Jumat, 04 November 2011

Resensi Buku: Cuci Otak NII, Pengakuan Mantan Juru Doktrin NII


Judul: Cuci Otak NII: Pengakuan Mantan Juru Doktrin NII
Penulis: Gilang Pratama
Penerbit: Tinta Publisher, Jakarta
Cetakan: I, April 2011
Tebal: 320 halaman

Dalam pekan terakhir, marak kita dengar gaung formalisasi syariat Islam di Indonesia. Pemahaman adanya kewajiban menjadikan “Islam” sebagai ideologi negara ini, sejatinya merupakan pangkal dari munculnya gerakan Islam radikal di Indonesia.

Kabar yang sontak nyaring adalah eksistensi pengkaderan Negara Islam Indonesia (NII). Dari lanskap ideologinya, gerakan ini ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.  Adanya warna warni ritual keberagamaan yang berbeda, menjadikan benih gagasan ideologisasi dan formalisasi Islam di Indonesia terus muncul. Pemahaman skripturalis membuat golongan-golongan ekstrim ini cenderung konservatif dan fundamentalis.


Dalam perkembangannya, kelompok pendukung NII menjadi dua jalur. Jalur pertama memperjuangkan NII secara formal dalam wadah organisasi keagamaan yang dalam keadaan tertentu mengambil jalan kekerasan, sementara jalur kedua mengambil jalan konstitusional dengan melalui jalur yang disediakan negara, yakni partai politik. Terlepas dari itu semua, ideologi NII tetap mengkhawatirkan. Mengapa demikian, karena modus NII adalah suguhan odeologi yang salah kaprah dan identik dengan pengurasan harta benda atas nama jihad. Hal ini jelas melenceng dari NII yang diproklamasikan pertama kali oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo pada 7 Agustus 1949 di desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong Tasikmalaya, Jawa Barat.

Secara ideologi, NII memahami teks-teks keagamaan secara skriptural dan tekstual untuk menjustifikasi ideologi mereka sendiri. Bagi mereka, negara Islam adalah harga mati. Dengan anggapan, situasi Indonesia selama belum menjadi negara Islam adalah situasi perang,  bukan situasi damai. Ini berarti Islam telah dan sedang dibajak serta diselewengkan oleh gerakan-gerakan ekstremis itu.

NKRI diibaratkan sampah. Karena itu, yang mengaku sebagai orang Islam dan menjalankan kewajiban agama di wilayah NKRI, dianggap tidak sah. Setelah para pengikut NII dinyatakan “aman”, tugas mereka hanya dua: pertama; mencari pengikut sebanyak-banyaknya, dan mencari dana sebanyak-banyaknya. Ini adalah pengakuan dari seorang pengikut NII yaitu penulis buku ini.
 
Menurut Gilang Pratama, ada tiga doktrin paksaan yang dijadikan titik nadir kepada semua pengikut NII. Tiga doktrin langkah strategis itu adalah amanu-hajaru-jahadu, artinya iman-hijrah-dan jihad. Mereka menganggap orang lain yang tidak mengikuti mereka adalah “najis”, termasuk orang tua kandungnya sendiri. Sebagaimana pengakuan Gilang, setelah ditinggal wafat orang tuanya, ia semakin terperosok ke dalam jurang kelompok radikalisme yang dibungkus agama. Perlahan, ia mulai bersikap eksklusif dan cenderung menjauhkan diri dari pergaulan orang. Setelah dibaiat dalam ideologi NII, ia dengan mudah memvonis kafir (takfir) pada orang tak mau mengikuti jalan pikirannya (hal 139).
Perubahan yang terjadi pada sosok Gilang adalah akibat dari metode “cuci otak” yang dirancang oleh gerakan NII dalam menjaring kader-kader militan. Teknik yang digunakan menggunakan metode semacam training dan menggunakan waktu yang cukup panjang untuk menanamkan program atau ide dalam pikiran seseorang. Biasanya, proses perekrutan dilakukan ditempat-tempat santai, misalnya kafe, mall dan tempat angkringan kaum muda.

Buku catatan harian Gilang Pratama ini, patut dibaca oleh generasi muda Islam untuk membentengi mereka dari benih ideologi gerakan ekstrim yang berusaha membajak Islam dalam ruang intern. Buku ini mengajak mengintip sepak seorang mantan kader inti NII yang tentu mempunyai visi, misi, dan sekaligus seluk-beluk gerakan Islam radikal. Semua itu ada dalam oretan harian Gilang Pratama ini.

Maka, kehadiran buku ini setidaknya dapat memberikan sebuah penggalan lain kisah seorang mantan kader NII. Tak hanya itu, testimoni yang lahir dari mantan para pengikut NII yang insyaf, sadar dan tidak mau lagi bergabung dengan NII, dapat dijadikan entry point bagi pemerintah untuk mengungkap jaringan dan gerakan NII.


Peresensi:
Wildani Hefni
Pengelola Rumah Baca PesMa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang

(Okezone.com//mbs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar