Senin, 05 November 2012

Lapor Pak Presiden: Dapat Grasi, Sang Napi Kumat Lagi!


Oleh Srie
Luar biasa! Meirika Franola, alias Ola, terpidana mati yang memperoleh grasi (menjadi terpidana seumur hidup), ternyata kumat lagi, dengan mendalangi penyelundupan sabu. Hal ini terungkap, menyusul pengakuan NA (40), seorang kurir narkoba yang tertangkap membawa sabu seberat 775 gram di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, awal bulan lalu (4/10).
Dalam pengakuannya kepada petugas, NA menyelundupkan barang terlarang tersebut atas suruhan Meirika Franola, terpidana mati yang grasinya ditandatangani oleh Presiden SBY pada tanggal 26 September 2011.
“NA ini dikendalikan oleh Ola (Franola), napi kasus narkoba, yang baru mendapatkan grasi belum lama ini,” kata Kepala Badan Narkotika Provinsi Jawa Barat Anang Pratanto, yang ditemui wartawan Suara Pembaruan di kantor BNN, Senin (5/11), seperti dikutip di sini.
Anang menambahkan, NA mengaku direkrut oleh pacarnya yang saat ini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara. Selanjutnya, sang pacar mengenalkan NA kepada Franola yang mendekam di Lapas Wanita Tangerang.
NA disuruh mengambil sabu di daerah Bangalore, India, dengan bekal uang Rp 7 juta yang diberikan oleh Franola. Dengan menumpang Silk Air, ia berangkat dari Surabaya ke New Delhi, transit di Singapura. Saat pulang, NA menaiki Air Asia dari Kuala Lumpur ke Bandung. Di Bandara, ia tertangkap membawa sabu yang di selipkan ke dalam tas punggungnya.
Lantas, apa kira-kira tanggapan Pak Presiden SBY? Hm.. Semoga beliau ikut geram juga, sama seperti kita, atau masyarakat pada umumnya. Ternyata, pemberian grasi presiden, tidak membuat sang napi berterima kasih, apalagi insyaf.
Sejak awal pemberian grasi atas para terpidana hukuman mati kasus narkoba telah banyak diprotes oleh berbagai pihak. Pimpinan MUI, Ketua Umum PB NU, dan pegiat anti narkoba sangat menyayangkan keluarnya grasi presiden tersebut yang dianggap tidak sejalan dengan semangat pemberantasan kejahatan narkoba di Indonesia.
Bahkan, saat berbicara di Indonesia Lawyer Club (ILC), Ketua GRANAT, Henri Yosodiningrat, sempat mencurigai adanya kongkalikong antara pengacara hitam dengan lingkaran istana atas keluarnya grasi atas terpidana mati kasus narkoba pada akhir-akhir ini. 
Ketua Mahkamah Agung (MA) sendiri, sebelumnya sudah memberi pertimbangan untuk menolak grasi yang dikeluarkan Presiden dengan alasan permohonan terdakwa tersebut tidak terdapat cukup alasan.
Untuk diingat, pada 12 januari 2000, Meirika Franola bersama Deni Setia Maharwan dan Rani Andriani, ditangkap polisi Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sesaat sebelum berangkat dengan pesawat Cathay Pasifik menuju London, Inggris. Saat itu, mereka tertangkap hendak menyelundupkan kokain dan heroin seberat 3,5 kilogram.
Setelah menjalani proses persidangan, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, pada 22 Agustus 2000, akhirnya menjatuhkan vonis mati pada Deni dan Franolla. Keputusan ini dikuatkan oleh oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banten dan MA.  Namun, pada 26 September 2011, Presiden SBY memberikan grasi pada Franolla menjadi hukuman seumur hidup. Sementara itu, Deni memperoleh grasi yang sama pada tanggal 25 Januari 2012.
Kini, setelah sang Napi mengabaikan grasi, apa yang sebaiknya dilakukan oleh sang Presiden, ya? Salam persahabatan. *** [By Srie]






1 komentar:

  1. Memang tak pantas tuh korban narkoba dapat grasi ! apa tak salah tuh pak presiden berikan grasi ?

    BalasHapus