Senin, 14 November 2011

Kunci Sukses Belajar, Berpikir Positif (2): Selalu Saja Ada Alasan Untuk Malas Belajar


Oleh Sri Endang Susetiawati

Selalu ada alasan untuk malas belajar. Anggapan diri sendiri sebagai kurang pintar atau bodoh, bukanlah satu-satunya alasan yang biasa dijadikan sebagai pembenar bagi para pelajar untuk malas belajar.
“Mata pelajarannya kurang menarik, bu” kata salah seorang di antara mereka.
“Gurunya kurang menarik dalam mengajarkan pelajaran, bu” ucap pelajar yang lainnya.
Alasan keduanya itu, seolah diamini oleh banyak pelajar lainnya. “Benar, bu !” kata mereka. Bahkan, ada di antara mereka yang secara jelas menyampaikan sikapnya, “Maaf, bu,... saya tidak suka dengan pelajaran itu, juga saya tidak suka dengan gurunya !”.

Satu hal yang menarik, sang guru tidak lantas tersinggung saat mendengar sejumlah alasan para siswa yang terkesan memojokkan  rekan kerjanya itu. Justru, dia tetap bersikap tenang dan berusaha untuk terus tersenyum, dan mencoba memahami logika dan jalan pikiran mereka. Lalu, ia mengucapkan sesuatu, “kenapa kalian menggadaikan masa depanmu pada sesuatu yang di luar dirimu sendiri ? Pada mata pelajaran atau pada seorang guru ?” kata sang guru mulai mengajak berdiskusi.
Kata “menggadaikan masa depan” tentu saja tidak langsung dapat dicerna dan dipahami oleh siswa. Karena, istilah “menggadaikan” atau “pegadaian” lebih dikenal oleh mereka sebagai bentuk lembaga pinjaman uang dengan memberikan jaminan barang, bukan ? Benar, dan sangat tepat !
Menggadaikan masa depan dapat berarti menggantungkan masa depan kamu semata-mata kepada pihak di luar kamu sendiri. Misalnya, kamu menggantungkan kepada guru yang kurang menarik dalam mengajar, pada lingkungan yang kurang kondusif atau menyenangkan, atau kepada sesuatu hal yang dianggap oleh kamu sebagai faktor negatif yang menghambat bagi kamu dalam belajar.
“Lukislah masa depanmu dengan indah, sepenuhnya oleh usaha dirimu sendiri” ” kata sang guru melanjutkan.
“Jika kamu tidak menyukai sesuatu atau seseorang di luar dirimu sendiri, mengapa kamu lukis masa depanmu dengan gambar yang buruk, atau bahkan tidak ada lukisan yang kamu kerjakan sama sekali ?” sambungnya lagi, sambil bertanya kepada para muridnya yang terkesan mungkin tampak kian bingung, berusaha memahami kata-kata yang diucapkan dari mulut sang guru.
“Biarlah mereka dibikin bingung dulu. Tapi, kini mereka mulai mencoba untuk berfikir !” ucap sang guru dalam hati, sambil terus mengamati.
Menurut sang guru, selama ini siswa tidak dibiasakan untuk berfikir, dan kurang berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memberikan jawaban dari sebuah pertanyaan yang berawal dengan kata “mengapa ?”. Mengapa seseorang harus belajar ? Mengapa seseorang harus bersekolah ? Mengapa bermalas-malasan tidak baik bagi masa depan ? Mengapa harus sukses ? ***  By Srie

(Bersambung.....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar