Jumat, 07 September 2012

Indonesia Makin Sexy, MIST Geser BRIC


Oleh Srie
Setelah sukses memperkenalkan akronim BRIC (Brazil, Rusia, India, China, atau BRICS plus South Africa), sejak tahun 2001 lalu, Jim O’Neill, pimpinan Goldman Sachs Asset Management, sebuah perusahaan yang mengelola dana investasi global yang berkantor di New York, Amerika Serikat, kini  memperkenalkan akronim baru, yaitu MIST (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki).
MIST, adalah negara-negara yang tergolong pada empat pasar terbesar dalam Goldman Sachs N-11 (Next 11) Equity Fund. MIST menyumbang sekitar 73 persen dari PDB N-11  tahun lalu. Selain MIST, kelompok N-11 meliputi Bangladesh, Mesir, Nigeria, Pakistan, Filipina, Vietnam dan Iran. Untuk Iran, Goldman Sachs tidak menginvestasikan dananya ke negeri Persia tersebut, karena pasarnya tidak terbuka untuk investor asing.

Pada Februari 2011, Goldman Sach membuka investasi ke 10 negara (N-11 minus Iran), yang dianggap O’Neill sebagai pasar berkembang yang paling pesat untuk masa berikutnya.
“Kita lihat arus masuk yang stabil ke Dana N-11 setiap pekan. (Next 11) belum terpengaruh oleh kekecewaan (pasar) di AS, dan tentu saja, di pasar Eropa, dan semua kekecewaan di beberapa pasar BRIC,” ujar O’Neill dalam sebuah wawancara telepon (7/8), sebagaimana ditulis oleh Eric Martin, wartawan di Mexico City pada Bloomberg.
Disebutkan, bahwa dana investasi Goldman Sachs untuk negara-negara MIST naik 12 persen dalam setahun terakhir, yang berarti telah menggeser dana untuk BRIC, yang cuma naik sebesar 1,5 persen. Perekonomian negara-negara MIST tumbuh 2 kali lipat lebih besar dari 10 tahun lalu, dan melampaui perekonomian Jerman pada 2011.
Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Meksiko telah melampaui perekonomian terbesar di Amerika Latin, yaitu Brazil. Sementara itu, belanja domestik dan investasi Indonesia telah mendongkrak perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Indonesia tumbuh hingga 6,37% pada kuartal kedua tahun ini, sekaligus mengejutkan para ekonom yang sebelumnya telah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat.
Beli Saham Indonesia
Seorang broker di AS, Paul Christopher menyarankan investor untuk menjual saham di negara-negara BRIC pada paruh pertama tahun ini, lalu ia merekomendasikan untuk membeli saham di Indonesia.  Alasannya, pertumbuhan ekonomi terbesar ke-16 di dunia ini telah melampaui angka 6 persen, yang dinilainya kian sexy, kian menarik di mata para investor dunia.
"Anda telah melihat rotasi dalam kepemimpinan berdasarkan tingkat pertumbuhan ekonomi," kata Paul Christopher, ahli strategi yang berbasis di Wells Fargo Advisors, broker ketiga terbesar di AS,  dengan $ 1,2 triliun aset klien. 
Rencana pemerintah dalam membangun infrastruktur, seperti rel kereta api, bandara dan pelabuhan laut, pembangkit listrik, serta sarana air bersih, antara lain melalui dana APBN sebesar hampir Rp 200 triliun, dan dana BUMN, sekitar Rp 900 triliun dianggap dapat melawan perlambatan permintaan Eropa untuk komoditas ekspor.
Selain Indonesia, Christopher juga merekomendasikan untuk membeli saham di Korea Selatan, yang menurutnya akan mendapatkan keuntungan dari ekspor yang meningkat akibat pengeluaran domestik China yang naik.
Fitch Ratings dan Moody Investors Service telah menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade dalam delapan bulan terakhir. Fitch meningkatkan Indonesia  ke BBB pada bulan Desember, sedangkan Moody memberikan peringkat Baa3 pada bulan Januari.
MIST Masih Kalah
Meski begitu, dalam hal populasi dan PDB,  jelas MIST masih kalah jauh untuk mendekati BRIC. Total populasi negara-negara MIST kurang dari 500 juta jiwa, dibandingkan dengan sekitar 2,9 miliar jiwa di negara-negara BRIC. Sementara itu, total PDB MIST tahun lalu adalah   3.900 miliar dollar AS, atau kurang dari  sepertiga dari  total PDB BRIC, sebesar 13.500 dollar AS, atau 7.300 miliar dollar AS untuk PDB Cina saja. 
Hal lain, ekuitas dana investasi di negara-negara MIST dianggap belum kebal dari kekhawatiran atas perkembangan global. Para investor menambahkan dana 104 juta dollar AS pada Turki dan 123 juta dollar AS dana untuk Indonesia per 1 Agustus tahun ini. Sementara itu, pada tahun yang sama mereka pun menarik  1,33 milyar dollar AS dari Korea Selatan dan  115 juta dollar AS dari Meksiko.
Dalam pada itu, O’Neill memperkirakan, negara-negara BRIC akan tumbuh rata-rata sekitar 6,5 persen per tahun hingga tahun 2020, dibandingkan dengan 5,5 persen untuk kelompok-N 11. Inilah, alasan penting mengapa dia menolak hingga 3 kali atas permintaan para investor untuk memfokuskan dananya hanya pada MIST.
"Saya juga cukup sadar tidak akan tercatat dalam sejarah sebagai orang yang hanya terus-menerus menciptakan akronim." kilah O’Neill.
Masalah Politik
Sebuah catatan menarik, adalah terkait dengan masalah politik yang disampaikan oleh O’Neill. Dengan mencontoh India, ia mengatakan pelambatan ekonomi menjadi 5,3 persen di negara berpenduduk kedua terbesar di dunia itu terkait dengan masalah kepemimpinan politik. India, kata O’Neill, tidak terdapat kepemimpinan yang efektif, sehingga S & P memperingatkan akan menurunkan peringkat negara itu, kecuali hambatan pengambilan keputusan politik dapat diatasi.
Sebuah kejadian listrik padam secara masal telah menimpa 640 juta orang di India pada tanggal 31 Juli, atau sehari setelah pemadaman listrik yang menimpa 360 juta orang lainnya di tempat yang terpisah.
"India selalu sangat bangga dengan fakta,  adalah demokrasi terbesar di dunia, tetapi karena saya sering bercanda dengan mereka, demokrasi India begitu baik, (menandakan) bahwa hal  itu tidak bekerja." seloroh O’Neill.
Bagaimana dengan Indonesia? Semoga saja tidak terjadi di negeri ini. Kian banyaknya arus modal asing harus seiring dengan kian meningkatnya kesejahteraan rakyat. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar