Jumat, 16 November 2012

Kurikulum Baru, Kuncinya Tetap Pada Guru


Oleh Srie
Hampir dapat dipastikan, mulai tahun ajaran (pembelajaran) baru 2013/2014, Indonesia akan menerapkan kurikulum baru untuk seluruh sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA atau sederajat. Mendikbud, Mohammad Nuh menjelaskan, saat ini kurikulum baru sudah masuk pada persiapan tahap uji publik yang dimulai pada sekitar akhir bulan November tahun ini. 
Tahap uji publik adalah suatu tahapan dimana Kemendikbud akan menerima masukan, saran atau kritik dari berbagai elemen masyarakat, sesaat sebelum kurikulum baru dianggap telah rampung untuk disahkan, dan telah siap untuk digunakan. Tahap selanjutnya, adalah sosialisasi dan penataran para guru, serta pencetakan bahan ajar bagi siswa.

Secara normatif, rencana penerapan kurikulum baru merupakan hal yang wajar, sebagai sebuah keniscayaan dari kehendak perubahan zaman. Kurikulum baru juga bisa dianggap sebagai bagian dari tanggapan pemerintah atas harapan, masukan, kritik dan saran dari masyarakat yang menghendaki adanya penyesuaian atas kurikulum lama yang berlaku hingga saat ini.
Semangat kurikulum baru yang, - antara lain - hendak lebih menyederhanakan (jumlah) mata pelajaran, dianggap memenuhi harapan para orang tua siswa yang selama ini ikut merasakan anaknya menanggung beban pelajaran yang terlampau banyak atau berat.  Muatan kurikulum baru yang akan lebih berbasis pada pendidikan karakter, juga dianggap selaras dengan tuntutan masyarakat mengenai kian perlunya penguatan kembali pada pengembangan kepribadian siswa yang unggul dan luhur.
Guru Pegang Kunci
Pertanyaannya, apakah perubahan kurikulum akan benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan harapan masyarakat, ataukah akan terjebak kembali pada lagu lama yang mewakili ungkapan “Ganti Menteri, Ganti Kebijakan, dan Ganti Kurikulum”. Dalam hal ini, kurikulum baru akan lebih dirasakan oleh masyarakat sebagai sebuah aksi pencitraan atau bahkan sebagai sebuah proyek semata, dan jauh dari kesan sungguh-sungguh dalam upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan nasional secara keseluruhan.
Saat pertama kali mengetahui adanya rencana perubahan kurikulum, seorang teman sempat memberikan tanggapan. “Kurikulum baru, apa gue harus bilang wooow, gitu?” ucapnya setengah bercanda. Ia mengingatkan, agar jangan pernah melupakan masalah kinerja guru. Diperlukan waktu bagi guru untuk menyesuaikan dengan kurikulum baru, terutama bagi guru yang beralih mata pelajaran karena terkena penghapusan.
Perubahan kurikulum baru adalah penting. Akan tetapi, mempersiapkan guru agar lebih mampu mengoperasionalkan kehendak dari kurikulum baru adalah jauh lebih penting lagi. Mengapa? Karena, betapapun idealnya kurikulum baru telah berhasil disusun, pada akhirnya, kunci penentu tetaplah berada di tangan para guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan kurikulum.
Artinya, perubahan kurikulum bukanlah jaminan terjadinya peningkatan mutu pendidikan. Secara praktis di lapangan, kunci mutu pendidikan pada dasarnya berada di tangan guru, sebagai pelaksana kurikulum yang sehari-hari berinteraksi secara langsung dengan peserta didik. Kinerja guru, jelas akan sangat menentukan atas mutu pendidikan.
Belajar Jugyo Kenkyu
Indonesia telah ikut belajar, bagaimana pada tahun 1980-an Amerika Serikat (AS) pernah menyadari ketertinggalannya dari Jepang dalam hal mutu pendidikan. Disebutkannya, para ahli dan praktisi pendidikan di AS mengakui, perubahan kurikulum seringkali terjadi di negeri Barack Obama itu, namun masalahnya tidak selalu seiring dengan peningkatan mutu pendidikan yang diharapkan.
“Satu hal yang tidak ada di AS, tapi ada di Jepang, adalah adanya sistem yang menjamin terjadinya peningkatan mutu pembelajaran secara terus-menerus dan berkelanjutan,” demikian kesimpulan mereka setelah mempelajari sistem pembelajaran khas Jepang, yaitu Jugyo Kenkyu atau kemudian dipopulerkan dengan isilah Lesson Study.
Melalui Jugyo Kenkyu, mereka dapat mempelajari bagaimana sejumlah guru di Jepang secara bersama-sama melakukan kegiatan perencanaan dan observasi pada proses pembelajaran di suatu sekolah. Seorang guru yang sedang mengajar di suatu kelas, di observasi oleh beberapa guru lainnya yang satu mata pelajaran atau sejenis. Mereka bisa berasal dari sekolah yang sama atau dari sekolah yang berbeda. Tujuannya adalah mendapatkan berbagai masukan, termasuk dari siswa sendiri, mengenai cara mengajar agar dapat memotivasi para siswa untuk dapat belajar aktif secara mandiri.  
Hasil dari kegiatan observasi itu, kemudian dibahas dan dianalisa di antara mereka sendiri. Sejumlah masalah selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dikaji dari berbagai segi, termasuk berdasarkan pengalaman di antara para guru masing-masing. Mereka saling memberikan pendapat dan penilaian, sekaligus memberikan masukan atau solusi, bagaimana agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik.
Hasil dari kegiatan observasi, pengkajian dan pembahasan mengenai pembelajaran ini kemudian dijadikan sebagai masukan atau umpan balik bagi kegiatan pembelajaran berikutnya. Begitu seterusnya, mereka lakukan itu secara berkelanjutan. Sebuah sistem peningkatan mutu pembelajaran memang telah berlangsung secara terus-menerus, berangkat dari pengalaman para guru secara langsung.
Bersyukur, sejak tahun 1998, Indonesia pun mulai ikut belajar mengenai Jugyo Kenkyu atau Lesson Study kepada Jepang.  Saat ini, program Lesson Study masih terus disosialisasikan dan dikembangkan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Mengapa? Karena, Lesson Study telah diyakini sangat potensial untuk meningkatkan mutu pembelajaran, meningkatkan mutu profesionalitas pendidik atau guru, dan selanjutnya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. 
Kita berharap, semoga Kemendikbud tidak lupa, bahwa perubahan kurikulum pun harus segera disertai dengan peningkatan mutu pembelajaran yang terus-menerus dan  berkelanjutan. Salah satunya, adalah melalui pelaksanaan program Lesson Study yang efektif. Jadi, kita tunggu langkah-langkah berikutnya dari Kemendikbud.
Bagaimana dengan pendapat Anda? Salam persahabatan. *** [By Srie]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar