Minggu, 16 September 2012

Film "Omar" (Umar Bin Khaththab) Tayang Ulang Di Televisi

Oleh Srie
Apakah selama bulan Ramadhan kemarin, anda sempat menyaksikan sebuah film berseri tentang Omar atau Umar Bin Khaththab yang tayang saat waktu sahur di MNC TV? Jika belum sempat melihat, atau masih penasaran untuk menyaksikannya lagi, kita dapat menyaksikan tayangan ulang film ini di televisi yang sama pada setiap hari Sabtu dan Minggu, pukul 17.00, mulai kemarin.
Kehadiran tayangan Film Omar telah menyita perhatian banyak kalangan. Termasuk saya, bersama keluarga, yang hampir tak pernah absen menonton pada sekitar pukul 04.00 pagi, di saat waktu sahur. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah merekomendasikannya sebagai tayangan yang sangat baik dan sarat dengan tuntunan.
Di tengah masih minimnya acara TV yang bersifat edukatif dan menarik, saya menganggap film Omar memang sangat baik, berbobot dan bermanfaat . Film yang dibuat di Mesir dan Suriah dengan melibatkan ribuan personel dan menghabiskan hampir setengah trilyun rupiah ini memang layak ditonton.
Film ini mengambil alur cerita bergaya flashback saat Khalifah Umar melaksanakan ibadah Haji pada tahun ke 23 Hijriyyah. Saat hendak pulang kembali ke Madinah, di suatu tempat, Umar sempat menangis karena teringat akan masa lalunya sebelum memeluk Islam Dimulai, ketika ia pernah menggembalakan unta-unta milik ayahnya, Al-Khathab, berasal dari suku Addiy, salah satu bagian klan Quraisy.
Kenangan Umar tentang masa lalu inilah yang mengawali aliran cerita dari keseluruhan isi film yang dimulai dari saat Umar masih muda, saat ia menggembalakan unta, sekitar 6 tahun sebelum kenabian Muhammad SAW. Berikutnya, adalah cerita di mana Umar termasuk dari salah seorang tokoh Quraisy, bersama Utbah, Abu Jahal, dan lain-lain yang menentang Muhammad sebagai Rasul.
Dalam pandangan Umar, hadirnya ajaran baru yang dibawa Muhammad telah menimbulkan perpecahan serius di kalangan bangsa Quraisy, di mana sejak awal, Umar sangat mendambakan keutuhan dan kejayaan bangsa Quraisy atas bangsa-bangsa lainnya. Inilah yang kemudian menguatkan niatnya untuk menghalangi penyebaran ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi, bahkan Umar berniat akan membunuh Nabi.
Umar Peluk Islam
Lantas, terlaksanakah niat Umar tersebut? Jelas tidak. Umar dan Al Hakam (Abu Jahal) adalah dua nama yang sering disebut-sebut dalam doa Nabi agar Allah menjadikannya sebagai pendukung ajaran Islam. Saat itu, Islam memang membutuhkan dukungan tokoh-tokoh Quraisy yang cukup kuat untuk dapat membela para penganutnya yang kebanyakan kaum lemah dari siksaan para pembesar Quraisy.
Puncaknya, adalah ketika Allah membolehkan Nabi untuk berdakwah secara terbuka, hingga mendapatkan aksi kekerasan yang sangat terang-terangan pula, dari anak buah Utbah, Abu Jahal dan kawan-kawan. Saat itu, Nabi bahkan sempat terluka hingga berdarah karena dianiaya oleh Abu Jahal.
Seorang perempuan menyampaikan berita penganiayaan Abu Jahal atas Muhammad kepada Hamzah, paman Nabi yang hampir seusia. Hamzah tidak terima, salah seorang kerabatnya, dari keluarga Bani Hasyim itu dianiaya oleh Abu Jahal, dari kaum Bani Makzhum. Oleh Hamzah, dipukullah Abu Jahal dengan menggunakan busur panah hingga berdarah. Selanjutnya, Hamzah langsung menyatakan keislamannya di hadapan Nabi, dan memproklamirkan keislamannya di hadapan banyak orang, termasuk di depan pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal.
Dua hari kemudian, Umar menyatakan keislamannya pula langsung dihadapan Nabi, usai sebuah kisah dramatis, di mana Umar sangat marah saat baru mengetahui bahwa adik perempuan dan suaminya justru telah memeluk ajaran yang sangat dibencinya itu. Bacaan ayat al-Qur’an yang dilakukan oleh sang ipar, ternyata mampu meruntuhkan kerasnya hati Umar, yang sebelumnya telah berniat hendak menghabisi nyawa Nabi.
Sama dengan Hamzah, maka Umar pun memproklamirkan diri memeluk Islam secara terang-terangan di hadapan banyak orang, termasuk pada pemuka Quraisy. Tentu saja, tidak ada satu orang pun yang berani menghalangi Umar, apalagi yang berniat untuk menganiayanya, sebagaimana dilakukan atas pengikut Nabi yang kebanyakan dari kaum lemah.
Perubahan sikap seorang tokoh yang berwatak sangat keras, dari penentang utama menjadi pembela ajaran Islam yang gigih menjadi daya pikat tersendiri dari keseluruhan isi cerita dalam film tersebut. Diceritakan, kemudian Umar ikut berhijrah ke Madinah, ikut berperang di Badar dan di Uhud.
Umar Tolak Jabatan
Umar pun ikut bersama rombongan Nabi jelang Fathu Mekkah, di mana Umar sempat mempertanyakan sikap Nabi yang bersedia menandatangani perjanjian dengan kaum Quraisy yang dianggapnya merugikan kaum muslimin karena pelaksanaan haji yang tertunda pada tahun berikutnya. Cerita Umar terus berlanjut, hingga Nabi wafat. Saat itu, peran Umar kian jelas dan penting saat berinsiatif untuk mengumpulkan para sahabat Nabi untuk memilih pemimpin baru.
Abu Bakar terpilih sebagai Khalifatur Rasulullah, pengganti kepemimpinan Rasul, yang dimulai dengan baiat-nya Umar kepada beliau, kemudian diikuti oleh para sahabat Nabi yang lainnya. Sebenarnya, Abu Bakar sendiri cenderung memilih Umar sebagai Khalifah pertama, mengingat kecerdasan, keluasan wawasan dan jiwa kepemimpinan yang kuat yang melekat pada diri Umar. Secara tegas, Umar menolaknya, dengan mengatakan Abu Bakar-lah, sosok yang sangat diterima oleh para sahabat, serta sahabat yang paling dekat dengan Nabi.
Saat Abu Bakar mulai sakit-sakitan, beliau kembali memilih Umar sebagai penggantinya. Bahkan, di kala masih sakit, Abu Bakar sendiri yang langsung mengumumkan kepada masyarakat ramai, mengenai Umar sebagai Khalifah berikutnya. Mengapa hal ini dilakukan oleh Abu Bakar? Karena, beliau memastikan Umar akan menolak jabatan Khalifah tersebut. Umar selalu menganggap dirinya terlalu keras dan kasar di masa lalunya, serta merasa “belakangan” memeluk Islam.
Pembelajaran Historis
Apa kesan yang saya dapatkan usai menyaksikan film Omar? Menurut saya, inilah, salah satu cara pembelajaran yang terbaik untuk mengenal Islam. Yaitu, pembelajaran historis tentang nilai-nilai dan semangat ajaran Islam yang bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman.
Melalui tayangan film ini, kita tidak semata disuguhi oleh sebuah rangkaian cerita, latar cerita dan kemampuan akting para pemainnya. Namun, kita pun disuguhi oleh sebuah pengenalan dan pemahaman mengenai pesan-pesan ajaran Islam dalam konteks historis, terutama di saat awal-awal kelahiran Islam.
Pembelajaran mengenai pesan-pesan ajaran Islam secara historis, tentu akan lebih memberikan pemahaman yang jauh lebih utuh, lebih hidup, dan lebih mengena bila dibandingkan dengan pemahaman semata berdasarkan teks ayat-ayat dalam al-Qur’an atau riwayat dalam al-Hadits.
Melalui film tersebut, maka ajaran agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW akan jauh lebih mudah dipahami, dan jauh dari kesan menggurui, sesuatu yang saat ini banyak dihindari. Saksikanlah, misalnya, bagaimana Umar yang merasa sangat berat saat menyandang jabatan Khalifah atas suatu negeri baru di antara negara besar, Romawi dan Persia.
Bahkan, di malam pertama beliau menjabat sebagai Khalifah, sang istri melihat Umar yang tidak dapat tertidur sepanjang malam. Di malam itu, bukannya Umar berbahagia dengan jabatan tinggi yang disandangnya, namun ia justru habiskan malam dengan hanya merenung, berdoa, dan menangis di tengah ketakutannya atas amanah yang diembannya.
Sebuah pembelajaran yang sangat penting dan terus relevan, termasuk untuk saat ini. Yakni, bagaimana sebuah jabatan kepemimpinan itu seharusnya disikapi, dipandang, dan diemban sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, kepada umatnya, juga kepada Tuhan.
Umar, adalah sosok pemimpin yang sangat layak dijadikan contoh, bagaimana kecerdasan, jiwa kepemimpinan, ketawaduan, melekat pada diri sosok yang sangat keras dan tegas memegang amanah, namun sangat peduli dan kasih sayang pada umat yang dipimpinnya. Berkat kepemimpinan Umar, umat Islam yang baru lahir, telah berhasil meluaskan pengaruhnya hingga mengalahkan kekaisaran Persia, dan menguasai hingga Damaskus, salah satu pusat kekuasaan kerajaan Romawi.
Kritik Sosial
Masih banyak lagi nilai-nilai dan semangat ajaran Islam yang dapat kita dapatkan dari tayangan film Omar. Termasuk, antara lain adalah bagaimana sejatinya misi ajaran Islam itu dilahirkan. Tak lain, adalah respon dan kritik atas kondisi sosial, politik dan ekonomi yang terjadi saat itu yang dianggap telah banyak menyimpang, sehingga telah menimbulkan penindasan atas sesama umat manusia.
Ajaran mengenai keesaan Tuhan (Tauhid) langsung dikaitkan dengan kritik sosial yang timpang, dimana hubungan kemanusiaan di dasarkan atas eksploitasi ekonomi yang curang, superioritas manusia atas manusia lain berdasarkan garis keturunan dan kekayaan. Hingga, pemujaan pada sesuatu yang dianggap tuhan yang sebenarnya tak lain sebagai bentuk pelanggengan atas nilai ekonomis yang didapat, dan kedudukan sosial politik yang terus melekat pada diri kelompok tertentu yang menikmatinya.
Pemimpin Amanah, Tegas dan Adil
Fokus dari semua pesan dalam film Omar ini, tentu saja bagaimana sikap dan tindakan Umar saat menjabat sebagai Khalifah. Antara lain, bagaimana ia mendapati seorang keluarga yang mengalami kelaparan, karena tidak ada lagi tersedia bahan makanan. Lantas, Umar langsung mengambil sekarung gandum dari baitul mal, atau kas dan logistik negara, lalu lengsung memanggulnya sendiri untuk diberikan kepada seorang ibu dengan dua orang anak ang telah ditingal oleh ayahnya.
Tentu saja, masih banyak kisah teladan lain yang dapat diperoleh dari kisah Umar dalam film tersebut. Tentang kesederhanaan hidup sang Khlaifah, tentang sportifitas, kesediaan Umar untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan pada warganya sendiri. Tentang ketegasan atas para pejabat yang dipimpinnya untuk selalu berlaku amanah dan adil. Tentang jaminan perlindungan kemanan dan keadilan atas semua kelompok warga negara yang dipimpinnya, dan seterusnya.
Saya yakin, anda pun mempunyai kesan tersediri saat menyaksikan film tersebut. Apakah anda masih tertarik untuk menyaksikan lagi film yang baru diputar di empat negara, yaitu Mesir, Arab Saudi, Qatar dan Indonesia ini? Saksikan saja tayangan ulangnya di televisi swasta nasional Indonesia pada setiap Sabtu dan Minggu sore. Semoga bisa memberikan banyak manfaat. [] © Srie.

1 komentar: