Kamis, 13 September 2012

Anak-Anak Dalam Lingkaran Kemiskinan


Oleh Srie
Waktunya, lebih dari sebulan yang lalu. Hari menjelang siang di kala angin masih membawa pesan Ramadhan. Kusapa mereka.
“Apa kabar kalian?”.
“Baik, bu,” jawabnya serempak, namun datar.
Tak lupa, saya berikan senyum pada mereka yang sedang mengikuti pelatihan lifeskill, untuk anak-anak putus sekolah, yang diadakan oleh PKBM di daerahku.
Kutatap puluhan pasang mata anak-anak berusia belasan tahun itu, satu per satu. Mereka, banyak yang langsung menunduk, lalu alihkan perhatian pada kedua tangannya. Pertanda malu atau seolah mengangggapku tidak ada di hadapannya?

Kutanya satu per satu, di antara mereka. “Hai, kamu siapa namanya?” “Anggi, bu,” jawabnya singkat. Suaranya pelan.
“Anggi, manis sekali kamu hari ini” komentarku berusaha untuk meraih perhatiannya.
Anggi hanya memberiku senyum untuk beberapa detik saja. Sempat ia menatap mataku, meski sebentar. Kemudian, ia kembali arahkan wajahnya ke bawah, menunduk.
Meski dengan jawaban yang pendek-pendek, saya dapatkan informasi dari anak perempuan berusia 15 tahun yang kini tinggal bersama neneknya di kampung. Kedua orang tuanya berpisah. Katanya, masing-masing pergi ke kota. Entah di mana.
Anggi terpaksa meninggalkan bangku sekolah, usai lulus SD. “Mengapa tidak dilanjutkan sekolahnya, Anggi? Di SMP?,” tanyaku.
“Tidak, bu. Saya terpaksa ikut bantu nenek jualan keliling,” jawabnya polos.
Kualihkan perhatianku pada anak laki-laki yang duduk di bagian belakang. “Apa kabar, siapa namanya?” Ia terdiam. Tidak ada tanggapan suara.
Saya lebih mendekat. Kuulangi lagi pertanyaanku. “Hei, apa kabar? Namanya, siapa, dik?”. Tetap tidak ada balasan suara. Kupegangi pundaknya. Saya dapatkan balasan tatapan mata yang kosong.
“Kenapa, tidak mau menjawab pertanyaan ibu?”. Ia masih terdiam.
Mukanya mulai terlihat memerah, padam. Karena, kulitnya agak legam, tampak jelas bekas sengatan mentari yang terus menyiram.
Saya tetap bersabar untuk menunggu jawaban. Perlahan, kulihat air mata mulai menetes. Ia menangis. Seketika, langsung tangannya menyeka.
“Ada apa, sayang?” sapaku seraya membujuk.
Hanya gelengan kepala yang bisa ia lakukan Sementara, tangannya berusaha untuk menutupi wajahnya. Saya rasakan seluruh isi ruangan ikut tercekam keharuan.
“Adakah sesuatu telah terjadi pada anak ini?” tanyaku dalam hati.
“Mengapa berbicara merupakan sesuatu yang begitu berat baginya?”.
Entahlah, saya hanya bisa menebak-nebak. Mungkinkah, ia merasakan keharuan kala disapa dan ditanya?
Mungkinkah, sapa dan tanya adalah sesuatu yang hampir tak pernah ia rasakan? Sesuatu yang boleh jadi teramat mahal untuk ia dapatkan. Bahkan, sepanjang hidupnya.
Saya alihkan untuk menyapa anak-anak yang lainnya. “Ceritakan, apa yang kalian alami pada tiga hari terakhir ini?”.
“Apa kegiatanmu sehari-hari?”.
“Bagaimana dengan keluarga kalian?”.
Saya berusaha untuk menghilangkan jarak dengan mereka. Satu per satu kudekati mereka. Sedikit demi sedikit, mereka mau lebih terbuka.
Mereka mulai berani menjawab, mengajukan pertanyaan dan kemukakan pendapat. Termasuk, anak laki-laki yang sebelumnya cuma bisa menangis itu.
Setelah dua kali pertemuan, ia telah mengalami perubahan. Ternyata, ia bernama Andi. Anak berumur 16 tahun, sempat sekolah di Kelas 1 SMP, sebelum ia keluar karena terpaksa harus memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dengan berat hati, ia mau menekuni “profesinya” sebagai tukang parkir dan tukang cuci kendaraan truk pengangkut pasir di kampungnya. Ia harus berbagi rezeki dengan sejumlah teman seusianya untuk mendapatkan kisaran Rp 5.000 – Rp 20.000 saja per harinya.
Saya berusaha untuk membesarkan hatinya. Motivasi adalah hal paling penting yang sebenarnya mereka perlukan. Perhatian, dukungan dan penghargaan merupakan bagian yang sangat berharga bagi mereka untuk berkesempatan bangkit dari keterpurukan.
“Apa yang kalian alami, saat ini. Bukanlah berarti akhir dari segalanya,” ujarku memulai untuk memberi motivasi.
“Satu hal yang pasti. Kalian juga punya masa depan,”
“Pertanyaannya, maukah kalian memiliki masa depan yang gemilang?”
Tentu saja, mereka menjawab “mau”. Meski masih ada keraguan yang terlihat dari raut wajahnya. Namun, setidaknya kemauan itu mesti ada kembali untuk memulai sebuah perjuangan meraih harapan.
Paling tidak, mereka berusaha kembali untuk meyakinkan dirinya, bahwa masa depan yang lebih baik masih terbuka.
Mereka, yang mengikuti pelatihan itu, adalah anak-anak yang kurang beruntung. Mereka terjebak dalam keadaan yang menimpa ayah dan ibunya, untuk kemudian ditanggung sang anak tanpa ada kesempatan untuk menolaknya.
Keadaan memaksanya untuk menentukan pilihan. Bahwa sekolah, baginya bukanlah pilihan yang dapat dilakukan.
Sebenarnya, masih beruntung apabila orang tua masih mau memberikan harapan. Mereka masih bisa memberikan dorongan semangat kepada anak-anaknya untuk tetap bersekolah, meski keadaan dibelit oleh serba kekurangan.
Paling tidak, masih ada peluang. Pemerintah menganggarkan triliunan rupiah untuk membantu anak-anak sekolah, terutama untuk kelompok keluarga kurang mampu.
Namun, bagaimana bila orang tua mereka ternyata tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Mereka tidak melakukan bimbingan, motivasi atau berusaha ikut membantu mencari jalan keluar.
Bahkan, tidak jarang mereka justru lari dari tanggung jawabnya sebagai orang tua, yang seharusnya masih merupakan kewajibannya hingga sang anak jelang dewasa.
Orang Pinggiran
Kita masih bisa saksikan tayangan di televisi yang mengisahkan kehidupan orang-orang “pinggiran”. Mereka yang sangat terbatas, atau bahkan tidak punya akses sama sekali untuk punya kesempatan memperbaiki nasibnya yang kurang beruntung.
Keluarga yang tidak mampu, atau bahkan bermasalah karena kasus perceraian, kemudian berdampak pada kehidupan anak-anaknya yang masih kecil, yang seharusnya masih mengenyam di bangku sekolah.
Ada di antara anak-anak itu yang harus terpaksa keluar sekolah untuk membantu orang tua dengan cara menjadi pekerja serabutan membantu para tetangga di sekitarnya. Ada, mereka yang ikut berdagang kecil-kecilan kelililing kampung, atau menjadi tenaga buruh sekadarnya di perkebunan sayuran.
Bahkan, ada anak yang terpaksa melakoni pekerjaan sebagai buruh pabrik penggilingan padi, di mana ia harus mengangkat beban yang tidak wajar untuk anak seusianya.
Semuanya, hanya karena terpaksa, ketika ia dan keluarganya harus menyambung hidup, hari demi hari. Dalam keadaan tersebut, sekolah menjadi sesuatu yang harus dikorbankan. Akibatnya, lingkaran kemiskinan menjadi hal yang tak dapat dihindarkan.
Warisan Kemiskinan
Orang tuanya miskin, amat mungkin disebabkan oleh tingkat pendidikan yang terbatas yang dimiliki saat masih muda. Pekerjaan menjadi cukup sulit bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan dan ketrampilan yang memadai.
Apalagi, mereka  harus bersaing dalam kehidupan yang kian berat. Terlebih, ketika mereka telah memiliki tanggungan anak-anaknya.
Kini, keadaan yang sama terwariskan nyaris sempurna kepada anak-anaknya. Pendidikan, yang secara sosial, merupakan jalan terbaik dalam mengubah kemiskinan, justru tidak didapatkan oleh sang anak.
Persis sama, apa yang tidak diperoleh pula oleh kedua orang tuanya pada tahun-tahun sebelumnya.
Agaknya, dibutuhkan lebih dari sekadar program wajib belajar 12 tahun, program BOS, atau BSM (Bantuan untuk Siswa Miskin). Program pengentasan kemiskinan, dan program pendidikan pun harus menjangkau pada kelompok mereka yang kurang beruntung, seperti mereka. 
Terpenting lagi, adalah memastikan bahwa apapun keadaannya, anak-anak haruslah tetap ikut pendidikan sekolah yang merupakan haknya.
Sementara itu, sekolah harus lebih ramah dan dapat memberikan motivasi yang kuat, agar mereka dapat memiliki kesempatan untuk berubah dalam menyongsong masa depan. Tujuannya, agar lingkaran kemiskinan itu dapat diputuskan. [] By Srie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar