Selasa, 07 Februari 2012

Indonesia 2011: Ekonomi Tumbuh 6,5 %, Pendapatan per Kapita US$ 3.542,9

 Produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,5 % jika dibandingkan dengan 2010. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi (10,7 %), diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran (9,2 %), serta sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan (6,8 %).

Hal itu disampaikan Pjs. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta, kemarin (6/2). PDB Indonesia 2011 atas harga berlaku mencapai Rp 7.427,1 triliun atau lebih dari US$ 850 miliar,” katanya.
BPS mencatat pertumbuhan terbesar disumbang sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 1,6 % (13,8 % dari PDB). Sebaliknya sumbangan industri pengolahan dan sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan terus menurun.

Lebih lanjut Suryamin mengungkapkan pendapatan perkapita juga meningkat. Pada 2011 pendapatan perkapita mencapai  Rp 30,8 juta atau US$3.542,9 sedangkan pada 2010 hanya Rp 27,1 juta atau US$ 3.010,1.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyampaikan pertumbuhan ekonomi 6,5 % itu ditopang pertumbuhan investasi yang mencapai 8,8 %.

Pertumbuhan ekonomi pada 2009 banyak ditopang pertumbuhan konsumsi domestik. Kini, menurut Agus, peran investasi yang cukup besar membuat pertumbuhan ekonomi semakin nyata.

“Sekarang kita mencapai pertumbuhan 6,5 %. Peran dari investasi sangat mencolok. Kita harapkan pertumbuhannya di 2012 investasi bisa 10 %,” ujarnya.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi 2012 mampu mencapai 6,7 %.

“Fokus pada 2012 ialah memacu pertumbuhan di investasi, baik di private sector maupun public sevice, misalnya melalui belanja modal di APBN harus dioptimalkan,” katanya.

Untuk menambah investasi pemerintah harus mewaspadai hubungan industri dengan buruh yang termasuk iklim investasi secara umum. Kepastian hukum dan izin investasi juga tidak boleh merugikan investor.
Orang Kaya Baru

Ekonom avilian menimpali bahwa pertumbuhan saat ini terjadi di sektor yang tidak menciptakan lapangan pekerjaan atau sektor non-tradable . Artinya, tidak terjadi pengentasan warga dari kemiskinan.

Sektor industri pengolahan terbelit banyak masalah, seperti infrastruktur, birokrasi, pajak, dan korupsi. Adapaun sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan juga terhambar masalah perizinan dan penyediaan lahan yang dinilai kecil. Karena itu, masuk akal jika kontribusinya terus menurun.

Peningkatan pendapatan perkapita pun, menurut Aviliani, terjadi karena banyaknya orang kaya baru di sektor pertambangan dan penggalian.

Selain itu, peningkatan pendapatan per kapita didominasi kelas menengah yang dalam hitungan Aviliani mencapai 50-60 juta orang. Ia menegaskan pendapatan per kapita belum dirasakan rakyat yang hampir miskin dan miskin.

“Kita belum cukup mengurangi kemiskinan dn membawa masyarakat ke kelas menengah. Soalnya, 50 % masyarakat kita masih berpendidikan SD.” (X-17).

____________________________
Sumber berita: Disalin dari Marchelo, Media Indonesia, Selasa 7 Februari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar