Rabu, 19 September 2012

MGI: 2030, Ekonomi Indonesia Kalahkan Inggris dan Jerman




JAKARTA- McKinsey Global Institute (MGI) memperkirakan pada 2030 Indonesia berpotensi menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketujuh di dunia. 
Perusahaan konsultan manajemen global tersebut memprediksi, ekonomi Indonesia akan mengalahkan Jerman dan Inggris sebagaimana diulas dalam laporannya bertajuk The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential.Posisi Indonesia berada di bawah China, Amerika Serikat,India,Jepang, Brasil,dan Rusia. Direktur MGI Richard Dobbs mengatakan, jejak rekam ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sangat luar biasa,namun kurang mendapat apresiasi.

”Saat ini Indonesia merupakan negara ekonomi terbesar ke-16 di dunia dan diperkirakan akan terus berkembang,” kata Dobbs dalam laporannya. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi dengan volatilitas terendah dibandingkan negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dan BRIC (Brasil,Rusia,India,dan China). Chairman McKinsey Indonesia Raoul Oberman mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus diuntungkan dengan sejumlah tren yang kuat. 
”Indonesia terletak di jantung kawasan ekonomi paling dinamis di dunia,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta,kemarin. Dalam 15 tahun mendatang, kelas konsumen global diestimasikan tumbuh menjadi 1,8 miliar dengan mayoritas di Asia, sehingga akan meningkatkan permintaan akan sumber daya dan komoditas Indonesia.MGI melansir, Indonesia akan menambah 90 juta orang ke dalam kelas konsumen seiring dengan pertumbuhan populasi pesat dan urbanisasi yang berlanjut.
Kecuali China dan India, pertumbuhan kelas konsumen ini akan lebih tinggi dari negara mana pun di dunia, menjanjikan bagi pelaku bisnis dan investor luar akan berbagai peluang baru.“Tantangannya, Indonesia perlu mengelola kebutuhan akan permintaan yang terus meningkat,” ujar Raoul. Laporan tersebut mengungkapkan, kebutuhan energi Indonesia dapat meningkat tiga kali lipat dalam 20 tahun mendatang. Sementara, kebutuhan baja akan tumbuh 170% dalam periode yang sama.Pada 2030,kebutuhan air juga akan melebihi sumber jumlah pasokan sebesar lebih dari 20%.
”Indonesia berada di persimpangan kritis,” katanya. Raoul menambahkan, Indonesia perlu meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga 4,6% atau 60% lebih tinggi dari rata-rata produktivitas dalam satu dekade terakhir. Indonesia, kata dia, juga perlu mengatasi isu kesenjangan sosial dan mengelola kebutuhan yang melonjak dengan berkembangnya kelas konsumen agar dapat memenuhi target produk domestik bruto dalam jangka panjang.
MGI menyarankan, untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia perlu mendorong pertumbuhan dan produktivitas dalam empat area prioritas meliputi,transformasi jasa konsumen, mendorong produktivitas pertanian perikanan, membangun perekonomian dengan penggunaan sumber daya yang cerdas,serta berinvestasi dalam pengembangan keterampilan. Menurut Presiden Direktur McKinsey Indonesia Arief Budiman, sektor pertanian perlu mendapat perhatian penting.
“Dari empat area prioritas tersebut, pertanian sangat perlu mendapat perhatian karena arus urban akan mendorong peningkatan permintaan pangan, baik di dalam negeri maupun di dunia,” katanya. Jika berhasil, upaya ini bisa menciptakan peluang pasar sebesar USD1,8 triliun untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Di sisi lain,saat ini Indonesia masih termasuk dalam kategori efficiency driven economic meski berdasarkanlaporandariGlobal Competitiveness Report World Economic Forum 2012-2013, peringkat daya saingnya turun dari peringkat 46 ke peringkat 50.
Menteri PPN/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengungkapkan, efficiency driven menunjukkan perekonomian Indonesia didorong oleh efisiensi dari penggunaan berbagai faktor produksi. “Jadi, tingkatannya itu ada tiga.Stage 1 faktor driven, stage 2 efficiency driven, dan stage tertinggi adalah innovation driven yang umumnya ditempati negara maju,”kata dia usai jumpa pers di Gedung Bappenas, Jakarta,kemarin. 
Meski ada penurunan peringkat dibanding 2011-2012, Armida beralasan, nilai yang didapati Indonesia masih tetap sama yaitu 4.4. Hanya ada pergeseran di berbagai komponen. “Jadi kalau diakumulasikan nilai yang kita dapat 4.4, artinya relatif stabil. Kita turun peringkat karena ada negara lain yang lebih baik,” ujarnya. ● (SINDO). ichsan amin/chindya citra  


2 komentar:

  1. Wah kalo begitu HIDUP PETANI... engkaulah pahlawan sejati, engkaulah yang menghidupi seluruh manusia yang hidup di belahan bumi manapun, tanpamu tidak berarti seluruh harta, tidak ada petani berarti kiamat di depan mata.

    BalasHapus
  2. baguslah kalau begitu kalau perekonomian indonesia nanti kelak akan berkembang...amin

    BalasHapus