Jumat, 10 Februari 2012

Ensiklopedi al-Qur’an (Hanif-4): Ajakan Kepada Agama Tauhid (1)

Oleh M. Dawam Rahardjo

Agaknya, ketika ayat-ayat al-Qur’an merujuk kepada sejarah Ibrahim yang membawa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kaum Yahudi dan Nasrani melakukan klaim bahwa Ibrahim adalah penganut agama mereka masing-masing. Yang Yahudi mengatakan bahwa Ibrahim adalah penganut agama Yahudi, sedangkan yang Nasrani mengatakan hal yang serupa.

Memang benar bahwa riwayat Ibrahim terdapat dalam Taurat dan Injil (menurut versi al-Qur’an) atau dalam Kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tapi itu tidak berarti bahwa Ibrahim dapat digolongkan ke dalam salah satu agama tersebut. Ayat 65 dan 66 surat Ali Imran mengatakan:
Hai ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang perihal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?

Beginilah kamu, kamu ini sepantasnya bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu ini bantah membantah tentang suatu masalah yang kam tidak memiliki ilmu tentang hal itu? Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui
.

Agaknya, pada waktu itu memang terjadi  perdebatan di antara kaum Nasrani dan Yahudi sendiri, sambil satu sama lain memasukkan nabi Ibrahim ke dalam golongan mereka. Dalam situasi seperti itu, al-Qur’an memberikan keterangan bahwa kitab Taurat yang diwahyukan melalui nabi Musa dan Injil melalui Nabi Isa itu, diturunkan sesudah Ibrahim. Dengan perkataan lain, Ibrahim hidup sebelum masa turunnya Taurat dan Injil (lihat bagan geneologi nabi-nabi yang disusun berdasarkan buku Perjanjian Lama Genesis i,xi dan xxv, oleh Sayid Muzaffaruddin Nadwi dalam bukunya, Sejarah Geografi Qur’an, 1985).

Dikatakan oleh al-Qur’an bahwa kaum ahli kitab itu berdebat tanpa landasan ilmu pengetahuan (sejarah) yang kokoh. Kemudian al-Qur’an memberikan penjelasan tentang siapa itu Ibrahim dan bagaiamana sesungguhnya kedudukannya. Menurut ayat 67, Ibrahim adalah seorang hanif yaitu yang percaya dan menyerah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, ayat berikutnya menjelaskan siapa sebenarnya yang paling dekat dengan Ibrahim:

....Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang hanif, yaitu orang yang menyerahkan diri kepada Allah dan sekali-kali bukan termasuk orang-orang musyrik.

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah (yang kini masih menjadi) pengikutnya dan nabi ini (muhammad) serta orang-orang yang percaya (kepada Muhammad). Dan Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman.

Di situ al-Qur’an menganjurkan seluruh umat beragama pada waktu itu untuk kembali pada agama yang murni dan paling sesuai dengan fitrah manusia, yaitu agama Ibrahim. Pada waktu itu, pengikut Ibrahim yang murni memang telah ada, yaitu mereka yang menganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan pengikut nabi Muhammad saw. dinyatakan oleh al-Qur’an sebagai mereka yang tergolong hanif juga.

Situasi yang dihadapi oleh Rasulullah pada masa-masa awal di Madinah itu mengingatkan kita sendiri pada sejarah terbentuknya Republik Indonesia. Ketika itu, nabi sedang memulai membentuk masyarakat baru. Masyarakat baru itu haruslah memiliki “philosophische gronslag” atau dasar-dasar filosofis bagi pembentukan masyarakat. Itulah pula dasar pemikiran yang melatarbelakangi Bung Karno, ketika akan mengucapkan pidato di depan anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada tanggal 1 Juni 1945.

Pada waktu itu, Bung Karno dalam pidatonya yang memukau para hadirin, mengajukan sebuah konsep “Weltanschauung” atau sesuatu pandangan dunia yang disebutnya Pancasila, terdiri dari lima prinsip dasar: Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Perikemanusiaan; Mupakat atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; dan terakhir, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Ketuhanan Yang Maha Esa. Atas usul pemimpin Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo, dasar Ketuhanan Yang Maha Esa diletakkan paling atas. Kemudian, dalam UUD 1945, prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut dicantumkan dalam pasal 29 ayat 1 sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. *** By Srie


(Bersambung........)

Catatan: Tulisan ini disalin dari Majalah Ulumul Qur’an No. 5 Vol. II 1990/1410 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar