Minggu, 25 November 2012

Hari Guru, PGRI Jual Paksa Kartu AS Telkomsel


Srie, - Ada saja kreatifitas pengurus PGRI di Kabupaten Kuningan Jawa Barat, khususnya di Kecamatan Kalimanggis. Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh pada hari Minggu, 25 Nopember 2012 ini, pengurus PGRI jualan kartu As milik perusahaan Telkomsel.
Entah, bagaimana latar belakangnya sehingga banyak guru yang akhirnya diwajibkan beli kartu perdana tersebut. Masalahnya, penjualan kartu ini terkesan maksa alias jual dedet, melalui cara pemotongan gaji guru yang akan jatuh pada tanggal 3 Desember 2012, pekan depan.

Untuk keperluan Hari Guru Nasional (HGN) ini, guru-guru dipotong Rp 20.000,- per guru, dengan rincian, (1) untuk dana kegiatan sebesar Rp 10.000,- dan (2) untuk pembelian kartu perdana As sebesar Rp 10.000,-.
Anehnya, meskipun guru sudah memiliki kartu handphone, namun tetap “dipaksa” untuk membeli kartu AS yang sudah langsung diaktifkan. Jelas, bagi guru, ini hampir tidak ada gunanya, karena guru-guru sudah memiliki nomor kartu yang sudah lama ada.
Jadi, apa maksudnya PGRI memaksakan guru untuk membeli kartu tersebut? Berapa rupiah yang diperoleh PGRI dengan cara jualan paksa, yang berdasarkan informasi telah bekerjasama dengan Kepala Sekolah?
Seorang pejabat di PGRI kalimanggis mengungkapkan, bahwa penjualan kartu AS tersebut merupakan instruksi dari PGRI Kabupaten Kuningan, yang telah berkomitmen untuk menggunakan kartu AS sebagai saran untuk berkomunikasi bagi para guru setempat.
“Memang benar, itu sudah komitmen di Kabupaten. Itu sudah instruksi dari kabupaten, agar kartu bisa dimanfaatkan untuk sarana komunikasi di komunitas guru,” ujar pimpinan PGRI tersebut.
Sudah saatnya, cara-cara pengumpulan dana yang tidak masuk akal seperti ini tidak digunakan lagi. Tentu, dari segi nilai rupiahnya tergolong kecil, akan tetapi akumulasi dari sekian banyak guru tentu saja lumayan besar untuk ukuran jumlah di sebuah daerah tertentu.
Terlebih lagi, cara yang digunakan jelas tidak cerdas, sama persis menggunakan cara-cara orde baru yang sudah usang. Yakni, menggunakan kekuasaan untuk memotong uang yang merupakan hak guru dari gaji yang diterimanya tiap bulan.
Di luar masalah itu, penggunaan dananya pun tidak transparan, tentu akan membuka celah yang tidak diinginkan. Sayang, jika hari guru yang dibanggakan tercoreng oleh cara-cara yang kurang edukatif seperti itu.
Semoga, tidak terulang lagi. ***[Srie]
Selamat Hari Guru, salam persahabatan.


2 komentar:

  1. Parah ya..itu pejabat pengen sakaratul mautnya napas dedet tah.. aamiiin!

    BalasHapus
  2. buat apa ya,,,, trus hasil jualanya buat apa ?????????

    BalasHapus