Minggu, 18 November 2012

Belajar Cerdas Finansial Dari Juragan Burjo


Oleh Srie


Ini catatan 5 tahun lalu tentang seseorang yang dianggap sukses. Sebut saja, Pak Ahmad namanya, pria paruh baya di salah satu kampung di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dia dikenal sebagai salah seorang juragan (bos) bubur kacang ijo (burjo) dan mie instan rebus di kota Jogjakarta.

Secara fisik, penampilannya biasa-biasa saja, suka pakai kaos oblong yang sudah lusuh, bercelana pendek dan berwajah layaknya seorang petani pada umumnya. Orangnya cukup pendiam, dan  terkesan agak pemalu saat suatu ketika pernah bertemu.
Mungkin, hanya bentuk fisik rumahnya yang dapat menunjukkan bahwa dia adalah seorang juragan. Rumah permanen berwarna putih yang kokoh berlantai dua, dengan genteng tebal berwarna coklat mengkilap, pagar teralis yang artistik, serta garasi mobil yang terlihat sering ditunggui oleh Kijang Innova berwarna merah metalik, begitu tampak mencolok di antara bangunan rumah milik para tetangga lainnya.
Dari para tetangganya, saya tahu bahwa Pak Ahmad hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 5 SD, alias tidak tamat SD. Ia kalah dari istrinya yang sempat mengantongi ijazah SD. Beruntung, atas ajakan istrinya, suatu waktu saya pernah berkunjung ke rumahnya.
Disela-sela obrolan, si ibu yang belum genap berusia 45 tahun itu, sempat juga bercerita mengenai masa lalunya, hingga sekarang dianggap sukses oleh para tetangganya.
“Hingga sepuluh tahun yang lalu, kami tinggal di sini, masih berupa rumah bilik atau gubug tua sisa peninggalan orang tua” ucapnya mengenang.
Cerita pun terus meluncur dari mulut si ibu yang memiliki tiga anak, dua putri dan satu putra ini. Katanya, saat awal menikah, ia hanya mengandalkan hidup dari hasil kerja suaminya sebagai pekerja di warung burjo milik tetangganya. Saya ajukan pertanyaan.
“Terus, bagaimana ceritanya Pak Ahmad dan ibu hingga bisa sukses seperti begini?”
 “Awalnya, bermula dari kebetulan. Kebetulan ada kios bubur kacang di daerah dekat UGM mau dijual oleh pemiliknya. Kebetulan pula Pak Ahmad memiliki sedikit tabungan, ditambah dari uang hasil gadai kalung saya pemberian dari ibu saya, almarhum” jelasnya polos.
“Bersyukur, masih bisa menabung” sela saya.
“Yah, alhamdulilah. Bisa menabung walau hanya sedikit tiap bulannya. Terpaksa, makan sehari-hari kami sering hanya dengan ikan asin saja. Namanya juga orang lagi susah” balas bu Ahmad.
Dari obrolan yang berlangsung 1 jam lebih itu, saya tahu bagaimana Pak Ahmad dan istrinya mengembangkan kekayaannya. Dimulai dari memiliki 1 kios bubur kacang ijo, kemudian bertambah menjadi 2, 3, hingga punya 6 kios di sekitar kampus-kampus di Jogjakarta.
Sejak itu, Pak Ahmad tidak lagi menunggui kios secara langsung, tapi telah diserahkan kepada karyawan yang direkrut dari kampugnya sendiri. Tugas dia hanya mengontrol dan menerima pemasukan uang hasil jualan dari karyawannya.  Dia telah berubah, dari karyawan biasa, kini telah menjadi juragan yang membawahi 15 orang anak buah.
Statusnya sebagai juragan, membuatnya lebih banyak waktu tinggal di kampung. Karena, urusan penerimaan setoran uang telah dialihkan kepada anaknya yang telah berkuliah di sana. Entah karena saat itu belum mengenal bank, atau karena takut uang  yang disimpan di lemari akan hilang, ia terdorong untuk menanamkan uangnya dalam bentuk  sawah, kebun dan balong (kolam ikan). Meskipun, dari segi gaya hidupnya, hampir tidak ada yang berubah, termasuk bagaimana ia berpakaian atau makan.
Saat itu, saya sempat bertanya, “memang kira-kira berapa pemasukan dari 6 kios bubur kacang ijo perbulan ?”. Katanya, “1 kios itu per hari dapat uang sekitar dua ratus ribuan. Kira-kira, sekitar itulah. Kadang lebih, kadang kurang”.
Lalu, si ibu yang berperan memegang uang suaminya itu menjelaskan lagi berdasarkan pengalamannya saat mengamati.  Katanya, untuk 1 kios yang buka 24 jam sehari, rata-rata ada sekitar 100 orang pembeli yang kebanyakan mahasiswa, seperti beli bubur kacang, mi instan rebus, gorengan, atau kopi panas.
Penasaran juga. Saat sudah pulang, saya coba hitung menggunakan kalkulator. Anggap saja, tiap orang cuma beli bubur kacang yang Rp 2.000 per porsi, maka dikalikan angka 100 orang, sudah dapat uang hasil penjualan minimal Rp 200.000,-.
Lalu, untuk sebulan di kali 30 hari : Rp 200.000,- x 30 = Rp.6.000.000,-, dikali lagi dengan 6 kios : Rp 6.000.000,- x 6 = Rp 36.000.000,- per bulan. Dari angka tersebut, dipotong 50 % uang modal, 25 % buat karyawan dan lain-lain, sisanya 25 % x Rp 36.000.000,- = 9.00.000,- penghasilan bersih per bulan.
“Wow ... angka yang cukup menggiurkan untuk penghasilan seseorang yang cuma berpendidikan kelas 5 SD dan tinggal di sebuah kampung” ucapku dalam hati.
Jelas, gaji seorang PNS yang lulusan sarjana S-1, kalah jauh dari Pak Ahmad. Apalagi, kalau ditambah penghasilan Pak Ahmad yang lainnya, seperti tanam padi, ternak ikan, kontrakan dan jual beli rumah. Meski tidak tahu persis mengenai berapa angkanya, kita dapat memastikan itulah sumber-sumber tambahan pendapatan baginya.
Sekolah = Bekerja?
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari cerita juragan burjo itu? Kemampuan seseorang untuk dapat berkembang seringkali tidak terkait dengan pendidikan yang pernah ia tempuh. Tidak ada jaminan, seseorang yang lebih tinggi pendidikannya akan lebih mampu meraih kesuksesan. Bahkan untuk kasus Pak Ahmad, seseorang yang tidak lulus SD malah mengalahkan banyak sarjana dalam mengembangkan kekayaan.
Dalam hal tertentu, justru lulusan SMA atau sarjana, bahkan tak sedikit yang masih dalam kesulitan. Mungkinkah, di sekolah tidak diajarkan bagaimana caranya seorang anak mengembangkan kekayaan? Atau bagaimana seorang anak dapat bertahan hidup dalam kondisi yang minim, kemudian mampu berubah dan mengembangkannya ke arah kehidupan yang lebih baik?
‘Sekolah hanya mengajarkan tentang ilmu dan teori yang tidak terkait langsung dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seorang anak untuk dapat bertahan dan berkembang dalam hidup” kata seorang pengusaha, temanku saat mahasiswa dulu di suatu waktu.
Ironisnya, di suatu daerah, kenyataan ini justru menjadi salah satu penyebab siswa dan orang tuanya tidak terlalu mengganggap penting untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Katanya, kenapa harus membuang banyak uang untuk bersekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya tetap sulit mencari kerja, dan penghasilannya belum tentu lebih tinggi dari mereka yang sekolah lulusan SD, atau SMP.
“Sekolah, hanya mengajarkan satu hal, yakni bagaimana seseorang dapat bertahan hidup dengan BEKERJA !” kata temanku lagi mengomentari.
“Maka, tak heran, bila orang tua kita dulu yang banyak buta huruf sekalipun, justru lebih mampu bertahan hidup, dan berkembang hidup lebih layak, dibandingkan dengan anak-anaknya yang cukup bersekolah, kemudian bekerja, jadi pegawai pemerintah, karyawan swasta atau menjadi buruh pabrik, imbuhnya.
Kecerdasan Finansial
Saya teringat buku Robert T. Kiyosaki yang pernah cukup terkenal, berjudul “Rich Dad, Poor Dad”. Meskipun masih dianggap cukup kontroversi, namun ada juga hal yang dapat dipetik. Salah satunya, yakni tentang beda orang yang akan menjadi kaya, dan akan menjadi miskin.
Menurut Kiyosaki, beda orang kaya dan miskin adalah terletak dalam perlakuannya terhadap uang. Orang kaya lebih fokus pada bagaimana mengembangkan aset (sebuah kekayaan yang dapat menghasilkan pendapatan baru), sedangkan orang miskin lebih suka menambah kewajiban, yang menambah pengeluaran baru, seperti gemar kredit atau berhutang untuk keperluan konsumtif.
Mungkinkah Pak Ahmad atau banyak lagi orang lainnya yang hanya berpendidikan rendah telah mampu mempraktekkan teori itu? Yaitu, bagaimana sebaiknya bertahan hidup dan mengubah nasib dengan mengembangkan kekayaan secara perlahan melalui cara hidup hemat, menabung, dan melakukan penambahan aset yang menghasilkan banyak pendapatan baru?
Saya yakin, Pak Ahmad tidak akan pernah tahu tentang “teori” Robert T. Kiyosaki itu, apalagi pernah membaca bukunya. Tapi, saya yakin bahwa Pak Ahmad memiliki kecerdasan finansial yang hebat dalam mengembangkan kekayaan. Sesuatu yang penting, namun justru tidak diajarkan di lembaga pendidikan formal?
Kita banyak belajar dari sang juragan. Bagaimana menurut pendapat anda? Salam persahabatan. *** [By Srie]



2 komentar:

  1. Betul juga, harus hemat dan displin mengelola keuangan

    BalasHapus
  2. Semakin terinspirasi untuk menjadi guru sejahtera!. thanks sharingnya.

    BalasHapus