Selasa, 15 November 2011

Ketelanjangan, Moralitas dan Peradaban Umat Manusia

Oleh Sri Endang Susetiawati

Masih saja ada kekeluan ketika kita berhadapan dengan masalah moralitas. Masalah moralitas seringkali hanya dianggap sebagai urusan yang sangat bersifat pribadi. Tidak perlu diungkap, atau apalagi diperbincangkan di ruang publik. Celakanya, masalah moralitas seringkali masih dipersepsikan dan diberi reaksi secara kurang tepat, dan stigmatik. Seseorang akan dengan mudah untuk melabelkan cap sebagai sesuatu yang “sok moralis”, “sok suci” atau “sok alim”.  

Sebuah kondisi psikologi yang amat mungkin cenderung berakar pada fobia terhadap agama. Ada resistensi yang cukup kuat atas segala sesuatu yang berasal dan berbau agama. Benarkah demikian? Sesungguhnya, moralitas bukanlah identik dengan agama. Moralitas adalah bagian dari nilai-nilai kemanusiaan universal.
Lalu, untuk apa nilai-nilai moral itu? Sejatinya, untuk kemanusiaan itu sendiri, agar dapat dihadirkan secara lebih beradab dan mampu meneruskan tugas-tugas kemanusiaan secara berkesinambungan. Agar umat manusia mampu mempertahankan kehidupannya di muka bumi ini.
Tanpa moralitas, maka kemanusiaan akan hancur. Mengapa? Karena moralitas pada hakikatnya merupakan fondasi yang kokoh dalam menopang kemanusiaan. Tanpa moralitas yang kokoh, maka peradaban umat manusia hanya menunggu waktu untuk kepunahannya.
Itulah mengapa, bangsa-bangsa dengan peradaban yang maju selalu ditopang oleh basis moral yang kuat. Tak akan maju sebuah bangsa yang tidak didasarkan pada moralitas atau etik yang tegar dan kuat. Ada kebenaran, kejujuran,  ketulusan, ada harga diri, kehormatan, kebanggaan, kesetiaan, ada tanggung jawab, kepercayaan, penghargaan, ada kebaikan, kebijaksanaan, kelembutan, ada persaudaraan, perdamaian, kasih, sayang, dan cinta, dan seterusnya.
Agama, memang salah satu sumber nilai-nilai moral. Namun, agama bukanlah satu-satunya sumber moralitas bagi umat manusia. Ada banyak lagi sumber moral selain berasal dari agama. Ada filsafat, ada ilmu pengetahuan, ada seni, dan lain-lain. Namun, intinya sama saja, semua berasal dari akal budi manusia yang dianggap berbeda dengan jenis makhluk lainnya.
Sebagai contoh, berbuat telanjang pada dasarnya sah-sah saja, tidak ada yang salah. Namun, ketelanjangan memiliki konteks ruang dan waktu yang dianggap cocok. Penempatan ketelanjangan secara sembarangan dianggap akan melukai nilai-nilai kemanusiaan universal, yang berakar pada filosofi bahwa manusia merupakan mahluk yang lebih terhormat dan beradab dibandingkan mahluk lainnya.
Pun, demikian ketika kita hendak berbicara atau mengungkapkan ekspresi tentang ketelanjangan. Penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan universal, perlu untuk selalu dipertimbangkan saat kita hendak menilai sebuah kepantasan dan kewajaran berekspresi. Selalu ada ruang terbuka untuk bebas berekspresi, namun akan selalu ada moralitas bersama yang mengatur tentang dimana sebaiknya kepantasan dan kewajaran berkspresi itu ditempatkan.
Tentu saja akan ada ruang relativitas untuk masalah moralitas. Selalu akan ada penyesuaian dari waktu ke waktu, dan dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Setiap individu atau kelompok memiliki hak untuk mengusung dan mempromosikan pandangan yang dianggapnya sesuai dan mewakili kepentingannya. Ada ruang, dimana akan terjadi interaksi dan dialog mengenai sikap dan pandangan itu, untuk kemudian melahirkan relativisme moralitas yang dianggap lebih objektif.
Kejujuran yang mendalam adalah kuncinya. Bersikap toleran atas kepentingan umum yang lebih besar adalah keinsyafan yang jauh lebih utama. Agar selubung atas nama apapun tidak memiliki kesempatan untuk menutupi akar masalah yang sesungguhnya. Agar konteks masalahnya tidak kemudian menjadi lari ke sana kemari, menjadi sekedar perdebatan tentang “batas-batas” ketelanjangan atas nama klaim relativisme dan absurdisme yang kian mengaburkan masalah yang sebenarnya.
Betapapun relatif dan sangat absurd, namun masalah kemanusiaan haruslah hadir pada tataran yang lebih konkrit. Mengapa? Agar umat manusia tidak lupa dari konteks masalah konkret yang dihadapinya secara bersama. Ada masalah kemiskinan dan ketidakadilan, ada masalah korupsi yang akut, ada masalah ancaman lingkungan hidup, ada masalah kekerasan dan konflik, dan seterusnya.
Dalam konteks ini, maka perbincangan mengenai masalah moralitas sesungguhnya merupakan bagian integral dari upaya mencari solusi secara holistik dalam mengatasi masalah-masalah konkret tersebut. Ada masalah budaya kemanusiaan yang sedang dan akan terus diperjuangkan. Agar nilai-nilai moralitas kemanusiaan universal akan terus dapat menjadi fondasi yang kokoh dalam menopang tegaknya sebuah peradaban umat manusia.***By Srie.

Salam persahabatan

Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar