Rabu, 02 November 2011

Hentikan Tawuran Pelajar, Dimana Peran Guru? (2- Habis)

Oleh Sri Endang Susetiawati

Perubahan Paradigma: Teaching ke Learning
Saat ini, sekolah dituntut untuk melakukan perubahan dalam paradigma pendidikan yang diselenggarakannya. Mantan Dirjen Dikdasmen Depdikbud, Indrajati Sidi, Ph.D. menjelaskan bahwa visi belajar di sekolah saat ini haruslah lebih mendasarkan pada paradigma learning, tidak lagi pada teaching.[1]Dalam paradigma learning, siswa diposisikan tidak lagi semata sebagai objek, namun terutama sekaligus pula sebagai subjek dalam proses belajar. Proses pembelajaran, dengan demikian, lebih merupakan proses pengembangan segenap potensi, minat dan kepribadian yang dimiliki oleh para siswa.

Berbeda dengan paradigma teaching yang lebih mengutamakan pencapaian standar keberhasilan berdasarkan target-target yang telah ditetapkan oleh sekolah atau guru, melalui acuan yang bersifat rigid dalam bentuk silabus atau kurikulum yang baku. Dalam paradigma learning proses pembelajaran harus lebih mempertimbangkan kepentingan perkembangan kepribadian seorang anak berdasarkan protensi, karakter dan keunikan pribadi yang ada pada masing-masing siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran akan menjadi lebih ramah terhadap kebutuhan siswa dalam mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang dewasa.
Pemahaman atas paradigma learning ini, amat sesuai dengan empat visi pendidikan UNESCO abad ke-21, yang dijadikan acuan bagi proses penyelenggaran pendidikan di seluruh dunia.  Empat visi pendidikan tersebut, yakni (1) learning to think (belajar berfikir, berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional), (2) learning to do (belajar berbuat / hidup,  berorientasi pada how to solve the problem,  (3) learning to be, (belajar menjadi diri sendiri, berorientasi pada pembentukan karakter), dan (4) learning to live together (belajar hidup bersama, mengarahkan pada kerja sama dan sikap toleran). 
Pembelajaran Inti dan Ekstra Kurikuler
Konsepsi dan paradigma pembelajaran seperti yang telah diuraikan di atas harus tercermin dalam proses operasional kegiatan belajar mengajar di sekolah yang dilakukan secara utuh dan terpadu. Sekurangnya, operasionalisasi tersebut harus tercermin dalam keseluruhan proses pembelajaran inti yang dilakukan oleh guru, dan pengembangan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian, minat dan bakat para pelajar. Jika proses pembelajaran inti dimaknai sebagai kegiatan yang terkait langsung dengan mata pelajaran, maka pengembangan berbagai kegiatan merupakan tambahan pembelajaran dalam bentuk ekstra kurikuler.
Dalam kegiatan pembelajaran inti, proses pembelajaran siswa dalam hal pengembangan kemampuan berkomunikasi perlu dilakukan. Hal ini dapat terjadi apabila proses pembelajaran didasarkan atas pendekatan yang dialogis, yang lebih merangsang siswa untuk lebih mau belajar berpikir kritis, analitis dan sistematis. Siswa perlu dirangsang untuk terbiasa dan berani mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pendapatnya berdasarkan struktur kalimat yang disusunnya sendiri, tidak lagi harus terikat sama persis dengan apa yang diajarkan melalui buku teks mata pelajaran.
Kondisi proses belajar yang dialogis dan terbuka akan membiasakan siswa untuk lebih mampu mengungkapkan sikap dan pendapatnya sendiri, sekaligus membiasakan untuk belajar berkomunikasi secara lebih baik. Siswa akan lebih memahami atas perbedaan pendapat yang biasa terjadi atas suatu topik masalah tertentu. Kebiasaan dalam suasana yang berbeda dalam hal berpendapat akan memberikan pembelajaran secara langsung mengenai perlunya sikap toleran. Siswa akan belajar untuk terbiasa bersikap toleran atas perbedaan pendapat dan cara berkomunikasi yang diungkapkan oleh teman-temannya sendiri. 
Kondisi yang demikian, pun akan memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat belajar bagaimana menemukan solusi atas sejumlah masalah yang sedang dibahas. Siswa juga akan belajar bagaimana menemukan titik temu, berkompromi dan bersepakat dalam bentuk konsensus atas sejumlah perbedaan atau pertentangan di antara mereka. Singkatnya, pelajar akan dibiasakan untuk belajar menggunakan cara-cara berkomunikasi yang bersifat dialogis, bukannya menggunakan cara-cara berkomunikasi dengan mengedepankan aksi kekerasan fisik dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.
Essay Lebih Relevan
Proses belajar yang dialogis dan terbuka akan lebih efektif lagi apabila ditunjang oleh sistem penilaian hasil belajar yang mendukung dalam pengembangan kemampuan berkomunikasi, berpikir analitis dan sistematis, serta bersikap toleran atas perbedaan. Dalam kaitan ini, maka pihak sekolah atau guru perlu mengembangkan sistem penilaian yang relevan. Tampaknya, sistem penilaian yang berbentuk essay akan jauh lebih efektif dibandingkan bentuk pilihan ganda (multiple choice) dalam mengembangkan karakter dan kepribadian siswa sebagaimana dimaksud di atas.
Mengapa, essay dianggap jauh lebih baik dan relevan? Karena, disamping banyak aspek yang lebih dapat diketahui dalam proses penilaian, bentuk essay akan jauh lebih mampu merangsang siswa untuk bisa berpikir lebih baik. Essay pun akan lebih mampu dalam mengungkapkan pemikiran atau pendapat siswa masing-masing secara lebih baik dan utuh. Essay akan lebih mampu memberikan peluang untuk terciptanya suasana diskusi, sekaligus penghargaan atas jawaban yang beragam, namun masih dalam batas-batas yang dapat dibenarkan.
Keragaman cara memberikan jawaban atas soal atau pertanyaan yang sama dalam bentuk essay merupakan bagian dari pembiasaan siswa untuk bersikap toleran atas perbedaan. Berbeda dengan bentuk soal pilihan ganda yang cenderung memberikan kesan atas keseragaman jawaban yang bersifat tunggal. Hal ini amat mungkin merupakan proses pembiasaan yang kurang memberikan penghargaan atas perbedaan, dan kurang menumbuhkan sikap toleran.
Ekstra Kurikuler
Upaya mengembangkan sikap dan kepribadian yang positif pada diri siswa, jelas akan lebih baik lagi bila dilakukan melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan merupakan bagian dari proses pembelajaran secara langsung, berdasarkan konsep belajar dengan pengalaman (experience learning) yang dipilih dan disukai oleh siswa sendiri. Kegiatan ekstra kurikuler pun merupakan bagian dari proses pembelajaran yang melengkapi dan terintegrasi dengan pembelajaran inti dalam berbagai mata pelajaran.
Kegiatan ekstra kurikuler perlu diarahkan pada pengembangan kemampuan siswa dalam bentuk olah pikir (misal kelompok diskusi, kelompok ilmiah remaja, dll), olah raga (misal basket, futsal, dll), olah rasa (misal seni musik, seni pertunjukkan, seni peran, dll) dan olah hati (misal kegiatan dakwah, atau pengajian, dll). Tentu saja, amat mungkin untuk mengembangkan kegiatan yang menggabungkan olah pikir, olah raga, olah rasa, dan olah hati, misalnya dalam bentuk wisata alam dengan beragam kegiatan, seperti penelitian sederhana, lintas alam, hiburan kesenian, hingga renungan keagamaan. Bentuk kegiatan gabungan ini bisa dilakukan dalam setiap jelang akhir tahun pembelajaran, sekaligus dapat dijadikan sebagai bagian dari bentuk proses evaluasi pembelajaran secara keseluruhan, khsusnya dalam hal pengembangan karakter dan kepribadian siswa.
Reward and Punishment
Demikianlah, proses pembentukan karekter dan kepribadian siswa dapat dilakukan oleh sekolah atau guru melalui  berbagai cara dan bentuk kegiatan. Tidak boleh terlupakan pula, adalah proses pembentukan kepribadian siswa melalui penegakkan aturan dan dispilin yang dinamis dan efektif oleh pihak sekolah atau guru secara konsisten. Pendekatan reward and punishment secara tepat, terukur dan tetap bersifat mendidik perlu diterapkan secara selektif. Tujuannya adalah agar keseluruhan proses pembelajaran di sekolah menjadi lebih efektif dan dapat diikuti oleh para pelajar secara lebih baik berdasarkan atas tumbuhnya kesadaran sendiri.
Akhirnya, dapat disebutkan di sini bahwa proses budaya, menurut Koentjaraningrat (1986) berawal dari pembiasaan atas perilaku tertentu yang dilakukan oleh banyak orang. Kebiasaan seseorang dalam berperilaku yang baik, cinta damai dan bersikap toleran akan membentuk watak dan kepribadian yang bersangkutan. Kebiasaan yang baik, toleran dan cinta damai yang dilakukan oleh banyak orang akan menciptakan karakter dan budaya bersama yang baik, toleran dan cinta damai. Bukan budaya tawuran yang mengandalkan aksi kekerasan fisik, yang selalu menimbulkan cukup banyak korban dan bersifat merugikan diri sendiri, serta merugikan banyak orang lain lagi.*** By Srie

Tulisan sebelumnya Klik di sini


[1] Indra Djati Sidi, 2001, Menuju Masyarakat Belajar, Jakarta : Paramadina, hal. 25-26.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar