Sabtu, 10 November 2012

Ini, Pidato SBY yang Bikin Megawati Mesem-Mesem

Oleh Srie
Tiga hari, jelang peringatan hari Pahlawan pada tahun ini, ada yang berbeda dengan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDIP dan mantan presiden RI ke-5. Apa itu? Pada hari Rabu (7/11) lalu, Megawati mau memenuhi undangan presiden SBY dalam acara penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Soekarno dan Hatta. Megawati datang ke Istana Negara, didampingi oleh putrinya, Puan Maharani.

Dalam acara yang dihadiri pula oleh keluarga Bung Karno, seperti Guntur, Guruh dan Rahmawati itu, Megawati tampak begitu serius mau mendengarkan pidato SBY. Hal yang menarik,   Megawati yang mengenakan kebaya berwarna cokelat dan selendang kuning itu, terlihat mesem-mesem (tersenyum) selama SBY berpidato.
Kok, menarik. Mengapa? Karena, selama ini, kita disuguhi oleh sikap Megawati yang secara sindiran atau terang-terangan tidak suka terhadap SBY. Hubungan antara keduanya memburuk, terutama setelah SBY  mengundurkan diri dari Kabinet Mega-Hamzah, jelang Pemilu 2014 silam. Bahkan, sejak SBY menjadi presiden RI pada tahun 2004, tercatat hanya dua kali Megawati menginjakkan kakinya di Istana Negara.
Pertama, saat Megawati ikut menjamu kedatangan presiden AS, Barack Obama, sebagai tamu negara (9/11/2010). Kedua, saat Megawati menghadiri penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada almarhum ayahnya, proklamator, mantan presiden pertama RI, Sokarno (7/11/2012).
Selama ini, Megawati memang hampir tidak pernah memenuhi undang resmi dari presiden SBY untuk mengikuti acara-acara kenegaraan, termasuk acara peringatan HUT Kemerdekaan di Istana Negara. Megawati lebih suka memperingati hari kemerdekaan tersebut di kantor DPP PDIP, di daerah Lenteng Agung.
Kita mencatat, Megawati hanya sekali pernah menghadiri acara kenegaraan, yaitu di gedung DPR, saat memperingati hari kelahiran Pancasila, pada 1 Juni 2011. Saat itu, banyak media yang menyorot secara jelas masih adanya kekakuan hubungan antara SBY dan Megawati.
Bahkan, kamera TV sempat pula mengabadikan bagaimana Megawati secara sadar dan enggan menyambut uluran jabat tangan SBY. Publik kemudian menyayangkan sikap Megawati pada saat itu, sebagai sikap yang dianggap kurang dewasa, dan tidak memberikan contoh yang baik bagi bangsa.
Berbeda halnya, saat tiga hari yang lalu itu. Senyum Megawati merekah? Ya. Mungkin, karena dalam pidatonya, Presiden SBY memuji habis-habisan Soekarno, Presiden RI pertama, dan ayah Megawati. Wartawan menyebutnya sebagai pujian setinggi langit dari SBY terhadap Soekarno.
Mengawali pidatonya, SBY memberi penghormatan khusus dengan menyapa Megawati lebih dulu. "Ibu Megawati Soekarnoputri yang saya hormati dan keluarga Bung Karno dan Bung Hatta yang saya cintai," tutur SBY.
Selanjutnya, SBY mengatakan, Soekarno adalah sang proklamator yang telah banyak berjasa bagi kemerdekaan Indonesia dan eksistensi RI di masyarakat internasional. Secara khusus, SBY memberikan pujian kepada Bung Karno dalam lima hal.
Pertama, pikiran dan pidato Bung Karno yang mengubah jalannya sejarah. Yaitu, Indonesia Menggugat, Desember 1929, Pidato 1 Juni 1945 tentang Pancasila, dan Pidato di depan Sidang Umum PBB, 30 September 1960 yang berjudul To Build the World Anew," puji SBY.
Kedua, adalah kepeloporan dan kepemimpinan Bung Karno saat mendirikan Gerakan Non-Blok, serta Gerakan dan Solidaritas Asia-Afrika. Ketiga, SBY memuji keberhasilan Bung Karno dalam membebaskan Papua dari tangan Belanda, melalui  Tri Komando Rakyat (Trikora).
"Keempat, idealisme dan komitmen Bung Karno yang amat kuat pada nasionalisme dan persatuan bangsa, kedaulatan negara, serta kemandirian kita sebagai bangsa yang merdeka," tambah SBY.
Dan kelima, Bung Karno juga dianggap berjasa dalam menggelorakan semangat membaca, berpikir dan menuntut ilmu yang dianggap sangat relevan untuk kondisi bangsa saat ini dan mendatang.
Terkait dengan Bung Hatta, SBY memuji jasa-jasanya dalam merintis kemerdekaan, idealisme dalam HAM, demokrasi serta koperasi sebagai pilar ekonomi nasional.
"Saudara-saudara, dengan semua hal yang melekat pada sosok kedua tokoh bangsa itu, beserta semua perjuangan dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, maka sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan negara atas jasa-jasanya yang luar biasa, pemerintah memutuskan menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Karno dan Bung Hatta," tandas SBY.
Di bagian akhir, SBY mengajak seluruh komponen bangsa untuk melupakan stigma negatif yang sempat disematkan rezim Orde Baru kepada Bung Karno. "Dengan gelar pahlawan nasional, pandangan itu harus dihapuskan dari benak seluruh warga Indonesia," tegas SBY. Suatu pernyataan yang mungkin sangat mengena bagi Megawati, yang sering diucapkannya dalam berbagai kesempatan.
Usai pidato sekitar 15 menit itu, SBY mendapat sambutan luar biasa, dimana seluruh hadirin bertepuktangan. Bagaimana dengan Megawati? Meski tidak ikut tepuk tangan, Megawati yang berdiri tak jauh dari SBY, turut menyambutnya dengan mesem-mesem, yang merupakan senyuman khasnya selama ini.
Akhirnya, ketika Megawati bersedia hadir memenuhi undangan resmi dari Presiden SBY, apalagi kemudian ia terlihat mesem-mesem saat mendengarkan pidato SBY, mungkinkah hal ini merupakan pertanda positif bagi mereka? Entahlah.
Kita berharap, mesem-nya Megawati merupakan awal yang baik atas hubungan antara presiden dan mantan presiden RI, sekaligus dapat menjadi pembelajaran yang baik bagi bangsa. Apakah Anda yakin? Selamat Hari Pahlawan! Salam persahabatan. *** [By Srie]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar