebagai kecerdasan intelektual, serta kemampuan dalam mengendalikan diri, bersikap ramah, toleran dan suka bekerja sama yang merupakan bagian dari kecerdasan emosional.
Kecerdasan intelektual amat berpengaruh dalam memahami permasalahan yang dihadapi berserta kemungkinan solusi yang dapat ditawarkan. Sementara itu, kecerdasan emosional berpengaruh, terutama dalam hal membangun hubungan baik dengan pihak lain. Dalam perkembangan berikutnya, diperlukan pula untuk mengembangkan kecerdasan spiritual pada diri anak pelajar agar karakter kepribadiannya kian menjadi utuh.
Konsepsi mengenai pengembangan ketiga jenis kecerdasan tersebut, sebenarnya telah diupayakan oleh pihak Kemendiknas. Dalam buku panduan mengenai pendidikan karakter yang mulai berlaku pada tahun ini juga, dijelaskan bahwa proses pendidikan di sekolah perlu merangkum ketiga hal tersebut. Yakni, merangkum kecerdasan intelektual melalui proses kegiatan olah pikir, kecerdasan emosional melalui proses kegiatan oleh rasa dan kecerdasan spiritual melalui proses kegiatan olah hati.
Dalam kaitan inilah, maka sudah saatnya sekolah atau guru tidak lagi mengembangkan kemampuan anak didiknya yang hanya berdasarkan pada kecerdasan intelektual (akademik) semata. Pengembangan prestasi siswa tidak lagi hanya berorientasi pada pencapaian nilai-nilai akademik yang tinggi, namun mengabaikan pencapaian pada pembentukan karakter yang mengacu pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sudah saatnya, sekolah dan para guru untuk  menyesuaikan diri atas tuntutan perkembangan zaman yang lebih relevan.*** By Srie

(Bersambung..... Klik di sini)

1 komentar:

  1. Tawuran pelajar sering aja terjadi, mengapa ini terus menerus terjadi ya?

    BalasHapus